Internalisasi Nilai-Nilai Islam Berkemajuan dan Perluasan Kontribusi Global Jalan Muhammadiyah Menuju Muktamar ke-49
Oleh: Sudarta Salman, S.E., M.M., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Setiap muktamar bukan sekadar pertemuan besar pengurus persyarikatan. Ia adalah momen perenungan, peneguhan arah, dan penentuan langkah strategis Muhammadiyah untuk lima tahun ke depan. Muktamar ke-49 yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara pada tahun 2027 ini hadir di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat — ketidakpastian global, krisis iklim, kesenjangan sosial, kemajuan teknologi yang menantang nilai kemanusiaan, serta pergeseran cara umat memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Di sinilah pentingnya tema yang kami usulkan: "Internalisasi Nilai-Nilai Islam Berkemajuan bagi Pengurus Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah, serta Kontribusi Muhammadiyah di Kawasan Global." Tema ini bukan sekadar kalimat indah, melainkan jawaban mendasar atas tantangan zaman dan panggilan luhur persyarikatan, yang seluruhnya bersumber dari Al-Qur'an, As-Sunnah, serta pemikiran para pendiri dan pemimpin Muhammadiyah.
Islam Berkemajuan bukanlah istilah semata, ia adalah roh yang sejak awal ditiupkan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Islam yang membebaskan, yang mendorong umat untuk berpikir, berilmu, bekerja, dan menjadi pelopor kemaslahatan. Muhammadiyah menegaskan: "Bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah" sebagai prinsip utama gerakan . Allah SWT berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menjadi landasan bahwa dakwah dan pengamalan Islam harus dibangun di atas pemahaman yang mendalam, bukan sekadar pengulangan tanpa makna. KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa pendidikan dan pengamalan agama tidak boleh hanya di tingkat pemahaman semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan keimanan dan amal saleh. Beliau menafsirkan Surat Al-Ma'un sebagai dasar kerja sosial Muhammadiyah bahwa ibadah yang benar harus melahirkan perhatian nyata terhadap anak yatim, orang miskin, dan masyarakat yang lemah .
Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin luasnya jangkauan persyarikatan, ada kekhawatiran yang muncul: apakah nilai-nilai dasar ini masih hidup di setiap pengurus, di setiap lembaga, di setiap amal usaha? Ataukah ia hanya menjadi tulisan di atas kertas, di lencana, dan di dinding masjid? Banyak hal bisa berjalan secara prosedural rapat terlaksana, program berjalan, laporan selesai — tetapi jika roh Islam Berkemajuan tidak dihayati, maka semua itu hanya aktivitas tanpa makna.
Internalisasi berarti nilai itu meresap ke dalam hati, tercermin dalam sikap, dan terwujud dalam tindakan. Allah SWT berfirman:
"Dan ketahuilah, bahwa Allah masukkan ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir..." (QS. Ali Imran: 151) dan sebaliknya, nilai-nilai kebaikan harus masuk ke dalam hati sebelum terwujud dalam perbuatan.
Bagi pengurus, ini berarti melayani bukan berkuasa; mengelola amanah bukan mencari keuntungan pribadi; bersikap terbuka, toleran, dan progresif tanpa kehilangan prinsip. KH. Ahmad Dahlan menanamkan nilai keteladanan, kemandirian, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial sebagai karakter yang harus dimiliki setiap kader. Beliau berkata: "Amal yang tidak bermanfaat, ia bukan amal Muhammadiyah." menegaskan bahwa nilai keimanan harus melahirkan karya yang solutif bagi permasalahan umat.
Bagi amal usaha baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun sosial nilai ini menjadi tolok ukur: apakah lembaga ini hanya beroperasi secara bisnis dan administratif, atau benar-benar menjadi perwujudan dakwah Islam yang memajukan umat dan bangsa? Tanpa internalisasi yang mendalam, persyarikatan berisiko kehilangan jati dirinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Risalah Islam Berkemajuan: "Tauhid menghadirkan keikhlasan dalam beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar, dan membuang jauh-jauh kesombongan serta penggunaan segala cara untuk mengejar kekuasaan dan kekayaan."
Muktamar ke-49 harus menjadi momen kebangkitan kembali, mengembalikan pengurus dan amal usaha ke akar nilainya, sehingga setiap langkah Muhammadiyah selalu berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta selalu berorientasi pada kemaslahatan yang nyata dan berkemajuan.
Kontribusi Muhammadiyah di Kawasan Global
Muhammadiyah bukan milik satu daerah, satu pulau, atau satu bangsa. Dengan lebih dari 110 tahun perjalanan, gerakan ini telah tumbuh menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan luas dan pengalaman panjang dalam pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan bantuan kemanusiaan. Saatnya pandangan kita meluas — tidak hanya berhenti di batas negara, tetapi menyadari bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah. Hal ini sejalan dengan misi utama Rasulullah SAW, sebagaimana difirmankan Allah SWT:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107)
Istilah 'alamin' dalam ayat ini mencakup seluruh makhluk, tanpa membedakan bangsa, ras, agama, maupun wilayah . Ini berarti tanggung jawab dakwah dan pengabdian Muhammadiyah pada hakikatnya tidak terbatas pada batas negara, melainkan universal menjadi berkah bagi seluruh alam.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., secara konsisten mengajak persyarikatan untuk memperluas kiprahnya ke tingkat global. Beliau menegaskan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah bukan berarti meninggalkan akar kebangsaan, melainkan menghadirkan wajah Islam Berkemajuan dan moderat di panggung dunia. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah telah mencatatkan berbagai capaian global: menjadi organisasi pertama di Indonesia yang mendapatkan verifikasi Emergency Medical Team (EMT) dari WHO ; mendirikan Universiti Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australia College, dan Markaz Dakwah di Kairo; serta bergabung dengan Muslim Council of Britain sebagai satu-satunya organisasi Islam asal Indonesia . Haedar Nashir menegaskan: "Itulah wujud dakwah Islam rahmatan lil-'alamin di dunia nyata, bukan retorika dan kata-kata."
Dunia hari ini menghadapi masalah bersama: kemiskinan, krisis iklim, bencana alam, ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan, serta konflik berkepanjangan. Sebagai gerakan Islam yang rahmatan lil 'alamin, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk turut serta menyumbang pemikiran, tenaga, dan pengalaman bagi penyelesaian masalah tersebut di tingkat global. Kontribusi ini tidak berarti campur tangan dalam politik negara lain, melainkan berbagi nilai-nilai kedamaian, toleransi, kerja sosial, pendidikan inklusif, dan penguatan masyarakat sipil, nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah di Indonesia.
Muktamar ke-49 adalah waktu yang tepat untuk menyusun strategi konkret: bagaimana Muhammadiyah dapat memperkuat kerja sama dengan organisasi serupa di negara lain, mengirimkan pengalaman dan bantuan kemanusiaan saat dibutuhkan, mengembangkan program pendidikan dan kesehatan yang dapat diadopsi secara luas, serta menyuarakan Islam yang damai, moderat, dan berkemajuan di tengah percaturan dunia. Dengan demikian, keberadaan Muhammadiyah tidak hanya bermanfaat bagi rakyat Indonesia, tetapi juga menjadi berkah bagi umat manusia di manapun berada sesuai janji Allah SWT: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar..." (QS. Ali Imran: 110).
Kekuatan dari Dalam untuk Mengabdi ke Luar
Kedua bagian tema ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan — bagaikan dua sisi mata uang. Internalisasi nilai adalah fondasi: tanpa kekuatan nilai dari dalam, kontribusi ke luar tidak akan tulus, tidak akan konsisten, dan tidak akan membawa perubahan yang mendasar. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya pada tubuh manusia ada sepotong daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hati pengurus dan amal usaha tidak tertanam nilai-nilai Islam Berkemajuan, maka segala aktivitas luar hanyalah kemegahan permukaan.
Sebaliknya, jika nilai hanya diam dan tidak diwujudkan dalam pengabdian yang seluas-luasnya, maka internalisasi itu belum sempurna. Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa keimanan yang benar pasti melahirkan amal yang nyata, yang bermanfaat seluas-luasnya. KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan teologi, tetapi mendirikan sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial — karena beliau memahami bahwa pengamalan Islam yang sejati adalah yang mengangkat derajat umat. Haedar Nashir juga mengingatkan: "Menguasai dunia itu bahkan wajib sebagai khalifah di muka bumi" bukan untuk berkuasa, melainkan untuk memakmurkan dan menebarkan manfaat seluas-luasnya.
Prinsip ta'awun 'ala al-birri wa at-taqwa, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (QS. Al-Maidah: 2) tidak mengenal batas negara. Kemanusiaan adalah satu keluarga besar, dan bencana, kemiskinan, kebodohan tidak mengenal perbatasan. Maka, ketika Muhammadiyah memperkuat internalitas nilai di dalam, sekaligus membuka diri untuk berkontribusi secara global, ia sedang mewujudkan apa yang menjadi inti ajaran Islam: menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Muktamar ke-49 adalah panggung penentuan nasib persyarikatan untuk masa depan. Di tangan para pengurus yang hadir akan ditetapkan arah Muhammadiyah di tengah dunia yang terus berubah. Dengan tema yang kami usulkan, kami berharap Muktamar ke-49 tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga melahirkan tekad bersama: untuk semakin menghayati nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam setiap sikap dan langkah, serta semakin memperluas pengabdian hingga ke kancah global menjadi gerakan yang tidak saja besar jumlahnya, tetapi besar manfaatnya bagi bangsa dan seluruh alam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah Muhammadiyah dalam menjaga kesucian niat, keteguhan prinsip, dan keluasan pengabdian.
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208) Amin ya Rabbal 'alamin. (MP)

