Ketika Dana Umat Pulang ke Rumahnya

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

54
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Ketika Dana Umat Pulang ke Rumahnya; Membangun Muhammadiyah Financial Ecosystem melalui BTM

Oleh: H. Subkhan Fathoni, SE, GM BTM Surya Sejahtera Kebumen & Mahasiswa Pascasarjana UPB

Bayangkan setiap sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, pengurus dan warga Muhammadiyah menyimpan, meminjam, dan berinvestasi di lembaga keuangan milik mereka sendiri. Uang akan berputar, umat sejahtera, dan Persyarikatan pun makin mandiri. Sayangnya, gambaran itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan.

Muhammadiyah bukanlah organisasi kecil. Ribuan sekolah dari TK hingga perguruan tinggi, ratusan rumah sakit dan klinik, panti asuhan, hingga pelaku usaha kecil menengah bernaung di bawah bendera Persyarikatan. Setiap bulan, uang dalam jumlah besar berputar di sana: mulai dari SPP siswa, gaji guru dan tenaga medis, biaya berobat pasien, hingga dana pembangunan gedung baru.

Pertanyaannya sederhana tetapi penting: ke mana uang sebesar itu mengalir? Idealnya, sebagian besar uang tersebut berputar di dalam ekosistem keuangan milik Muhammadiyah sendiri. Namun kenyataannya, tidak sedikit sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah yang menyimpan uangnya di bank umum, membayar gaji karyawan lewat bank umum, bahkan mencicil kendaraan operasional lewat perusahaan leasing biasa di luar ekosistem Muhammadiyah. Uang umat, dengan kata lain, banyak yang "keluar rumah" dan tidak kembali.

Di sinilah Baitut Tamwil Muhammadiyah, atau yang akrab disingkat BTM, mempunyai peran yang sangat penting. Lahir sejak tahun 1996, BTM adalah lembaga keuangan mikro syariah yang didirikan sebagai gerakan dakwah ekonomi Muhammadiyah. Berbeda dengan BMT pada umumnya yang biasanya merangkap fungsi sosial (zakat, infak, sedekah), BTM sengaja didesain dan difokuskan penuh pada satu hal: pembiayaan produktif berbasis syariah (tamwil), karena urusan sosial (maal) sudah ditangani lembaga lain, yaitu Lazismu.

Sederhananya, BTM adalah "lembaga keuangan" milik warga Muhammadiyah sendiri. Ia menghimpun simpanan dari warga, anggota, dan amal usaha, lalu menyalurkannya kembali sebagai pembiayaan untuk usaha kecil, kebutuhan rumah tangga, hingga pengembangan amal usaha. Uang yang tadinya "keluar rumah", diharapkan bisa berputar dan menetap di dalam rumah besar bernama Persyarikatan.

Sekolah dan Rumah Sakit: Dua Contoh Nyata

Mari kita lihat contoh paling dekat: sekolah Muhammadiyah. Setiap sekolah membutuhkan rekening untuk menampung SPP, rekening untuk membayar gaji guru, dana untuk membangun ruang kelas baru, dana untuk membeli bus antar-jemput, sampai dana untuk melengkapi laboratorium dan perpustakaan. Semua kebutuhan ini, secara teori, bisa dipenuhi lewat BTM: simpanan sekolah ditempatkan di BTM, gaji guru disalurkan lewat BTM, dan pembiayaan pembangunan gedung pun diajukan ke BTM.

Namun pada praktiknya, banyak sekolah masih memilih bank umum. Alasannya beragam: jaringan ATM dan mesin EDC bank umum lebih luas, prosesnya dianggap lebih cepat, atau sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Padahal, kalau seluruh transaksi itu dialihkan ke BTM, dampaknya bukan hanya soal untung-rugi satu sekolah, melainkan menguatkan seluruh ekosistem BTM yang pada gilirannya juga bisa membantu sekolah dan amal usaha lain yang membutuhkan modal.

Contoh kedua adalah rumah sakit Muhammadiyah. Kebutuhannya lebih rumit lagi: dana operasional harian yang besar, investasi dana yang menganggur, pembiayaan alat kesehatan yang mahal, sampai pengelolaan arus kas yang harus cepat dan akurat setiap hari. Untuk kebutuhan sekelas ini, BTM di tingkat daerah memang belum selalu mempunyai kapasitas sebesar bank umum. Akan tetapi ini justru menjadi PR bersama: bagaimana BTM-BTM se-Indonesia bisa bergandengan tangan, atau berkolaborasi dengan program bersama melalui skema channeling, sindikasi dan bridging supaya kebutuhan rumah sakit sebesar itu tetap bisa dilayani tanpa harus sepenuhnya keluar dari ekosistem syariah milik sendiri.

“Uang yang berputar di dalam rumah sendiri akan menguatkan rumah itu. Uang yang terus mengalir keluar hanya akan menguatkan rumah orang lain.”

BTM sebagai "Rumah Keuangan" Persyarikatan

Kalau digambarkan sebagai sebuah alur, ekosistemnya kurang lebih seperti ini: Muhammadiyah menaungi tiga pilar utama, yaitu amal usaha (sekolah, rumah sakit, dan lainnya), warga/anggota, serta pelaku UMKM di lingkungan Persyarikatan. Ketiganya menyimpan dana, mengajukan pembiayaan, dan berinvestasi lewat BTM. Dari sinilah roda ekonomi berputar, mendorong pertumbuhan ekonomi Persyarikatan, hingga akhirnya bermuara pada satu tujuan besar: kemandirian ekonomi umat.

Menariknya, gambaran ideal ini sebenarnya sudah mulai terbangun di banyak daerah. Target pasarnya pun jelas: karyawan amal usaha Muhammadiyah dan komunitas Persyarikatan setempat lainnya. Artinya, dari sisi kesiapan produk, banyak BTM sebenarnya sudah cukup siap menjadi "rumah keuangan" bagi amal usaha di sekitarnya. Yang masih menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah kesiapan itu menjadi kebiasaan yang benar-benar dijalankan bersama-sama, bukan sekadar pilihan bagi yang bersedia saja.

Ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu digarap bersama agar cita-cita BTM sebagai pusat keuangan Persyarikatan ini benar-benar terwujud.

Pertama, perlu ada dorongan kebijakan yang lebih kuat dari pimpinan Persyarikatan, baik di tingkat pusat, wilayah, maupun daerah, agar amal usaha secara bertahap mengalihkan rekening, payroll, dan kebutuhan pembiayaannya ke BTM setempat. Tanpa dorongan semacam ini, integrasi akan terus bergantung pada kesadaran masing-masing pengelola amal usaha, yang tentu hasilnya tidak akan merata.

Kedua, BTM sendiri perlu terus memperkuat permodalan dan likuiditasnya, misalnya lewat kerja sama antar-BTM se-wilayah dan dengan sekundernya, sinergi dengan perbankan syariah umum, atau menghimpun dana simpanan produktif. Dengan modal yang lebih kuat, BTM akan lebih percaya diri membiayai kebutuhan besar seperti pembangunan gedung sekolah atau pengadaan alat kesehatan rumah sakit.

Ketiga, digitalisasi layanan menjadi kunci supaya BTM tidak kalah bersaing dengan bank umum, terutama untuk melayani transaksi bervolume tinggi seperti kebutuhan rumah sakit. Aplikasi mobile banking, sistem payroll otomatis, dan layanan cash management yang andal akan membuat amal usaha semakin nyaman bertransaksi lewat BTM.

Keempat, BTM juga perlu terus merancang produk yang benar-benar sesuai kebutuhan spesifik amal usaha, bukan sekadar produk simpanan dan pembiayaan generik yang sama untuk semua kalangan. Sekolah punya kebutuhan berbeda dengan rumah sakit, dan rumah sakit punya kebutuhan berbeda dengan pelaku UMKM.

Pada akhirnya, gagasan membangun Muhammadiyah Financial Ecosystem lewat BTM bukan sekadar soal untung-rugi sebuah lembaga keuangan. Ini soal bagaimana umat mengelola sumber dayanya sendiri, agar manfaatnya benar-benar kembali kepada umat, bukan mengalir keluar dan menguatkan pihak lain.

Setiap rupiah yang berputar di BTM, pada dasarnya adalah setiap rupiah yang terus bekerja untuk kepentingan sekolah, rumah sakit, dan warga Muhammadiyah sendiri. Semakin banyak amal usaha yang "pulang ke rumah", semakin kuat pula fondasi ekonomi Persyarikatan, dan semakin dekat pula cita-cita besar itu: kemandirian ekonomi umat, yang dibangun bukan dari luar, melainkan dari dalam rumah sendiri. ***


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sekolah di Ujung Jari, Akal di Persimpangan Oleh: Amrizal Pagi itu, seorang siswa SMP di pinggira....

Suara Muhammadiyah

7 February 2026

Wawasan

Penunggu di Tikungan Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen (MM) Uhamka Jakarta, Sekre....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Wawasan

Demokrasi dan Pembangunan  Oleh: Badru Rohman, Advokat dan Pemerhati Sosial Diskursus antara ....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Wawasan

Mengatasi Bias Sektarian dalam Menafsirkan Al-Qur`an (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu B....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Wawasan

80 Tahun Kemerdekaan: Meneguhkan Langkah Menuju Indonesia Emas Oleh: Dr. Ijang Faisal, M.Si, Kepala....

Suara Muhammadiyah

11 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah