YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Forum Keluarga Alumni (Fokal) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki posisi strategis dalam perjalanan kaderisasi dan pengembangan Menurut Irwan Akib, posisi Fokal IMM berada di tengah-tengah, sehingga memiliki peran penting dalam menjembatani antargenerasi.
“Bagaimana mengkomunikasikan kepentingannya adik-adik IMM ke Muhammadiyah dan juga mengkomunikasikan kepentingan Muhammadiyah kepada adik-adik IMM,” tuturnya saat pengukuhan pengurus Fokal IMM DIY 2026-2031 di SM Tower Malioboro, Senin (24/8).
Kata Irwan, persoalan yang dihadapi kader IMM hari ini agak berbeda dengan tempo dulu. “Adik-adik kita sekarang ini tidak berproses yang panjang,” bebernya, mencontohkan studi kasus di perguruan tinggi. “Baru masuk kampus tiba-tiba menjadi dekan,” katanya.
Baginya, menjalani proses dari bawah itu menjadi amat penting. Di situlah sarat dengan pengalaman dan pengajaran yang menjadi modal dalam menapaki perjalanan organisasi berikutnya.
“Kalau tidak berproses, itu menjadi masalah di kemudian hari. Sehingga pembinaan IMM di kampus itu saya kira juga memang menjadi penting dilaksanakannya,” tekannya.

Jika tidak melewati proses dari bawah, perlahan tapi pasti, kader IMM tidak akan merasakan getir-pahit suka dan dukanya tantangan menjalani kehidupan di organisasi. “Tidak ada tantangannya menjadi manja mereka,” tegasnya.
Di sinilah relevansi IMM hadir, lebih-lebih di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. “Keberadaan IMM, khususnya di PTMA ini tetap eksis. Namun, kemudian tidak menjadikan adik-adik kita menjadi menjadi manja,” ujar Irwan.
Karena itu, kader IMM perlu diberikan tantangan dan ruang untuk berproses. Menurutnya, tantangan tersebut penting sebagai sarana melatih kemandirian, ketangguhan, sekaligus kemampuan kader dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Penting juga adik-adik tantangan supaya mereka bergerak. Kalau mereka tidak ada tantangan, mereka menjadi menjadi manja, menjadi generasi yang tidak mampu memberikan sesuatu ke depan,” tekannya. (Cris)

