Kepemimpinan Profetik dalam Muhammadiyah
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, krisis kepemimpinan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi bangsa. Berbagai lembaga, organisasi, bahkan negara, tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan pemimpin yang mampu menghadirkan keteladanan moral. Di ruang publik, kita menyaksikan bagaimana jabatan tidak jarang diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan, bukan sebagai amanah pelayanan. Akibatnya, kepercayaan publik terus melemah.
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan yang telah melintasi lebih dari satu abad perjalanan sejarah, sesungguhnya menawarkan paradigma kepemimpinan yang berbeda. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah tidak dibangun di atas kultus individu, melainkan pada kekuatan nilai-nilai.
Organisasi ini bertahan bukan karena bergantung pada sosok tertentu, melainkan karena memiliki sistem kaderisasi, tradisi musyawarah, dan kepemimpinan kolektif-kolegial yang berakar pada ajaran Islam.
Di sinilah konsep kepemimpinan profetik menemukan relevansinya. Kepemimpinan profetik bukan sekadar kepemimpinan yang religius, melainkan kepemimpinan yang meneladani sifat-sifat kenabian, seperti shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat sifat tersebut bukan sekadar slogan moral, melainkan fondasi dalam mengelola organisasi, mengambil keputusan, dan menggerakkan perubahan sosial.
Muhammadiyah membutuhkan semakin banyak pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola organisasi secara administratif, tetapi juga mampu menghadirkan inspirasi, keteladanan, dan keberanian moral.
Kepemimpinan profetik pertama-tama berangkat dari kesadaran bahwa jabatan adalah amanah. Dalam perspektif Islam, amanah bukan hak yang harus dipertahankan, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, orientasi utama seorang pemimpin bukan mempertahankan posisi, melainkan memastikan kemanfaatan yang dihasilkan dari kepemimpinannya.
Nilai ini sesungguhnya telah diwariskan oleh para tokoh Muhammadiyah sejak awal. KH Ahmad Dahlan tidak membangun organisasi untuk membesarkan dirinya. Beliau membangun sistem yang mampu melahirkan generasi penerus. Demikian pula para penerusnya, mulai dari Ki Bagus Hadikusumo, AR Fachruddin, Syafii Maarif, hingga Haedar Nashir, menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah selalu diarahkan untuk memperkuat institusi, bukan memperbesar figur.
Inilah pembeda mendasar antara kepemimpinan profetik dan kepemimpinan yang berorientasi pada kekuasaan. Pemimpin profetik tidak mengejar popularitas, melainkan kebermanfaatan. Pemimpin profetik tidak sibuk membangun citra, melainkan membangun karya. Pemimpin profetik tidak mencari pengikut, tetapi melahirkan kader.
Namun demikian, tantangan kepemimpinan Muhammadiyah hari ini semakin kompleks. Organisasi berkembang semakin besar dengan ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga kebencanaan. Kompleksitas tersebut menuntut kapasitas manajerial yang semakin tinggi. Di sisi lain, perkembangan media sosial menghadirkan godaan baru berupa personal branding yang berlebihan. Tidak sedikit pemimpin yang lebih sibuk mengelola pencitraan daripada memperkuat substansi gerakan.
Di sinilah kepemimpinan profetik diuji. Seorang pemimpin Muhammadiyah harus mampu menempatkan media sebagai sarana dakwah, bukan sebagai panggung pencarian popularitas. Keteladanan tidak lahir dari banyaknya unggahan di media sosial, melainkan dari konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Kepemimpinan profetik juga menuntut keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan umat, meskipun keputusan tersebut tidak selalu populer. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa pemimpin tidak boleh mengikuti hawa nafsu mayoritas apabila hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran.
Dalam konteks Muhammadiyah, keberanian moral ini tercermin dalam kemampuan menjaga independensi organisasi dari berbagai kepentingan politik praktis maupun kepentingan ekonomi jangka pendek. Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid yang independen. Independensi inilah yang membuat organisasi tetap dipercaya oleh masyarakat. Karena itu, pemimpin Muhammadiyah harus mampu menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam polarisasi yang dapat menggerus kepercayaan publik.
Selain amanah dan integritas, kepemimpinan profetik juga mensyaratkan kemampuan membangun peradaban ilmu. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi juga gerakan ilmu pengetahuan. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai amal usaha merupakan manifestasi dakwah berbasis ilmu dan pelayanan.
Oleh karena itu, pemimpin Muhammadiyah harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dunia berubah sangat cepat. Kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, krisis pangan, hingga disrupsi geopolitik menghadirkan tantangan baru yang tidak cukup dijawab dengan cara-cara lama.
Kepemimpinan profetik harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan inovasi dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, kepemimpinan profetik tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya. Nabi Muhammad SAW dikenang bukan semata-mata karena kecerdasannya, tetapi juga karena kasih sayang-Nya.
Dalam Muhammadiyah, kepemimpinan yang humanis tercermin dalam kemampuan mendengar aspirasi kader, menghargai perbedaan pendapat, membangun budaya musyawarah, serta mengedepankan ukhuwah. Musyawarah bukan tanda lemahnya pemimpin, melainkan bukti kedewasaan kepemimpinan. Pemimpin yang besar tidak takut akan kritik. Sebaliknya, ia menjadikan kritik sebagai energi untuk perbaikan organisasi.
Momentum menjelang berbagai agenda strategis Muhammadiyah seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Regenerasi kepemimpinan tidak cukup menghasilkan pemimpin yang cakap secara administratif, tetapi juga harus melahirkan pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan, dan keberanian moral.
Kaderisasi tidak boleh berhenti pada transfer jabatan, melainkan harus menjadi proses pewarisan nilai. Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset organisasi atau banyaknya amal usaha yang dimiliki. Masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan yang lahir dari kaderisasi.
Ketika kepemimpinan dibangun di atas nilai-nilai profetik, organisasi akan tetap kokoh dalam menghadapi perubahan zaman. Sebaliknya, apabila kepemimpinan kehilangan ruh kenabian dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi, maka sebesar apa pun organisasi dapat kehilangan arah.
Muhammadiyah telah membuktikan selama lebih dari satu abad bahwa kekuatan sejatinya bukan terletak pada figur, melainkan pada nilai. Karena itu, menjaga kepemimpinan profetik bukan sekadar kebutuhan organisasi, tetapi juga merupakan ikhtiar untuk memastikan bahwa dakwah pencerahan terus hidup, memberi manfaat bagi umat, dan menjadi bagian penting dalam membangun peradaban Indonesia yang berkemajuan.

