Inersia Jiwa dan Orbit Kehidupan

Publish

20 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
62

Inersia Jiwa dan Orbit Kehidupan; Membaca Manusia Modern melalui Bahasa Semesta

Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB PWA Jawa Timur 

Semesta bergerak dalam keteraturan yang menakjubkan. Planet-planet mengorbit matahari dalam lintasan yang presisi, galaksi berputar dalam harmoni kosmik, dan tata surya bertahan bukan karena kebetulan, melainkan karena adanya keseimbangan yang terus bekerja. Gravitasi menjaga planet agar tidak terlempar keluar, sementara momentum membuatnya tetap bergerak tanpa jatuh menuju pusatnya. Dari keseimbangan itulah lahir kesinambungan.

Dalam fisika, keadaan ini dijelaskan melalui hukum gerak Newton: dimana sebuah benda akan mempertahankan keadaannya, apakah ia akan tetap diam atau tetap bergerak selama tidak ada gaya yang mengubahnya. Prinsip ini disebut inersia. Pada orbit planet, berbagai gaya bekerja dalam keseimbangan sehingga semesta tetap bergerak secara stabil dan teratur. 

Namun hukum itu tidak hanya menarik untuk dipahami hanya pada benda-benda langit semata . Dalam banyak hal, kehidupan manusia pun tampaknya bergerak dalam pola yang serupa.
Secara pskologis, manusia memiliki kecenderungan mempertahankan keadaan hidupnya. Seseorabg yang terlalu lama dalam zona nyaman akan sulit bergerak menuju perubahana. Kebiasaan yang terus diulang membentuk pola otomatis dalam pikiran. Trauma membuat seseorang takut melangkah, sementara kegagalan yang terus menerus dapat melahirkan perasaan tidak berdaya, seolah usahapun tidak memiliki makna.  Dalam psikologi, keadaan ini dikenal sebagai learned helplessness, suatu kondisi ketika manusia berhenti mencoba karena terlalu lama merasa gagal.

Karena itulah perubahan sering terasa menyakitkan di awal. Bukan karena manusia tidak mampu berubah, melainkan karena pikiran dan emosi cenderung mempertahankan sesuatu yang sudah familiar, bahkan ketika keadaan itu seebnarnya melelahkan.

Bayangkan seseorang yang terjebak dalam pekerjaan yang tidak disukainya. Ia bertahan bukan karena bahagia, tetapi tidak bisa keluar karena takut  kehilangan stabilitas ekonomi. Hari demi hari dijalani dengan rutinitas yag sama, sementara di dalam dirinya tumbuh kelelahan yang sulit dijelaskan. Ia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri, tidak lagi memahami tujuan hidupnya dan perlahan megalami kelellahan eksistensial. 

Inilah salah satu bentuk orbit mekanis manusia modern.

Ia bangun di pagi hari, menjalani rutinitas yang sama, mengulang pola yang sama, memikirkan ketakutan yang sama, lalu kembali tidur dengan kehampaan yang sama. Tubuhnya terus bergerak, tetapi jiwanya berhenti bertumbuh. Hidup berjalan secara mekanis, seperti mesin produksi yang terus bekerja tanpa pernah benar-benar memahami mengapa ia harus terus bergerak.

Mungkin inilah salah satu wajah manusia modern saat ini,  aktif tetapi kosong, sibuk tetapi kehilangan makna.

Kita hidup pada zaman ketika waktu lebih sering dikejar daripada dihayati. Hari-hari dipenuhi target, angka, notifikasi, tuntutan, dan rutinitas yang berulang. Fisik bergerak tanpa henti, tetapi batin tertinggal jauh di belakangnya. Manusia modern berlari sangat cepat, tetapi sering kali tidak lagi tahu apa yang sebenarnya sedang dikejar.

Padahal semesta mengajarkan sesuatu yang sederhana, setiap gerak membutuhkan pusat orientasi. Planet tetap stabil karena memiliki matahari sebagai pusat orbitnya. Sungai terus mengalir karena mengetahui ke mana ia bermuara. Bahkan atom-atom bergerak dalam pola yang teratur. Semesta seolah memperlihatkan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar diam, tetapi juga tidak bergerak secara acak.

Demikian pula manusia. Kehidupan tanpa arah, tanpa nilai, dan tanpa makna membuat seseorang bergerak tanpa tujuan yang jelas. Persoalan terbesar manusia modern mungkin bukan kurangnya aktivitas, melainkan hilangnya pusat gravitasi dalam kehidupannya.

Dalam kehidupan, ada banyak gaya yang memengaruhi arah gerak manusia. Dalam hukum Newton, gaya adalah sesuatu yang dapat mengubah gerak benda. Dalam kehidupan manusia, lingkungan sosial, pengalaman, pendidikan, hubungan, dan peristiwa emosional bekerja seperti vektor yang memengaruhi arah psikologis seseorang.

Ada orang-orang yang menjadi gaya dorong dalam hidup kita, menjadi katalis yang mampu mendorong kita untuk tumbuh, menjadi lebih optimis, lebih bertanggung jawab, dan lebih berani menghadapi kehidupan. Namun ada pula lingkungan yang bekerja seperti gaya gesekan: hubungan toksik, penghinaan, trauma, ketakutan, dan kegagalan yang terus-menerus mengikis keberanian seseorang untuk melangkah.

Meski demikian, tidak semua gesekan bersifat buruk.

Dalam fisika, tanpa gesekan antara ban dan jalan, kendaraan tidak akan mampu bergerak. Secara analogis psikologis pun demikian. Beberapa tekanan justru membentuk daya tahan batin manusia. Kritik yang membangun, disiplin, evaluasi, kegagalan, dan rasa tidak nyaman sering kali menjadi ruang tempat karakter ditempa. Tanpa tantangan, manusia mungkin akan tetap hidup, tetapi tidak benar-benar bertumbuh. 

Sebab kehidupan sejatinya tidak dibentuk oleh satu peristiwa tunggal, melainkan oleh resultan dari berbagai gaya yang bekerja di dalamnya seperti halnya: keluarga, lingkungan, keyakinan, pengalaman hidup, pendidikan, bahkan keputusan-keputusan kecil yang terus diambil setiap hari. Semua itu perlahan membentuk arah gerak manusia.

Karena itulah dua orang yang mengalami luka yang sama bisa memiliki arah hidup yang berbeda.

Di tengah semua itu, semesta kembali mengajarkan sesuatu yang lebih dalam, segala sesuatu bergerak menuju pusatnya.

Dalam ilmu modern dikenal konsep fraktal, sebuah pola yang berulang pada berbagai skala kehidupan. Percabangan pohon menyerupai pembuluh darah manusia, aliran sungai menyerupai jaringan saraf, dan galaksi berputar dalam pola yang mengingatkan pada orbit mikroskopis. Manusia bukan entitas terpisah dari alam, tetapi bagian dari sistem besar yang bergerak dalam hukum keteraturan yang sama.

Dalam perspektif spiritual Islam, keteraturan ini tidak hanya dipahami sebagai fenomena fisika, tetapi juga simbol perjalanan manusia menuju Tuhan.

Makna tersebut dapat dilihat dalam ibadah tawaf. Manusia bergerak mengelilingi Ka’bah dalam putaran yang terus berulang, menghadirkan simbol bahwa hidup sejatinya memiliki pusat. Tawaf bukan sekadar ritual fisik, melainkan gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya, bergerak dalam kesadaran menuju Allah. Pusat orientasi hidup seorang muslim. 

Seluruh alam bergerak dalam ketentuan-Nya.  Sebagaimana planet tetap berada pada orbitnya karena memiliki pusat gravitasi, manusia pun membutuhkan pusat orientasi batin agar hidupnya tidak tercerai-berai oleh dunia.  Barangkali inilah tragedi terbesar manusia modern, ketika kita dituntut untuk bergerak sangat cepat, tetapi kehilangan arah untuk pulang.

Rutinitas berjalan tanpa jeda. Target demi target terus dikejar. Dunia terasa semakin bising. Namun di tengah keramaian itu, banyak manusia diam-diam kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Mereka bekerja, berbicara, tertawa, dan tampak baik-baik saja, tetapi di dalam dirinya tumbuh kehampaan yang sulit dijelaskan. Yang lelah bukan hanya tubuhnya, melainkan jiwanya. Sebab manusia tidak cukup hidup secara biologis, manusia juga membutuhkan makna untuk tetap bertahan secara batin.

Dalam fisika, ketika sebuah orbit kehilangan keseimbangannya, sistem dapat mengalami kekacauan. Planet dapat keluar dari lintasannya, saling bertabrakan, atau jatuh menuju pusat gravitasinya. Analogi yang sama dapat terjadi pada manusia ketika ia kehilangan arah hidupnya. Kehidupan perlahan kehilangan makna, harapan memudar, dan jiwa berhenti bertumbuh.

Karena itu, yang paling berbahaya dalam kehidupan sebenarnya bukanlah bergerak lambat, melainkan berhenti bertumbuh.

Pada akhirnya, menjadi manusia berarti terus belajar menjaga orbit kehidupan. Akan ada masa ketika kita lelah, melambat, bahkan kehilangan tenaga untuk berjalan. Akan ada gesekan berupa kegagalan, luka, ketakutan, dan kehilangan. Namun sebagaimana planet tetap bertahan dalam lintasannya di tengah gelapnya ruang angkasa, manusia pun perlu menjaga pusat hidupnya agar tidak tercerai-berai oleh dunia.

Sebagaimana semesta bergerak dalam orbit yang teratur karena memiliki pusat gravitasi, manusia pun membutuhkan pusat makna agar hidupnya tidak kehilangan arah.

Tanpa pusat itu, manusia terjebak rutinitas, bergerak secara mekanis, kehilangan hubungan dengan dirinya, dan akhirnya mengalami kehampaan eksistensial. 

Namun kehidupan tidak hanya dibentuk kenyamanan. Gesekan, kegagalan, dan tekanan justru menjadi bagian penting dalam pertumbuhan manusia. Dan pada akhirnya, manusia yang mampu bertahan bukanlah yang bergerak paling cepat, melainkan yang tetap memiliki arah batin yang jelas. Dalam perspektif spiritual Islam pusat itu adalah Tuhan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muhammadiyahku Berikhtiar Selamatkan Semesta Oleh: Amalia Irfani 18 November 2023 menjadi momen is....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Wawasan

  Mudik: Menoleransi atau Melawan Tradisi Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Mu....

Suara Muhammadiyah

14 April 2024

Wawasan

Fatwa Personal dan Retaknya Persatuan Umat Penulis: M. Saifudin, Lc., Pimpinan Pesantren Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

11 February 2026

Wawasan

Gaji Bangkai: Ketika Bekerja Dicampuri Ghibah Oleh: Deri Adlis, SHI, Mubhaligh Muhammadiyah Kepulau....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Wawasan

Anak Saleh (1) Oleh: Mohammad Fakhrudin Ada tiga hal yang berpahala mengalir terus meskipun pelaku....

Suara Muhammadiyah

26 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah