Islam dan Spirit Kewirausahaan untuk Kemajuan Bangsa
Oleh: Dr. Muhammad Zakiy, S.E.I., M.Sc, Dosen Ekonomi Syariah UMY
Perkembangan dunia bisnis saat ini melesat begitu cepat yang ditandai dengan teknologi informasi yang merubah praktek-praktek berbisnis. Namun kondisi ini tidak selalu lurus dengan nilai-nilai peradaban yang diharapkan para akademisi yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Di tengah euforia pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, dan ekspansi pasar, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu praktik bisnis yang semakin semrawut, meninggalkan etika, dan menjauh dari nilai-nilai Islam. Manipulasi, eksploitasi, ketidakadilan upah, hingga orientasi keuntungan semata tanpa keberpihakan pada kemaslahatan menjadi potret yang kian sering kita jumpai. Salah satu contohnya eksploitasi alam besar-besaran yang mengakibatkan bencana terjadi di beberapa wilayah Indonesia sebagai indikator praktek bisnis yang tidak beretika, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Padahal dalam Islam, bisnis bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah sosial. Kejujuran (ṣidq), amanah, keadilan (‘adl), dan tanggung jawab sosial adalah fondasi utama yang harus dipengang oleh para pebisnis. Ketika nilai-nilai ini tergerus, bisnis kehilangan ruhnya yang menjadikan awal mula ketimpangan dalam bisnis terjadi. Disatu sisi mungkin menghasilkan keuntungan material yang besar, tetapi gagal membangun keberkahan dan ekosistem yang Islami.
Di sinilah lembaga pendidikan memegang peran strategis. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu dan keterampilan teknis, tetapi harus menjadi ruang pembentukan literasi etik dan spiritual. Masyarakat perlu diedukasi bahwa menjalankan bisnis sesuai ajaran Islam bukanlah pilihan alternatif, melainkan keniscayaan jika ingin membangun peradaban ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Literasi ini tidak cukup dilakukan melalui ceramah normatif. Ia harus dihadirkan dalam kurikulum, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga ekosistem kampus yang mendorong praktik kewirausahaan berbasis nilai. Kampus harus melahirkan generasi pebisnis yang memahami teknologi, menguasai manajemen modern, sekaligus kokoh dalam prinsip syariah.
Karena itu, dibutuhkan program studi yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi umum, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai Islam untuk kemaslahatan umat. Integrasi ini bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa sekarang dan masa depan. Dunia usaha memerlukan alternatif model bisnis yang berorientasi keberlanjutan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
Kita bisa belajar dari sejarah awal berdirinya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kampus ini tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari spirit perjuangan. Dengan keterbatasan fasilitas dan sumber daya pada saat itu, para pendirinya memiliki integritas, visi, dan karakter pejuang yang kuat. Hasilnya, dalam perjalanan 45 tahun, UMY tumbuh menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang diperhitungkan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejalan dengan kontribusi alumninya yang banyak berkiprah di berbagai bidang, baik dalam level nasional maupun internasional.
Spirit inilah yang harus dihidupkan kembali oleh UMY yang memiliki integritas, keberanian mengambil peran, dan komitmen pada nilai. Slogan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah” bukan sekadar pesan K.H Ahmad Dahlan yang sering digaungkan, tetapi panggilan moral bagi seluruh civitas dan kader, termasuk para pebisnis Muhammadiyah. Bisnis harus menjadi instrumen dakwah dan pemberdayaan, bukan sekadar akumulasi kapital.
Pada Malam Refleksi Milad ke-45 tahun ini, UMY mengangkat tema “Islam dan Spirit Kewirausahaan untuk Kemajuan Bangsa.” Tema tersebut bukan hanya refleksi, tetapi harus menjadi agenda aksi. Dalam malam refleksi, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa kemiskinan dapat mendekatkan pada kekufuran, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (khairunnas anfa’uhum linnas). Pesan ini relevan: membangun kewirausahaan Muslim berarti membangun kemandirian ekonomi umat dan mencegah ketergantungan struktural yang melemahkan martabat.
Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan UMY untuk mewujudkan hal tersebut adalah pendirian Program Studi Manajemen Bisnis Syariah di UMY. Program studi ini bukan sekadar penambahan nomenklatur akademik, melainkan investasi peradaban. Prodi ini akan menjadi laboratorium lahirnya entrepreneur Muslim yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan Umat. Mereka tidak hanya mengejar profit, tetapi juga keberkahan dan manfaat social masyarakat yang lebih luas.
Dengan menciptakan ekosistem kewirausahaan berbasis Islam, UMY dapat menjadi pelopor dalam menjawab problem sosial-ekonomi di tengah masyarakat, seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Kampus bukan hanya pencetak ijazah, tetapi pencetak Solusi bagi masyarakat.
Di usia ke-45 ini, semoga UMY semakin kokoh sebagai mercusuar ilmu dan nilai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, memperluas manfaat, dan menjadikan setiap langkahnya sebagai bagian dari ikhtiyar untuk membangun bangsa yang berkeadilan dan bermartabat. Aamiin.

