Judol Kian Menggurita, Orang Tua, Sekolah, dan Negara Harus Bergerak Bersama Memberantasnya

Suara Muhammadiyah

3 August 2026

146
Prof Dr Dadang Kahmad, MSi

Prof Dr Dadang Kahmad, MSi

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kehidupan saat ini niscaya sarat dengan kejutan-kejutan yang membuat terbelalak. Ambil sampel; judi online (judol), misalnya. “Ini merupalan satu hal yang perlu kita prihatinkan,” kata Dadang Kahmad.

Kenapa begitu? Judol saat ini telah masif menjalar di ruang kehidupan. “Ini merupakan satu yang susah kita berantas,” beber Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu. Faktor penguat di sini karena dunia serba online dan digital, tidak lagi bersifat fisikal.

“Sehingga segala sesuatu informasi atau pun transaksi apa pun juga kita bisa digital dengan hal-hal yang seperti itu. Ada hal poisitif, dan yang negatif,” tuturnya, Sabtu (1/8) di TvMu dalam Catatan Akhir Pekan (CAP).

Sejak saat itu, dunia terjadi transformasi luar biasa. Terutama anak-anak Gen-Z dan Gen-Alpa, persentuhannya langsung ke digital, tidak lagi fisikal, dan itu amat melekat pada generasi sekarang. “Sekarang mereka tinggal cepat saja, instan,” celetuknya.

Demikian halnya masalah judol. Pangkalnya ingin mengais keuntungan dengan cepat dan menerabas segala cara. “Tidak mempertimbangkan bagaimana efek negatif atau positif dari segala sesuatu itu,” sebutnya.

Kenapa sampai seperti itu? Dadang menilai, ini berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Bahkan, menurutnya, di negara-negara lain, judol tidak begitu masif. “Indonesia jadi objek judol se-Asia Tenggara,” bongkarnya. Bahkan, mencakup operatornya pun juga dari Indonesia.

Amat Naif

“Jadi anak-anak Indonesia diiming-iming kerja di luar negeri dibawa ke Kamboja atau Myanmar terus ke Thailand atau dibawa ke Filipina. Merekalah yang mengoperasikan tawaran-tawaran judol,” bebernya.

Bagi Dadang, orang Indonesia sampai tergiur hal demikian amat naif. Tidak bisa membedakan baik-buruk, benar-salah, dan pantas-tidak pantas.

“Kata Nabi, orang cerdas itu orang bisa membedakan baik dan yang buruk (furqan),” tekannya. Dengan tidak adanya furqan itulah, hal-hal subversif dilakukan secara serampangan.

“Orang itu terdorong oleh emosi saja. Ingin menguasai uang sebanyak-banyaknya dengan cara yang sangat pintas,” ujarnya. Yang demikian itu dilakukan tidak hanya kaum terpelajar, orang-orang dibawahnya pun juga begitu.

“Orang Indonesia tidak menyadari semua lapisan, mau kaya miskin, sama. Apakah terpelajar, tidak terpelajar, sama,” ungkapnya. Yang paling menggodot hati, di dunia pendidikan, fenomena ini pun juga telah merasuk di dalamnya.

“Banyak guru-guru sampai 30% yang terlibat judol dan pinjol. Muridnya pun ada yang terlibat. Ini menjadi perhatian kita. Kita sangat prihatinlah,” terangnya.

Di sinilah relevansi furqan itu. Dengan diberikan titipan kecerdasan dari Tuhan, seyogyanya dipergunakan sebagaimana semestinya.

“Orang yang sudah punya kecerdasan, bisa membedakan itulah bergeraklah bagaimana menyadarkan masyarakat supaya mereka tidak terlibat pada judol maupun pinjol,” tegasnya.

Peran Nyata 

Lebih fundamental lagi, peran orang tua amatlah substansial. Terutama dalam hal ihwal mencegah anak tersedot masuk dalam pusaran judol. “Orang tua harus berwibawa kepada anak. Sejak awal harus mengkondisikan,” jelasnya.

Lebih kentaranya lagi, penggunaan gagdet yang tiada pagar pembatasanya sema sekali. “Jangan sampai los begitu saja,” ajak Dadang. Sebab, itu akar tunjangnya anak-anak mengakses situs-situs judol. “Itu bisa melahirkan anak punya sifat agresif,” ucapnya.

Jauh daripada itu, peran sekolah juga amat penting. Sekolah harus menegaskan batas penggunaan gadget. “Harus bijaksana. Sehari 1 jam cukup umapanya,” menyebut yang lain, perlu ada edukasi komprehensif di situ.

“Memberikan literasi digital dan literasi keuangan agar anak mampu membedakan aktivitas yang manfaat dan yang merusak,” jelas Dadang.

Pada saat yang sama, organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah, arus terjun ke akar rumput memperkuat dakwah dan pendidikan karakter di masyarakat. Diusulkan Dadang, membentuk satuan tugas di Muhammadiyah untuk mendesain sedemikian rupa, sehingga warga Muhammadiyah terhindar dari hal-hal subversif itu.

Dan, pemerintah dan para penegak hukum harus terus memberantas jaringan judol dan pinjol. “Bagaimana mereka mengawasi dan menindak hukum secara tegas,” tuturnya.

Lebih pentingnya, perlu menciptakan lingkungan yang sehat dengan menyediakan kegiatan positif dan produktif. “Ini perlu perhatian. Jangan sampai ini terus belarut. Kalau berlarut begini, negara bisa bangkrut, masyarakat sengsara,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BALIKPAPAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abaas menyebut, Peris....

Suara Muhammadiyah

8 June 2025

Berita

OKU TIMUR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah OKU Timur (PC IMM OKU ....

Suara Muhammadiyah

15 October 2024

Berita

PERLIS, Suara Muhammadiyah - Bertempat di perkarangan asrama UMAM, mayoritas mahasiswa baru UMAM men....

Suara Muhammadiyah

12 April 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah — Warga Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman bersiap menyambut gelaran ....

Suara Muhammadiyah

14 May 2026

Berita

Teguhkan Tauhid, Bangun Masyarakat Berkemajuan JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam balutan suasana ....

Suara Muhammadiyah

13 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah