Islam Berkemajuan sebagai Pilar Moderasi Beragama di Indonesia
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Indonesia kerap dipuji sebagai laboratorium besar keberagaman dunia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan etnis, bahasa, dan tradisi, serta mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Negeri ini menghadirkan satu pertanyaan klasik sekaligus strategis yaitu bagaimana agama, khususnya Islam, dikelola agar menjadi kekuatan pemersatu, bukan sumber konflik? Dalam konteks ini, gagasan Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah menjadi sangat relevan sebagai salah satu pilar penting moderasi beragama di Indonesia.
Tulisan ini berupaya menelaah secara analitis dan kritis bagaimana Islam Berkemajuan tidak hanya menjadi jargon ideologis, tetapi juga memiliki daya transformasi sosial yang nyata dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Di tengah tantangan radikalisme, konservatisme sempit, hingga sekularisme ekstrem, Islam Berkemajuan menawarkan jalan tengah yang berakar pada nilai-nilai Islam sekaligus terbuka terhadap kemajuan zaman.
Konsep Islam Berkemajuan tidak lahir dalam ruang kosong. Konsep ini memiliki akar historis yang kuat dalam tradisi pembaruan (tajdid) Islam yang telah dirintis oleh para ulama dan pemikir sejak abad ke-19. Di Indonesia, gagasan ini menemukan momentumnya melalui gerakan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang sejak awal abad ke-20 telah menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan rasional dan kontekstual.
Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan agama dalam arti ritual, tetapi juga mempraktikkan Islam sebagai kekuatan sosial. Ia mendirikan sekolah modern, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial sebagai bentuk konkret dari dakwah. Inilah cikal bakal Islam Berkemajuan, yaitu Islam yang tidak berhenti pada teks, tetapi bergerak dalam praksis sosial yang membebaskan dan memberdayakan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah merumuskan Islam Berkemajuan sebagai paradigma yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan kemodernan. Islam tidak diposisikan sebagai entitas yang berseberangan dengan kemajuan, melainkan sebagai sumber inspirasi bagi kemajuan itu sendiri.
Moderasi beragama dalam beberapa tahun terakhir menjadi agenda penting dalam kebijakan publik Indonesia. Pemerintah melalui berbagai program mendorong sikap beragama yang toleran, inklusif, dan tidak ekstrem. Namun, sering kali moderasi beragama berhenti pada level slogan tanpa basis teologis dan praksis yang kuat.
Di sinilah Islam Berkemajuan menawarkan sesuatu yang lebih substansial. Moderasi dalam perspektif Islam Berkemajuan bukan sekadar posisi “tengah” secara politis, tetapi merupakan hasil dari pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam yang menekankan keseimbangan (tawazun), keadilan (‘adl), dan kemaslahatan (maslahah).
Islam Berkemajuan menolak dua kutub ekstrem. Pertama, konservatisme rigid yang menutup diri terhadap perubahan. Kedua, liberalisme tanpa batas yang mengabaikan nilai-nilai dasar agama. Moderasi yang ditawarkan bukan kompromi kosong, tetapi sintesis kreatif antara teks dan konteks.
Terdapat lima pilar Islam Berkemajuan dalam Moderasi Beragama. Pertama, rasionalitas dan ijtihad. Salah satu ciri utama Islam Berkemajuan adalah penekanan pada rasionalitas. Dalam menghadapi persoalan kontemporer, Islam tidak cukup hanya dengan pendekatan tekstual, tetapi membutuhkan ijtihad yang kontekstual.
Rasionalitas di sini bukan berarti menyingkirkan wahyu, melainkan menjadikannya sebagai sumber inspirasi yang dipahami melalui akal yang sehat. Pendekatan ini penting dalam moderasi beragama, karena banyak konflik keagamaan muncul dari pemahaman literal yang sempit. Dengan membuka ruang ijtihad, Islam Berkemajuan mendorong dialog, bukan dogma.
Kedua, inklusivitas dan toleransi. Islam Berkemajuan memandang keberagaman sebagai sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, sikap inklusif menjadi keniscayaan. Toleransi tidak dipahami sebagai sekadar “membiarkan”, tetapi sebagai pengakuan aktif terhadap hak orang lain untuk berbeda.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pendekatan ini sangat penting. Islam Berkemajuan tidak hanya berbicara tentang hubungan antarumat Islam, tetapi juga tentang relasi dengan pemeluk agama lain dalam kerangka kebangsaan.
Ketiga, keadilan sosial. Moderasi beragama tidak akan bermakna jika tidak diiringi dengan keadilan sosial. Islam Berkemajuan menempatkan isu-isu seperti kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan sebagai bagian dari agenda keagamaan. Hal ini menjadi kritik terhadap pendekatan moderasi yang terlalu fokus pada aspek ideologis, tetapi mengabaikan realitas sosial. Padahal, ketidakadilan sering menjadi akar dari radikalisme.
Keempat, kemajuan ilmu dan peradaban. Islam Berkemajuan menolak dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan. Justru, kemajuan ilmu dipandang sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian, umat Islam didorong untuk aktif dalam pengembangan sains, teknologi, dan budaya. Hal ini penting untuk membangun moderasi beragama yang tidak anti-modernitas. Sebaliknya, Islam Berkemajuan menjadikan kemajuan sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Meskipun memiliki konsep yang kuat, implementasi Islam Berkemajuan tidak tanpa tantangan. Setidaknya ada beberapa persoalan yang perlu dicermati secara kritis. Pertama, fragmentasi otoritas keagamaan. Di era digital, otoritas keagamaan tidak lagi terpusat. Siapa pun bisa menjadi “ustaz” melalui media sosial. Hal ini membuka peluang bagi penyebaran paham keagamaan yang tidak moderat. Islam Berkemajuan harus mampu hadir di ruang digital dengan narasi yang kuat dan menarik. Jika tidak, ruang tersebut akan diisi oleh kelompok-kelompok yang lebih vokal meskipun tidak representatif.
Kedua, polarisasi politik. Politik identitas masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Agama sering digunakan sebagai alat mobilisasi politik yang justru merusak semangat moderasi. Dalam konteks ini, Islam Berkemajuan harus menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, sekaligus tetap berkontribusi dalam kehidupan publik. Independensi menjadi kunci agar tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek.
Ketiga, kesenjangan sosial-ekonomi. Ketimpangan ekonomi yang tinggi dapat memicu radikalisme. Ketika masyarakat merasa tidak mendapatkan keadilan, mereka lebih mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem. Islam Berkemajuan harus memperkuat peran sosialnya dalam mengatasi persoalan ini, misalnya melalui pengelolaan zakat, wakaf, dan filantropi secara profesional.
Sebagai pengusung utama konsep ini, Muhammadiyah telah menunjukkan bagaimana Islam Berkemajuan dapat diimplementasikan secara nyata. Dengan ribuan sekolah, rumah sakit, dan universitas, Muhammadiyah telah menjadi salah satu aktor penting dalam pembangunan sosial di Indonesia.
Lebih dari itu, Muhammadiyah juga aktif dalam isu-isu global seperti perdamaian, lingkungan, dan kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa Islam Berkemajuan tidak bersifat lokal semata, tetapi memiliki visi universal. Namun demikian, tantangan internal juga tidak bisa diabaikan. Muhammadiyah perlu terus melakukan pembaruan agar tidak terjebak dalam rutinitas organisasi. Spirit tajdid harus tetap hidup agar Islam Berkemajuan tidak menjadi slogan kosong.
Moderasi beragama tidak cukup dengan pendekatan administratif atau seremonial. Dibutuhkan paradigma yang kuat dan praksis yang konsisten. Islam Berkemajuan menawarkan keduanya yaitu kerangka teologis yang kokoh dan pengalaman praksis yang panjang.
Ke depan, ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan. Pertama, penguatan pendidikan. Kurikulum pendidikan Islam perlu mengintegrasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan agar generasi muda memiliki pemahaman yang moderat sejak dini.
Kedua, digitalisasi dakwah. Narasi Islam Berkemajuan harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang kreatif dan berbasis data.
Ketiga, kolaborasi antarlembaga. Moderasi beragama bukan monopoli satu organisasi. Diperlukan kerja sama antara ormas, pemerintah, dan masyarakat sipil.
Keempat, penguatan ekonomi umat. Kemandirian ekonomi menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas sosial dan mencegah radikalisme.
Dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi model moderasi beragama dunia. Namun, peluang ini hanya bisa diwujudkan jika ada paradigma yang kuat dan konsisten.
Islam Berkemajuan menawarkan visi tersebut, yaitu Islam yang berakar pada nilai-nilai ilahiah, tetapi sekaligus responsif terhadap tantangan zaman. Islam Berkemajuan bukan sekadar konsep, tetapi gerakan yang hidup dalam praktik sosial.
Pada akhirnya, moderasi beragama bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk mencapai masyarakat yang adil, damai, dan berkemajuan. Dalam perjalanan itu, Islam Berkemajuan dapat menjadi salah satu kompas utama untuk menunjukkan arah, menjaga keseimbangan, dan memastikan bahwa agama tetap menjadi rahmat bagi semesta alam.

