KEDIRI, Suara Muhammadiyah – Sering terdengar, apresiasi pihak luar kepada Muhammadiyah terhadap usaha dakwah yang dilakukan, lebih-lebih di bidang pendidikan. Adalah Robert W Hefner, memberikan apresiasi terhadap hal itu.
“Pendidikan Islam yang terbaik adalah pendidikan Islam yang dilakukan oleh Muhammadiyah,” kata Antropolog dan pengamat Islam dari Boston University, Amerika Serikat, sebagaimana yang dinukil Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Apresiasi itu bukan tanpa sebab. Kata Hefner, pendidikan Islam Muhammadiyah berhasil mengintegrasikan basis agama (Islam) dan sains, maupun sebaliknya.
“Ungkapan ini menarik karena banyak dari kita yang berpikir pendidikan Islam yang terbaik itu di kawasan Timur Tengah,” beber Saad, Kamis (14/5) saat Kuliah Umum Al Islam dan Kemuhammadiyahan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Kediri secara daring.
Menurut Saad, pandangan Hefner itu berimplikasi dengan Qs al-Alaq. Yakni terdapat di ayat pertamanya, iqra' bismi rabbikalladzî khalaq.
“Ayat ini diawali dengan ungkapan iqra. Sekalipun begitu, sebelum orang melakukan qiraah, dituntut untuk dzikrusmirabbik, menyebut nama Rabbmu,” jelasnya.
Objektivikasi iqra secara umum berbicara tentang dunia literasi. Tetapi, kata Saad, di ayat tersebut, menjadikan dunia literasi sebagai yang primer pangkalnya ada di dzikrusmirabbik, sebagai bidayatan (awal) yang diletakkan di atas (paling utama).
“Tentu secara umum dzikrusmirabbik artinya kita harus menjadikan dimensi teologi secara khusus,” urai Saad, yang kemudian dimensi teologi itu menjadi bagian dari mindset yang tidak dilepaskan dari denyut nadi kehidupan umat Islam.
“Lalu kita merambah pada pengembangan atau kemudian pembacaan dunia literasi. Karena dunia literasi sudah lahir sebelum Qur'an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad,” beber Saad.
Dalam khazanah Yunani, meninggalkan banyak literasi. Sebut saja tokoh pelopornya antara lain Aristoteles, Plato, Sokrates, dan lainnya. “Sampai sekarang pun kita masih bisa membaca dunia literasi dari Yunani itu,” tambahnya.
Tetapi, pangkal atensi redaksi pertama wahyu pertama yang turun itu, papar Saad, memberikan dimensi teologi menjadi the first (yang utama).
“Oleh karena itu, dalam konteks ini, ungkapan Robert W Hefner tadi mendapatkan pembenar. Karena itulah kemudian yang dilakukan oleh Muhammadiyah,” sebutnya.
Tampak sekali dari bukti empiris di lapangan. Sebelum mendirikan Muhammadiyah (1912), Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islam (1911).
Di sini, vibrasi kecendekiaan Dahlan mendirikan sekolah itu amat luar biasa: mampu mengintegrasikan materi keagamaan dan pengetahuan umum.
“Pendek kata di sekolah itu ada Islamnya dan ada dunia sainsnya. Kiai Ahmad Dahlan sendiri juga tentu mencerminkan pada diri beliau itu terhimpun dua pengetahuan besar,” tegas Saad.
Yang hal itu bersangkut paut dengan nushus (teks-teks), yang diperoleh Dahlan tatkala berada di pesantren maupun ketika dua kali belajar di Makkah.
“Tentu sekali lagi beliau juga belajar mengenai berbagai disiplin ilmu pengetahuan khususnya astronomi yang dalam dunia Islam kita sebut dengan ilmu falak, ilmu hisab,” bebernya. (Cris)

