Ketika “Orang Kita” Mengalahkan Kebenaran: Membaca Kepemimpinan, Conflict of Interest, dan Integritas dari QS At-Taubah 23–24
Oleh: dr. Alfan Erzi’, M.MRS, Staf Ahli Strategic Management – Spectrum Hospital Consultant, Kepala Bidang Penunjang RSU Muhammadiyah Bandung Tulungagung
Bayangkan seorang direktur rumah sakit harus memilih pejabat untuk posisi strategis. Ada dua kandidat. Kandidat pertama lebih kompeten dan memiliki rekam jejak yang lebih baik. Kandidat kedua adalah sahabat dekat sang direktur, bahkan keluarganya sudah lama dikenal. Secara objektif, kandidat pertama lebih layak. Namun yang dipilih justru kandidat kedua dengan alasan: “Saya lebih percaya orang yang sudah saya kenal.” Tidak ada uang yang berpindah tangan. Tidak ada dokumen yang dipalsukan. Tetapi muncul pertanyaan penting: Apakah keputusan itu dibuat untuk kepentingan organisasi, atau karena kedekatan pribadi?
Inilah salah satu wajah conflict of interest: ketika kepentingan pribadi, keluarga, pertemanan, atau kelompok berpotensi memengaruhi keputusan yang seharusnya objektif.
Persoalannya menjadi lebih serius ketika pola tersebut berulang: orang dekat mendapat jabatan, kerabat mendapat proyek, kesalahan “orang sendiri” ditoleransi, sementara orang lain dihukum dengan standar berbeda. Organisasi perlahan kehilangan meritokrasi. Dan ketika keadilan dirasakan hilang, kepercayaan pun mulai runtuh.
Menariknya, jauh sebelum istilah conflict of interest dikenal dalam ilmu manajemen, Al-Qur'an telah berbicara tentang persoalan yang sangat mendasar: apa yang kita cintai dan apa yang kita pilih ketika kepentingan itu berbenturan dengan nilai yang lebih tinggi.
Pesan QS At-Taubah 23–24
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pelindung, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS At-Taubah: 23)
Kemudian Allah melanjutkan:
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah: 24)
Ayat ini memiliki konteks teologis yang spesifik. Ia tidak secara langsung berbicara tentang nepotisme atau pengadaan barang dalam organisasi modern. Namun pesan moralnya sangat kuat: kedekatan, kecintaan, harta, dan kenyamanan tidak boleh mengalahkan nilai yang lebih tinggi. Al-Qur'an tidak melarang mencintai keluarga, mencari harta, berdagang, atau memiliki rumah yang nyaman. Yang diuji adalah hierarki nilai. Apa yang kita lakukan ketika sesuatu yang kita cintai bertentangan dengan prinsip yang harus kita tegakkan?
Ketika “Orang Kita” Menjadi Masalah
Dalam organisasi, kalimat “dia orang kita” bisa menjadi sangat berbahaya. Karena dari sana muncul: “Bantu dia saja.” “Kasih kesempatan dia.” “Maklum, dia keluarga kita.” “Jangan terlalu keras, dia sudah lama bersama kita.” Akhirnya standar berubah. Kesalahan orang lain disebut pelanggaran. Kesalahan orang dekat disebut kekhilafan. Orang lain dinilai berdasarkan kompetensi. Orang dekat dinilai berdasarkan hubungan. Inilah awal nepotisme, favoritisme, dan standar ganda.
Padahal jabatan bukan hadiah. Kewenangan bukan milik pribadi. Dan organisasi bukan kendaraan untuk memperbesar lingkaran keluarga atau kelompok sendiri. Jabatan adalah amanah. Karena itu pertanyaan pemimpin seharusnya bukan: “Siapa yang paling dekat dengan saya?” melainkan: “Siapa yang paling layak memikul amanah ini?”
QS At-Taubah 24 tidak hanya menyebut keluarga. Allah juga menyebut:
“harta yang telah kamu usahakan” dan “perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya.”
Ini menarik karena ancaman terhadap integritas tidak selalu muncul karena seseorang ingin berbuat jahat. Kadang manusia menyimpang karena takut kehilangan.
Takut kehilangan:
-
harta,
-
jabatan,
-
pengaruh,
-
bisnis,
-
pelanggan,
-
hubungan,
-
atau kenyamanan.
Seseorang mungkin tahu keputusan yang benar, tetapi tidak berani mengambilnya karena takut konsekuensinya. Dalam bahasa sederhana: Ia bukan tidak tahu mana yang benar. Ia hanya tidak siap kehilangan sesuatu demi kebenaran. Di sinilah kepemimpinan benar-benar diuji.
Pemimpin Diuji Ketika Harus Mengatakan “Tidak” kepada Orang Sendiri
Mudah berbicara tentang integritas ketika tidak ada kepentingan yang dipertaruhkan. Yang sulit adalah ketika kebenaran menuntut kita mengatakan:
“Tidak” kepada saudara.
“Tidak” kepada sahabat.
“Tidak” kepada kerabat.
“Tidak” kepada vendor yang dekat dengan kita.
“Tidak” kepada orang yang selama ini berjasa.
Bahkan kadang:
“Tidak” kepada orang yang kita sendiri angkat ke dalam jabatan.
Di sinilah prinsip amar ma'ruf nahi munkar harus berlaku juga kepada lingkungan terdekat. Kita tidak boleh hanya berani mengoreksi “orang lain”, tetapi permisif terhadap “orang kita”. Yang salah tetap salah, meskipun dilakukan oleh orang yang kita cintai. Dan sebaliknya: Yang benar tetap benar, meskipun dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai.
Itulah integritas.
Amanah Membutuhkan Sistem
Dalam organisasi modern, niat baik saja tidak cukup. Konflik kepentingan harus dikelola melalui:
-
deklarasi conflict of interest,
-
transparansi,
-
proses seleksi yang objektif,
-
recusal ketika memiliki kepentingan pribadi,
-
kriteria yang jelas,
-
dokumentasi keputusan,
-
dan mekanisme akuntabilitas.
Sebab seseorang mungkin berkata: “Saya tetap bisa objektif meskipun yang dipilih adalah keluarga saya.” Tetapi organisasi yang sehat tidak hanya bergantung pada niat baik. Integritas harus dibangun ke dalam sistem.
Dalam konteks Muhammadiyah dan amal usaha, persoalan ini semakin penting. Rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga sosial bukan sekadar kendaraan kepentingan individu. Di dalamnya terdapat amanah umat. Karena itu nilai dakwah harus hadir bukan hanya dalam ceramah, tetapi juga dalam:
-
memilih pejabat,
-
mengelola anggaran,
-
menentukan vendor,
-
menilai kinerja,
-
memberikan penghargaan,
-
menyelesaikan konflik,
-
dan memberikan sanksi.
Di sinilah nilai Islam bertemu dengan good governance. Amanah membutuhkan sistem. Keadilan membutuhkan keberanian. Integritas membutuhkan konsistensi. Kepercayaan membutuhkan bukti.
QS At-Taubah 23–24 mengingatkan bahwa keluarga, harta, perdagangan, dan kenyamanan adalah bagian dari kehidupan manusia. Tetapi semua itu tidak boleh membuat kita kehilangan orientasi terhadap nilai yang lebih tinggi. Dalam konteks kepemimpinan, pesannya dapat dirumuskan sederhana:
Jangan biarkan kedekatan mengalahkan kelayakan. Jangan biarkan keuntungan mengalahkan integritas. Jangan biarkan jabatan mengalahkan kebenaran. Jangan biarkan loyalitas kepada kelompok mengalahkan amanah kepada organisasi. Sebab pemimpin tidak diuji ketika semua pilihan menguntungkan. Pemimpin diuji ketika keputusan yang benar menuntutnya kehilangan sesuatu yang ia cintai.
Maka pertanyaan terbesar bagi setiap pemimpin bukanlah: “Siapa orang saya?” melainkan: “Apakah saya masih mampu memperlakukan orang saya secara adil ketika kepentingan mereka bertentangan dengan amanah yang saya pegang?” Pada titik itulah kita mengetahui perbedaan antara orang yang memegang jabatan dan pemimpin yang benar-benar memegang amanah.

