Kartini, Nyai Walidah dan Spirit Perempuan Berdaya
Oleh: Ika Sofia Rizqiani, SPd.I, MSI, Dosen AIK UMMI & Sekretasis Umum Korps Mubalighat PWA Jawa Barat
Peringatan Hari Kartini setiap 21 April bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum refleksi untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap perjuangan perempuan Indonesia. Sosok Raden Ajeng Kartini telah membuka cakrawala baru bagi perempuan, terutama dalam hal pendidikan dan kesadaran akan hak-haknya. Kartini menyuarakan kegelisahan zamannya—tentang keterkungkungan perempuan dalam tradisi yang membatasi ruang geraknya—dan menghadirkan harapan akan masa depan perempuan yang lebih merdeka, cerdas, dan bermartabat.
Dalam perspektif Islam, gagasan tentang perempuan yang berdaya sejatinya bukanlah konsep baru. Al-Qur’an secara eksplisit memberikan perhatian besar terhadap perempuan, salah satunya melalui Surah An-Nisa. Penamaan surah ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam struktur kehidupan sosial, hukum, dan moral umat manusia. Islam memandang perempuan sebagai subjek yang memiliki hak, tanggung jawab, dan potensi yang setara dengan laki-laki dalam meraih kemuliaan di sisi Allah.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Surah An-Nisa menegaskan prinsip keadilan, perlindungan, dan penghormatan terhadap perempuan. Segala bentuk kekerasan, pelecehan, dan penindasan terhadap perempuan bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, jika masih terdapat praktik diskriminasi terhadap perempuan, maka hal tersebut bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari konstruksi sosial yang belum sepenuhnya berkeadilan.
Spirit emansipasi yang diperjuangkan Kartini menemukan relevansinya dalam gerakan Islam berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah. Dalam tubuh Muhammadiyah, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun peradaban. Hal ini terlihat dari lahirnya organisasi perempuan Aisyiyah, yang sejak awal berdirinya telah menjadi pelopor gerakan perempuan berbasis nilai-nilai Islam.
Tokoh penting dalam gerakan ini adalah Siti Walidah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Walidah. Beliau merupakan figur perempuan tangguh yang tidak hanya mendampingi perjuangan Ahmad Dahlan, tetapi juga menjadi pelopor kebangkitan perempuan Muslim di Indonesia. Nyai Walidah menyadari bahwa perempuan harus memiliki akses terhadap pendidikan agar mampu memahami ajaran agama secara utuh dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Melalui Aisyiyah, Nyai Walidah mendorong perempuan untuk keluar dari keterbatasan domestik tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Ia membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai pendidik generasi, penggerak sosial, dan agen perubahan. Dalam konteks ini, perempuan bukan hanya objek dari perubahan, tetapi subjek utama yang menentukan arah kemajuan umat.
Konsep perempuan berdaya dalam Islam berkemajuan mencakup tiga dimensi utama: spiritual, intelektual, dan sosial. Secara spiritual, perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Secara intelektual, perempuan didorong untuk menuntut ilmu setinggi mungkin, sebagaimana laki-laki. Sementara secara sosial, perempuan memiliki ruang untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kepemimpinan.
Namun demikian, realitas yang dihadapi perempuan saat ini masih menyisakan berbagai persoalan. Kasus kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, hingga diskriminasi dalam dunia kerja menunjukkan bahwa perjuangan Kartini belum sepenuhnya selesai. Perempuan masih kerap diposisikan sebagai pihak yang lemah dan rentan, padahal mereka memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun kesadaran kolektif bahwa perempuan adalah insan yang mulia dan berharga. Mereka tidak boleh dilecehkan, tidak boleh ditindas, dan tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh ketakwaannya. Prinsip ini harus menjadi landasan dalam membangun relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan.
Pendidikan menjadi kunci utama dalam mewujudkan perempuan yang tangguh dan berdaya. Perempuan yang berpendidikan tidak hanya mampu meningkatkan kualitas dirinya, tetapi juga berperan dalam menciptakan keluarga yang berkualitas. Sebagaimana ungkapan yang sering disampaikan, perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari tangan perempuanlah lahir generasi yang akan menentukan masa depan bangsa.
Selain pendidikan, pemberdayaan ekonomi juga menjadi aspek penting dalam memperkuat posisi perempuan. Perempuan yang mandiri secara ekonomi akan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam kehidupan sosial. Dalam hal ini, Aisyiyah telah banyak melakukan program pemberdayaan ekonomi perempuan, mulai dari pelatihan keterampilan hingga pengembangan usaha mikro.
Momentum Hari Kartini harus dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara nilai-nilai Islam dan semangat emansipasi perempuan. Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk maju, justru mendorong mereka untuk berkembang dalam koridor nilai-nilai moral dan spiritual. Kartini telah menunjukkan jalan, Nyai Walidah telah menggerakkan langkah, dan kini tugas kita adalah melanjutkan perjuangan tersebut.
Dengan demikian, perempuan Indonesia harus tampil sebagai pribadi yang tangguh, berdaya, dan bermartabat. Mereka adalah An-Nisa—perempuan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an—yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan. Ketika perempuan dimuliakan, maka masyarakat akan menjadi lebih adil dan sejahtera. Sebaliknya, ketika perempuan ditindas, maka kehancuran sosial akan sulit dihindari.
Akhirnya, mari kita jadikan Hari Kartini sebagai titik tolak untuk memperkuat komitmen dalam membangun peradaban yang berkeadilan gender. Perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi pilar utama dalam membangun masa depan bangsa. Dengan semangat Kartini, keteladanan Nyai Walidah, dan nilai-nilai Islam berkemajuan, kita optimis dapat mewujudkan masyarakat yang menghargai perempuan sebagai insan yang mulia, berdaya, dan penuh makna.
