Islam Hadir Membawa Kemudahan, Bukan Kesulitan

Publish

14 July 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
863
Gita Danu Pranata, SE., MM., CRB., CRA., CRP

Gita Danu Pranata, SE., MM., CRB., CRA., CRP

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Prinsip kemudahan (taisir) dalam menjalani ibadah menjadi pokok bahasan dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4, pada Ahad (13/7).

Kajian ini menghadirkan Gita Danu Pranata, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY sekaligus Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Gita menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa kemudahan, bukan kesulitan. “Seringkali kita terjebak dalam praktik ibadah yang kaku, padahal Islam hadir membawa kemudahan, bukan kesulitan,” ungkapnya.

Ia mengutip dua ayat Al-Qur’an sebagai landasan prinsip ini: "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha" (QS. Al-Baqarah: 286) dan "Yuridu bikumul yusra wala yuridu bikumul ‘usra" (QS. Al-Baqarah: 185). “Allah tidak membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya, serta menghendaki kemudahan bagi mereka,” jelasnya.

Kajian ini disampaikan sebagai pembekalan khusus bagi calon jamaah haji dan umrah, namun juga relevan bagi umat Islam secara umum. Berdasarkan pengalamannya mendampingi jamaah haji, Gita menekankan pentingnya pemahaman terhadap fiqih taisir agar ibadah tidak menjadi beban secara fisik maupun psikis.

“Contohnya, saat salat dalam perjalanan atau saat boarding pesawat, tidak perlu memaksakan diri. Islam memberi ruang untuk menjamak salat, menyesuaikan arah kiblat, hingga memilih waktu terbaik,” paparnya.

Ia juga menyoroti bahwa kebanyakan umat hanya belajar praktik ibadah dalam kondisi normal, sementara dalam situasi darurat atau khusus terdapat banyak keringanan yang belum dipahami. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan pemahaman fiqih praktis yang dinamis.

Tidak hanya dalam aspek salat, prinsip taisir juga berlaku dalam zakat, infak, dan sedekah. “Taisir bukan berarti memberi ala kadarnya. Kalau mampunya sejuta, jangan malah kasih seratus ribu dan menganggap itu ikhlas. Ikhlas itu sesuai kemampuan, bukan seminimal mungkin,” tegasnya.

Melalui kajian ini, Gita berharap masyarakat Muslim dapat memandang ibadah sebagai bentuk penghambaan yang penuh kelapangan hati, bukan tekanan yang membebani diri. (Anggi/Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Muhammadiyah Bertransformasi Menjadi 'Social Enterprise' Raksasa di Mata Gen Z dan Milenial YOGYAKA....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar Tasyakuran Mila....

Suara Muhammadiyah

5 June 2026

Berita

SUKAMARA, Suara Muhammadiyah - Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, LAZISMU Sukamara bersinergi den....

Suara Muhammadiyah

25 May 2026

Berita

Model dalam Pemberdayaan Perempuan Judul               : Pengelo....

Suara Muhammadiyah

20 July 2024

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat Universitas Muhammadiyah M....

Suara Muhammadiyah

17 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah