Indonesia Miliki Peran Sentral, AIPA Ajak Generasi Muda Jadi Penentu

Suara Muhammadiyah

2 July 2026

131
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Secretary General AIPA, H. E. Dr. Chem Widhya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Generasi muda ASEAN didorong untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga berperan aktif sebagai kontributor dalam menentukan masa depan kawasan. Di tengah tantangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, hingga pesatnya perkembangan teknologi, kepemimpinan, pemikiran kritis, dan partisipasi kaum muda dinilai menjadi modal penting bagi keberlanjutan ASEAN.

Pesan tersebut disampaikan Secretary-General ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), H.E. Dr. Chem Widhya, dalam kegiatan 26th AIPA Roadshow: Parliamentary Diplomacy and Youth Leadership in ASEAN yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (29/6).

Menurut Chem Widhya, negara-negara ASEAN saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, transformasi teknologi, perubahan iklim, hingga isu keamanan yang dampaknya melampaui batas negara.

“Banyak tantangan saat ini tidak berhenti di batas negara. Apa yang terjadi di satu kawasan dapat memengaruhi negara lain, bahkan seluruh dunia. Karena itu, jawaban ASEAN bukanlah konfrontasi, melainkan dialog dan kerja sama. Selama hampir enam dekade, ASEAN telah menunjukkan bahwa negara-negara dengan sejarah, budaya, sistem politik, dan tingkat pembangunan yang berbeda dapat bekerja bersama demi menjaga perdamaian, stabilitas, serta kesejahteraan bersama,” ujar Chem Widhya.

Ia menjelaskan bahwa upaya membangun kerja sama kawasan tidak hanya dilakukan melalui diplomasi antarnegara oleh pemerintah, tetapi juga diperkuat melalui parliamentary diplomacy yang dijalankan parlemen negara-negara anggota melalui AIPA. Diplomasi parlemen berfungsi melengkapi diplomasi pemerintah dengan membuka ruang dialog, membangun kepercayaan, serta mencari solusi bersama atas berbagai persoalan regional.

Menurutnya, parlemen memiliki peran strategis dalam memastikan aspirasi masyarakat tetap menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan. Melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan representasi, parlemen dapat menjaga agar kebijakan publik tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat sekaligus memperkuat akuntabilitas pemerintahan di masing-masing negara ASEAN.

“Kerja sama regional tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Dibutuhkan partisipasi lembaga yang mewakili suara, aspirasi, dan kepentingan masyarakat. Melalui parliamentary diplomacy, parlemen dapat membangun kepercayaan, memperdalam pemahaman, serta mencari solusi bersama terhadap berbagai tantangan yang dihadapi kawasan,” katanya.

Selain memperkuat peran parlemen, AIPA juga memberikan perhatian besar terhadap keterlibatan generasi muda. Saat ini, ASEAN memiliki lebih dari 224 juta penduduk berusia muda yang menjadi modal strategis bagi masa depan kawasan.

Karena itu, Chem Widhya menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka harus menjadi aktor yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan kepemimpinan dalam menjawab berbagai tantangan regional.

“Kami tidak ingin generasi muda hanya menjadi penerima manfaat dari apa yang telah dibangun generasi sebelumnya. Kami ingin kalian menjadi kontributor aktif bagi kemajuan ASEAN mulai hari ini. Milikilah rasa ingin tahu, berpikir kritis, berintegritas, dan yang terpenting memiliki keberanian untuk menyampaikan aspirasi. Kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang menduduki jabatan publik, tetapi dimulai dari kemauan untuk berkontribusi kepada masyarakat,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Chem Widhya menekankan bahwa masa depan ASEAN tidak hanya dibentuk melalui forum-forum resmi, seperti pertemuan para pemimpin negara atau sidang parlemen, tetapi juga melalui ruang-ruang akademik. Menurutnya, universitas merupakan tempat lahirnya gagasan, dialog, dan inovasi yang akan menentukan arah pembangunan kawasan di masa depan.

“Kampus adalah ruang bagi generasi muda untuk bertukar gagasan, mengembangkan pemikiran kritis, dan merumuskan solusi atas berbagai persoalan kawasan. Dari sinilah calon-calon pemimpin ASEAN masa depan dibentuk,” pungkasnya. 

Peran Indonesia di ASEAN 

Indonesia dinilai memiliki tanggung jawab strategis untuk menjaga warisan perdamaian ASEAN di tengah meningkatnya dinamika geopolitik dan berbagai konflik yang masih terjadi di kawasan maupun dunia. Sebagai negara tempat lahirnya Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) sekaligus salah satu pendiri dan anggota terbesar ASEAN, Indonesia didorong untuk memastikan semangat dialog, kerja sama, dan penyelesaian damai sengketa tetap menjadi fondasi utama kawasan.

Menurut Chem Widhya, posisi Indonesia di ASEAN tidak hanya penting karena ukuran wilayah dan pengaruhnya di kawasan, tetapi juga karena memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya TAC, yang hingga kini menjadi salah satu landasan hubungan damai antarnegara di Asia Tenggara.

"TAC adalah warisan Indonesia karena ditandatangani di Indonesia. Sebagai negara anggota terbesar ASEAN, Indonesia memiliki tanggung jawab khusus untuk memastikan TAC tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap menjadi pedoman yang hidup bagi kawasan. Jika TAC hanya menjadi dokumen sejarah, maka ia tidak akan membawa perubahan. Karena itu, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus dijalankan," ujar Chem Widhya.

Ia menambahkan bahwa besarnya pengaruh Indonesia di kawasan juga membawa tanggung jawab untuk memastikan ASEAN tetap mengedepankan dialog sebagai jalan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan berpegang pada semangat yang melandasi pembentukan TAC, Indonesia diharapkan terus berkontribusi dalam memperkuat stabilitas kawasan serta menjaga kepercayaan antarnegara anggota.

"Saat ini kita menghadapi berbagai tantangan baru, sementara sistem internasional juga terus berubah. Karena itu, ASEAN harus tetap bersatu dan memperkuat kerja sama. Indonesia memiliki tanggung jawab khusus untuk menjaga agar TAC tetap menjadi living document, bukan sekadar dokumen sejarah, sehingga dapat terus menjadi pedoman dalam membangun kawasan yang damai, stabil, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan," tegasnya.

Menurut Chem Widhya, keberhasilan ASEAN menjaga stabilitas kawasan selama hampir enam dekade tidak terlepas dari komitmen negara-negara anggotanya untuk mengedepankan dialog dibandingkan konfrontasi. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan terus mengambil peran sebagai salah satu penggerak utama dalam menjaga semangat tersebut agar ASEAN tetap menjadi kawasan yang damai, stabil, dan mampu menghadapi berbagai dinamika global melalui kerja sama serta penghormatan terhadap prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama. (NF)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Tiga mahasiswa UM Bandung yang tergabung dalam “The Adam&r....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Band....

Suara Muhammadiyah

28 September 2024

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 55 mahasiswa dari Angkatan 7 dan 8 Program Studi Apoteker....

Suara Muhammadiyah

22 April 2025

Berita

Fokus pada Manajemen Sekolah/Madrasah dan AI JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Majelis Pend....

Suara Muhammadiyah

4 April 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mendorong pergurua....

Suara Muhammadiyah

4 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah