Khutbah Idul Adha: Semangat Berkurban Sepanjang Zaman

Publish

20 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
55

Khutbah Idul Adha: Semangat Berkurban Sepanjang Zaman

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah tinggal di Magelang

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا   
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْم
اللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينْ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسِانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat ‘Idul Adha yang dirahmati Allah!
Sampai saat ini kita dalam keadaan berislam, beriman, sehat, sempat, dan dapat hadir di tanah lapang ini untuk menunaikan shalat ’Idul Adha dengan segala rangkaiannya. Semua itu adalah kenikmatan yang hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang terpilih. Oleh karena itu, mari kita selalu bersyukur kepada-Nya.

Mari kita doakan; yang sakit segera sembuh. Yang tertutup hatinya segera mendapat hidayah dari Allah sehingga kembali ke jalan yang benar. Yang meninggal, memperoleh ampunan-Nya. Amin!

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat ‘Idul Adha yang dirahmati Allah, 
‘Idul Adha mengandung berbagai nilai. Semua nilai itu bersifat abadi dan universal. Mari kita kaji dua di antara berbagai nilai itu, yaitu (1) nilai religius dan  (2) sosial kemasyarakatan. 

Nilai Religius

Telah berpuluh-puluh tahun lamanya Ibrahim mendambakan punya anak. Namun, setelah mempunyainya, ia diperintah menyembelihnya sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Quran surat ash-Shaffat (37):102 Allah berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Karena menyadari bahwa cintanya kepada Allah harus melebihi segalanya, termasuk cintanya kepada Ismail, buah hati belahan jiwanya, Ibrahim siap melakukannya. Ismail pun dengan ikhlas taat pada perintah Allah.

Karena ketakwaannya pada Allah, Ibrahim memperoleh balasan yang luar biasa besarnya sebagaimana dijelaskan di dalam ayat 108 dan 109,
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ

“Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ
Kepadanya Kami sampaikan pula ucapan “Selamat sejahtera bagi Nabi Ibrahim” sebagai penghargaan kepadanya.”

Allah membalas amalnya dengan penghargaan yang berlaku sepanjang masa, yakni shalawat Ibrahimiyah. Kita setiap shalat mengucapkan shalawat tersebut dan inilah shalawat yang paling sempurna, bukan shalawat Nariyah atau yang lain. 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Ibrahim telah memberikan teladan yang sangat berharga dalam hal kepemimpinan. Ia bersedia berdialog dengan istri dan anaknya. Hal tersebut dijelaskan di dalam ayat 102-107. Pelajaran yang harus kita petik adalah: semestinya, para pemimpin kita bersedia berdialog dengan pihak yang dipimpin.

Sementara itu, pengurbanan Hajar pun luar biasa. Ia harus ikhlas melepas jantung hatinya. Betapa besar godaan setan, tetapi ia tidak tergoda sedikit pun karena tahu bahwa suaminya melakukan kebenaran Ilahi.

Tidak kalah hebatnya adalah pengurbanan Ismail. Ia masih muda belia. Namun, ia pun dengan sabar dan ikhlas menerima dan melaksanakan perintah Allah. 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat ‘Idul Adha yang dirahmati Allah,
Mari kita perhatikan berbagai kenyataan yang terjadi di negara kita. Cukup banyak elit bangsa yang dikendalikan oleh nafsu sehingga melakukan korupsi atau tindakan melanggar hukum lainnya. Ada yang memprihatinkan juga: orang tidak berkurban karena merasa miskin, padahal sesungguhnya mereka memiskinkan diri. Mereka menggunakan uang untuk hal yang mubazir. Jika uangnya itu ditabungkan, sesungguhnya cukup untuk membeli hewan kurban. Tidak takutkah tindakan yang demikian dapat mengundang kemiskinan yang semiskin-miskinnya? 

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan muslim yang mampu agar berkurban sebagaimana dijelaskan di dalam HR Ahmad dan Ibnu Majah,

مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا 

“Siapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

Semua ucapan dan tindakan Ibrahim, Hajar, Ismail, dan peringatan Nabi Muhammad shallallagu ‘alaihi wa sallam dalam hubungannya dengan berkurban merupakan contoh nilai religius yang harus kita jadikan rujukan sepanjang zaman.

Jamaah shalat ‘Idul Adha yang dirahmati Allah,
Nafsu merupakan musuh yang paling sulit kita tundukkan. Banyak orang hancur namanya atau hidupnya karena gagal mengendalikan nafsu yang melahirkan kesombongan dan keserakahan. Sejarah telah menunjukkan siapa pun orangnya yang sombong pasti hancur.

Qarun sombong karena kekayaannya. Dia mengatakan kaya karena ilmunya. Akhirnya, dia dibenamkan beserta hartanya ke dalam bumi. Fira’un sombong karena kekuasaannya; sampai menyebut dirinya sebagai Tuhan. Akhirnya, dia ditenggelamkan ke dalam laut dalam keadaan takterampuni. Mereka diazab oleh Allah!

Nilai Sosial Kemasyarakatan      

Suasana kekeluargaan dan kebersamaan benar-benar tercipta melalui ‘Idul Adha. Pada saat ini kaum muslimin yang mampu, dengan semangat kekeluargaan dan kebersamaan, membagikan daging kurban, tidak hanya kepada saudara-saudara yang seiman. Kita bersama-sama mengagungkan nama Allah dengan bahasa dan lagu yang sama meskipun berasal dari suku, bangsa, dan negara yang berbeda. Muslim mukmin yang beribadah haji berkumpul di satu tempat yang sama. Pendek kata, ‘Idul Adha merupakan sarana mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan umat Islam seluruh dunia.

Umat Islam tidak dibeda-bedakan berdasarkan warna kulit, suku bangsa, pangkat, jabatan, atau golongan. Pembedaan kita hanyalah berdasarkan kualitas ketakwaan. Di hadapan Allah kita sama, dan yang paling mulia di antara kita adalah yang mempunyai kualitas ketakwaan yang paling tinggi.

Mari kita canangkan “Semangat Berkurban Sepanjang Zaman”. Yang kaya berkurban dengan kekayaannya untuk membantu si miskin. Yang pintar berkurban dengan ilmunya untuk memintarkan si awam, bukan minteri. Yang berpangkat berkurban dengan pangkatnya untuk mengangkat harkat martabat rakyat. Semua itu merupakan nilai sosial kemasyarakatan yang harus kita amalkan sepanjang zaman.

Untuk Kita Renungkan

Renungan bagi orang tua: Nabi Ibrahim dan Hajar mencintai Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada segala sesuatu yang bersifat duniawi. Pengurbanannya amat besar sehingga memperoleh balasan yang amat besar pula. Mereka tidak tergoda sedikit pun oleh bujukan setan. Sudahkah kita, orang tua, mencontohnya?

Renungan bagi kaum muda: Ismail adalah pemuda yang taat kepada Allah dan orang tuanya. Wahai, kaum muda, sudahkah berkurban demi kejayaan negeri berdasarkan kebenaran Ilahi, bukan demi ambisi pribadi?

Jamaah shalat ’Idul Adha yang dirahmati Allah,
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat al-A’raf (7):96,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”

Mari mawas diri. Jika limpahan barakah belum kita peroleh, mungkin di antara kita, lebih-lebih para elit bangsa, ada yang tidak bertakwa dengan takwa yang sebenar-benarnya dan ada yang mendustakan para rasul dan ayat-ayat-Nya. 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Mari kita doakan muslim mukmin yang saat ini beribadah haji, menjadi haji mabrur. Kita doakan mereka yang belum beribadah haji karena belum mampu dalam hal biaya, tetapi telah mempunyai niat kuat, diberi rezeki yang cukup sehingga dapat mewujudkan niatnya itu. Kita doakan pula mereka yang telah mempunyai harta melimpah, tetapi belum tergugah, diberi hidayah sehingga termotivasi untuk segera beribadah haji.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Oleh: Ihsan Nursidik Pengajar di Pondok Pesantren Darul Arqam Daerah Garut   إِنَّ ال....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Khutbah

Oleh: Jindar Wahyudi أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقُّ الْ....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Khutbah

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah & Dosen Prodi ....

Suara Muhammadiyah

28 November 2024

Khutbah

Oleh: Ninda Aulia Ramadhini, Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta إِنَّ الْحَم�....

Suara Muhammadiyah

26 December 2024

Khutbah

Semangat Berkurban Bisa Ada pada Kaum Dzu'afa Oleh: Mohammad Fakhrudin الحَمْدُ للهِ �....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah