Oleh: Wahjudin, Anggota PRM Podosari Kesesi Pekalongan
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِٱللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Jamaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Salah satu rukun iman yang sering kita ucapkan namun kadang kurang kita hayati adalah iman kepada hari kiamat. Iman kepada hari akhir bukan sekadar percaya bahwa dunia ini akan berakhir, tetapi juga kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4–5)
Ayat ini memberi pesan kuat bahwa bumi yang kita pijak hari ini bukan sekadar benda mati, tetapi akan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia. Semua yang kita lakukan, baik maupun buruk, akan “dilaporkan” oleh bumi pada hari kiamat.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Iman tidak hanya berhenti pada keyakinan yang tersimpan di dalam hati, tetapi harus melahirkan amal nyata yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan sejati bukan sekadar diucapkan dengan lisan atau diyakini dalam pikiran, melainkan harus terwujud dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi kebaikan.
Iman kepada hari kiamat, secara khusus, seharusnya menghadirkan kesadaran mendalam bahwa setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kesadaran ini mendorong kita untuk hidup lebih hati-hati, jujur, dan penuh tanggung jawab. Tidak hanya dalam urusan ibadah pribadi, tetapi juga dalam hubungan sosial dan lingkungan.
Menjaga alam, merawat bumi, serta tidak melakukan kerusakan adalah bagian dari implementasi iman tersebut. Sebab, alam adalah amanah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Dengan demikian, iman menjadi kekuatan moral yang mengarahkan manusia untuk berbuat kebaikan secara menyeluruh.
Kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini, hutan gundul, sungai tercemar, udara kotor, bukan semata-mata fenomena alam, tetapi akibat ulah manusia yang lalai dari amanahnya sebagai khalifah di bumi.
Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini jelas melarang manusia melakukan kerusakan. Artinya, menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Bahkan, merusak lingkungan adalah bentuk kemaksiatan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Rasulullah saw juga bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya dunia itu hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa manusia adalah pengelola bumi, bukan perusaknya. Kita diberi amanah untuk memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasinya secara berlebihan.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Iman kepada hari kiamat seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam bertindak. Kita tidak hanya bertanggung jawab terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam.
Setiap sampah yang kita buang sembarangan, setiap pohon yang ditebang tanpa tanggung jawab, setiap tindakan yang merusak lingkungan, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dalam konteks kekinian, menjaga bumi bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi telah menjadi bagian penting dari jihad kemanusiaan yang harus dilakukan secara sadar dan berkelanjutan. Kerusakan lingkungan yang semakin nyata, mulai dari pencemaran, krisis air, hingga perubahan iklim, menjadi tanda bahwa manusia seringkali lalai dalam menjalankan amanahnya sebagai khalifah di muka bumi.
Maka di sinilah letak pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah segala bentuk kerusakan. Menjaga alam bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bernilai ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Oleh karena itu, mari kita jadikan iman kepada hari kiamat sebagai energi spiritual yang menggerakkan kita untuk berbuat lebih baik dan lebih bertanggung jawab. Kesadaran bahwa setiap tindakan akan dihisab hendaknya mendorong kita untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air dan energi, serta berupaya menanam dan merawat pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hidup. Lebih dari itu, kita juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik generasi muda agar tumbuh dengan kesadaran ekologis yang kuat, mencintai lingkungan, dan memiliki komitmen untuk menjaganya.
أَقُولُ قَوْلِي هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ ٱللّٰهَ ٱلْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.
ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.
ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
ٱللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ، وَٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يُحَافِظُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا.
ٱللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا ٱلْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَٱحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Sumber: Majalah SM Edisi 08/2026

