Kader Nasyiatul Aisyiyah Harus Berilmu agar Tak Terjebak dalam Kedangkalan Berpikir

Suara Muhammadiyah

7 August 2026

236
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah untuk terus belajar dan mengeksplorasi diri di tengah kompleksitas kehidupan masa kini. 

"Agar tidak terbawa arus," katanya, Jumat (7/8) saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Menurut Haedar, hal itu menjadi sangat penting. Kenapa? Tentu untuk mewujudkan sebagaimana pengusungan tema Muktamar ke-15; "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan."

"Kader Aisyiyah, kader Nasyiatul Aisyiyah lebih-lebih, kalau ingin perempuan muda berkemajuan harus berilmu," tegas Haedar.

Supaya apa? "Menjadi orang dan kelompok yang tinggi derajatnya," demikian menukil Qs al-Mujadilah ayat 11.

Menjadi berilmu amatlah substansial. Bukan soal tinggi derajat semata. Tapi, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyingkap, orang yang punya kekayaan ilmu niscaya punya sisi distingsi dalam kehidupan sehari-hari.

"Dengan ilmu, kita mencerahkan diri kita, mencerahkan orang lain, mencerdaskan orang lain, mencerdaskan kita," terangnya.

Tidak berlebihan dikatakan demikian. Ilmu tidak stagnan dan mandeg. Justru, bermekaran dengan hal-hal baru dan aktual, selaras dengan perkembangan zaman.

"Apalagi, di era media sosial sekarang," ucapnya. Di samping sisi positifnya, sebut Haedar, jika tidak arif memanfaatkan dan mengaplikasikannya, yang terjadi kemudian mengalami kedangkalan dalam berilmu. Kenapa begitu?

"Seolah-olah kita tahu, tetapi sebenarnya kita sesat jalan dalam berpikir," tekan Haedar, yang jika tidak selektif secara saksama, juntrungannya membuat manusia bodoh karena terninabobokan di dalamnya--dengan tidak terselimuti pikiran oleh semaian ilmu pengetahuan.

"Di tengah kita merasa pintar karena mengetahui banyak hal, sesuatu yang tahu hoaks diposting juga. Disebarkan seluas-luasnya, lalu menjadi sikap bersama. Itu yang saya sebut sebagai proses pembodohan diri," tegasnya.

Lebih-lebih lagi, kader Nasyiatul Aisyiyah berpikiran tajdid. Berpokok pangkal pada Risalah Perempuan Berkemajuan, bentuknya berpikir dinamis, kreatif, kritis, dan berorientasi pada pembaharuan.

"Jadikan Nasyiatul Aisyiyah arena belajar untuk kita menjadi orang yang terus berilmu dan berpikir pembaruan dalam berbagai aspek kehidupan," ajak Haedar.

Yang demikian itu tetap berpatokan pada ajaran Islam yang luhur. "Supaya tidak salah dan kaprah, lalu jadi salah-kaprah. Mau maksud pembaruan, yang terjadi pemorak-porandakan," bebernya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – LAZISMU DIY kembali membuka penerimaan Beasiswa Sang Surya ta....

Suara Muhammadiyah

24 July 2024

Berita

DEPOK, Suara Muhammadiyah - Program Kado Ramadhan menjadi wujud kepedulian sosial Lazismu Kota Depok....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Perayaan Milad ke 107 Aisyiyah Sumatera Utara  yang digelar di audi....

Suara Muhammadiyah

10 June 2024

Berita

BEKASI, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengumumkan awal bulan Syawal jatuh pada Se....

Suara Muhammadiyah

30 March 2025

Berita

JEPARA, Suara Muhammadiyah - Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (....

Suara Muhammadiyah

18 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah