Khutbah Idul Adha: Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim di Tengah Individualisme Modern

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
347

Khutbah Idul Adha: Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim di Tengah Individualisme Modern

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur/ Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:

اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.


اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan Islam. Sehingga di pagi hari yang indah ini, kita dapat berkumpul bersama, bersimpuh di hadapan-Nya melaksanakan shalat Iedul Adha pada 10 Dzulhijah 1447 H.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita dapat menjadi muslim yang baik dan benar. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi meresap dalam hati dan mewujud dalam tindakan nyata. Takwa yang menjadikan kita tunduk kepada perintah Allah, sekalipun perintah itu bertentangan dengan keinginan pribadi, hawa nafsu, bahkan logika manusia.

Hari ini kita berkumpul dalam suasana penuh kemuliaan, merayakan Idul Adha, hari raya yang sarat makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan. Hari yang mengingatkan kita pada peristiwa agung dalam sejarah umat manusia: kisah pengorbanan luar biasa dari seorang nabi yang mulia, Ibrahim, bersama putranya yang saleh, Ismail.

Namun, pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah: apakah kisah itu hanya akan menjadi cerita yang kita dengar setiap tahun, ataukah ia akan menjadi ruh yang menghidupkan cara kita menjalani kehidupan di tengah dunia modern yang semakin individualistik?

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan puncak ujian yang diberikan kepada Nabi Ibrahim:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Ayat ini bukan sekadar kisah dramatis antara ayah dan anak. Ia adalah potret keimanan yang mencapai puncaknya. Bayangkan, seorang ayah yang telah lama menantikan kehadiran anak, justru diperintahkan untuk mengorbankannya. Dan yang lebih menakjubkan, sang anak tidak menolak, tidak memberontak, tetapi menerima dengan penuh keikhlasan.

Di sinilah kita belajar bahwa iman sejati bukanlah iman yang nyaman. Iman sejati adalah iman yang diuji. Dan pengorbanan adalah bukti dari keimanan itu.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Sering kali kita memaknai Idul Adha sebatas penyembelihan hewan qurban. Kita sibuk dengan teknis pelaksanaan, distribusi daging, dan berbagai aspek administratif lainnya. Semua itu tentu penting. Namun, jika berhenti di sana, kita kehilangan esensi terdalam dari ibadah ini.

Allah berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah bentuk lahiriah semata, melainkan kualitas batin yaitu keikhlasan, ketakwaan, dan kesiapan untuk berkorban.

Qurban sejatinya adalah simbol. Ia adalah bahasa spiritual yang mengajarkan kita untuk “menyembelih” sesuatu dalam diri kita:

keserakahan, 
keegoisan, 
cinta dunia yang berlebihan, 
dan segala bentuk keterikatan yang menjauhkan kita dari Allah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah shalat Ied yang berbahagia

Kita hidup di zaman yang sangat berbeda dengan zaman Nabi Ibrahim. Kita hidup di era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, dan kebebasan individu yang semakin luas.

Namun di balik itu semua, ada satu penyakit yang menggerogoti kehidupan manusia modern: individualisme.

Individualisme mengajarkan bahwa:

kebahagiaan adalah tentang diri sendiri, 
kesuksesan adalah pencapaian pribadi, 
dan kehidupan adalah kompetisi tanpa batas. 
Akibatnya, manusia semakin jauh dari nilai-nilai kebersamaan. Empati menipis, solidaritas melemah, dan kepedulian sosial menjadi barang langka.

Bahkan dalam kehidupan beragama, individualisme juga merasuki:

ibadah menjadi ajang pencitraan, 
sedekah menjadi sarana popularitas, 
dan kebaikan sering kali diukur dari pengakuan manusia, bukan keridaan Allah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah Idul Adha yang berbahagia,

Di tengah arus individualisme ini, kisah Ibrahim hadir sebagai penawar. Ia mengajarkan nilai yang bertolak belakang dengan semangat zaman.

Jika individualisme berkata “aku”, maka Ibrahim berkata “Allah”.

Jika dunia modern berkata “apa yang aku dapat?”, maka Ibrahim bertanya “apa yang Allah kehendaki?”.

Jika manusia modern takut kehilangan, maka Ibrahim justru siap kehilangan demi Allah.

Inilah spirit pengorbanan yang harus kita hidupkan kembali.

Pengorbanan hari ini tidak selalu berbentuk dramatis seperti kisah penyembelihan. Namun ia hadir dalam berbagai bentuk yang lebih halus, tetapi tidak kalah berat.

1. Mengorbankan Ego

Dalam kehidupan sosial, sering kali konflik terjadi bukan karena perbedaan yang besar, tetapi karena ego yang tidak mau mengalah. Dalam keluarga, dalam masyarakat, bahkan dalam organisasi keagamaan, ego menjadi sumber perpecahan.

Spirit Ibrahim mengajarkan kita untuk berani menundukkan ego demi kebaikan yang lebih besar.

2. Mengorbankan Kenyamanan

Banyak orang enggan berbuat baik karena merasa tidak nyaman. Enggan membantu karena repot. Enggan berbagi karena takut kekurangan.

Padahal pengorbanan selalu menuntut keluar dari zona nyaman.

3. Mengorbankan Kepentingan Pribadi

Dalam dunia yang kompetitif, kita sering dihadapkan pada pilihan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Spirit kurban mengajarkan kita untuk tidak selalu menempatkan diri di atas segalanya.

4. Mengorbankan Citra Diri

Di era media sosial, banyak orang lebih peduli pada citra daripada substansi. Amal dilakukan agar dilihat. Kebaikan dipublikasikan agar dipuji.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan keikhlasan sebagai inti ibadah.

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ibadah qurban juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Ia bukan hanya ibadah individual, tetapi juga instrumen distribusi kesejahteraan.

Ketika daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, kita sedang membangun jembatan antara yang mampu dan yang tidak mampu. Kita sedang menghadirkan keadilan sosial dalam bentuk yang paling nyata.

Bayangkan jika semangat ini hidup sepanjang tahun, bukan hanya saat Idul Adha:

tidak ada orang yang kelaparan, 
tidak ada kesenjangan yang mencolok, 
dan masyarakat akan lebih harmonis.
Kisah Nabi Ibrahim juga memberikan pelajaran penting tentang keluarga.

Dialog antara Ibrahim dan Ismail menunjukkan adanya komunikasi yang sehat, keterbukaan, dan pendidikan iman yang kuat.

Ibrahim tidak memaksakan, tetapi mengajak berdialog. Ismail tidak memberontak, tetapi merespons dengan iman.

Ini adalah model keluarga ideal:

ayah yang menjadi teladan, 
anak yang dididik dengan nilai tauhid, 
hubungan yang dibangun atas dasar keimanan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Jamaah yang berbahagia,

Hari ini kita perlu bertanya pada diri sendiri:

Apa yang sudah kita korbankan untuk Allah? 
Sudahkah kita mengorbankan waktu untuk ibadah? 
Sudahkah kita mengorbankan harta untuk membantu sesama? 
Sudahkah kita mengorbankan ego untuk menjaga persatuan? 
Jangan sampai kita hanya menyembelih hewan, tetapi tidak pernah menyembelih keserakahan dalam diri kita.

Jika spirit pengorbanan Nabi Ibrahim benar-benar hidup dalam diri umat Islam, maka kita akan menyaksikan perubahan besar:

dari masyarakat yang egois menjadi masyarakat yang peduli, 
dari persaingan yang merusak menjadi kolaborasi yang membangun, 
dari ketimpangan menuju keadilan. 
Inilah peradaban yang diimpikan oleh Islam: peradaban yang dibangun di atas nilai pengorbanan, bukan keserakahan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman dan keimanan kita. Idul adha harus kita jadikan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai utama kehidupan dan akhlak mulia. Dengan senantiasa menerapkan akhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan berbangsa, maka sesungguhnya kita telah menampilkan cara berislam yang mencerahkan dan memajukan. Bahwa akhlak mulia adalah citra diri setiap muslim, karena sesungguhnya akhlak mulia tidak bisa dipisahkan dengan keimanan dan ketaqwaan. Ketika setiap Muslim di negeri ini sebagai penduduk terbanyak telah menerapkan karakter utama sebagai perwujudan iman dan taqwa, niscaya Allah akan memberikan anugerahnya kepada bangsa kita.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa diberi hidayah, sehingga di dalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan benar. Kita berdoa semoga Allah menerima seluruh amal kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Kita berdoa agar para pemimpin bangsa dan seluruh warga bangsa diberi petunjuk sehingga selalu menjaga tanah air dan bangsa dengan nilai-nilai utama, menjadi bangsa yang bermartabat, berkeadilan dan berkemajuan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Oleh: Abdur Rauf, SThI., MAg, Dosen STIQ Kepulauan Riau dan Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah Kota ....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026

Khutbah

Oleh: Yusri Ramadhan, Pengajar PPM MBS Wanayasa, Banjarnegara   اِنَّ الْحَمْدَ....

Suara Muhammadiyah

15 May 2025

Khutbah

Oleh: Dr Muhammad Sa’ad Ibrahim, MA, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah السَّلَامُ �....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Khutbah

Oleh: Muhamad Rofiq Muzakkir, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah &nbs....

Suara Muhammadiyah

12 June 2025

Khutbah

Oleh: Jindar Wahyudi أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقُّ الْ....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah