Kecerdasan Hakiki Bukan Sekadar Prestasi Dunia, tetapi Persiapan Akhirat

Publish

14 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
51

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Kaprodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim mengatakan bahwa Islam menghadirkan cara pandang yang lebih utuh dalam memahami makna kecerdasan manusia. Yakni tidak hanya pada kemampuan berpikir, tetapi juga pada kedalaman spiritual dan kematangan emosional.

Iim mengajak umat Islam untuk senantiasa mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan hidup yang Allah Subhanahu wa taala anugerahkan. Rasa syukur tersebut, menurutnya, tidak sekadar ucapan lisan, tetapi diwujudkan melalui upaya terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, amal saleh, dan kesungguhan memperbaiki kualitas diri.

“Selama Allah masih memberikan kesehatan dan kesempatan hidup, maka itu adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Jangan sampai umur yang Allah berikan berlalu tanpa mendekatkan diri kepada-Nya,” ujar Iim dalam kajian rutin di Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, pada Senin (11/05/2026).

Iim menjelaskan bahwa selama ini masyarakat sering kali memahami kecerdasan hanya dalam batas kemampuan intelektual semata. Padahal, dalam perspektif Islam, kecerdasan sejati memiliki dimensi yang lebih luas.

Bahkan Rasulullah SAW memberikan ukuran yang berbeda tentang kemuliaan seorang mukmin, yaitu bukan berdasarkan kekayaan, jabatan, atau luasnya pengetahuan, melainkan pada kualitas akhlaknya. Sebaik-baik mukmin, sebagaimana sabda Nabi, adalah mereka yang paling baik akhlaknya.

Lebih jauh, Iim mengutip hadis Rasulullah tentang ciri mukmin yang paling cerdas. Nabi menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas ialah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya. Dari hadis tersebut, Iim menegaskan bahwa kecerdasan hakiki tidak berhenti pada keberhasilan membangun masa depan dunia, tetapi juga kemampuan menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat yang abadi.

“Kecerdasan hakiki menurut Islam bukan sekadar kecerdasan akademik atau keberhasilan dunia. Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya,” katanya.

Menurutnya, kesadaran terhadap kematian bukanlah ajakan untuk hidup dalam ketakutan, melainkan undangan untuk menghadirkan kesadaran yang lebih mendalam tentang makna kehidupan. Seseorang yang menyadari bahwa hidup memiliki batas waktu akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih bijak dalam menggunakan usia, serta lebih sungguh-sungguh dalam memperbaiki amal dan hubungan dengan sesama.

Iim juga mengingatkan bahwa Al-Qur'an telah menggambarkan perjalanan hidup manusia secara jelas. Dia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 28 yang menjelaskan bahwa manusia berasal dari ketiadaan, kemudian Allah menghidupkan, mematikan, lalu membangkitkannya kembali. Ayat tersebut mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Selain itu, dia menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah sepanjang kehidupan. Mengutip Surah Al-Hijr ayat 99, Iim menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk terus beribadah kepada Allah hingga datangnya kematian. Ibadah, menurutnya, tidak boleh bergantung pada suasana hati, kondisi ekonomi, atau keadaan tertentu.

“Ibadah tidak mengenal masa pensiun. Sampai ajal datang, manusia diperintahkan untuk terus menjaga hubungan dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” tuturnya.

Iim juga mengingatkan bahwa kematian merupakan ketentuan yang pasti dan tidak mengenal batas usia, kedudukan, ataupun kondisi fisik seseorang. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal datang selain Allah SWT.

Oleh karena itu, persiapan spiritual tidak seharusnya ditunda. Kesadaran akan keterbatasan umur justru perlu menjadi dorongan agar setiap manusia memperbanyak amal saleh selama kesempatan hidup masih diberikan.

Menutup kajiannya, Iim Ibrahim mengajak jamaah menjadikan ingatan terhadap kematian sebagai sarana memperbaiki kualitas hidup, bukan sebagai sumber kecemasan. “Orang yang benar-benar mengingat kematian akan lebih berhati-hati menjaga amal, menjauhi maksiat, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan terus berharap meraih rida Allah. Dengan begitu, hidup menjadi lebih tenang, lebih bermakna, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.*


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menegaskan posisi....

Suara Muhammadiyah

5 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – SM Tower Malioboro merayakan Milad pertamanya pada Senin (24/....

Suara Muhammadiyah

24 June 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Pemerintah Malaysia merenca....

Suara Muhammadiyah

29 March 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Penjabat Gubernur Sumatera Utara, Dr. Agus Fatoni, menyatakan dukunganny....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Berita

SAMARINDA, Suara Muhammadiyah - Keluarga besar Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM) ....

Suara Muhammadiyah

25 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah