Oleh: Abdur Rauf, SThI., MAg, Dosen STIQ Kepulauan Riau dan Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Batam
الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Di dalam Al-Qur'an, Allah SwT telah berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran/ 3: 190).
Pada ayat ini ditegaskan bahwa hanya orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran (ibrah) dari momen penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang itu. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi untuk kehidupan makhluk-makhluk-Nya.
Maka, adalah suatu kedurhakaan besar, jika ada di antara hamba-hamba-Nya yang mengingkari keberadaan-Nya. Dzat-Nya memang tak terjangkau oleh indra kita yang serba terbatas ini, tapi setidaknya kita bisa merasakan kehadiran-Nya lewat mahakarya-Nya yang terbentang luas di jagat raya ini.
Oleh sebab itu, orang-orang berakal sajalah yang dapat melihat dan merasakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Orang-orang berakal sajalah yang dapat mengambil ibrah atas semua kejadian ini. Allah SwT menegaskan:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
“Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali-Imran/ 3: 191).
Dalam setiap kondisi, hendaknya kita tak melupakan betapa agungnya nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan-Nya untuk kita. Sebagai wujud syukur kita, semestinya hidup kita sepenuhnya haruslah diorientasikan dalam rangka berbakti, mengabdi, dan beribadah hanya kepada-Nya. Bukankah yang demikian itu adalah tujuan penciptaan kita sebagai manusia?
Kezaliman terbesar yang dilakukan umat manusia adalah menjadikan yang lain sebagai tempat pengabdian dan peribadatan selain Allah SwT. Betapa kufurnya tingkah manusia tersebut. Mereka lupa dari mana ia berasal dan di tempat milik siapa ia hidup dan mencari kehidupan. Bagaimana akan mempertanggungjawabkan kekufuran ini di hadapan-Nya kelak? Ingatlah, kita semua akan kembali kepada-Nya dan akan dihisab segala amal perbuatan kita di hadapan-Nya.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Hanya orang-orang berakal sajalah yang dapat mengambil pelajaran pada momen-momen pergantian malam dan siang. Malam dan siang menandakan perubahan dan pergantian waktu. Hal ini mengingatkan kita betapa berharganya setiap detik waktu itu. Detik demi detik waktu yang berlalu tidak boleh kita sia-siakan.
Tentang waktu ini, Imam Syafi’i pernah mengingatkan: “Waktu itu ibarat pedang, kalau engkau tidak menggunakannya dengan baik, maka ia akan memotongmu. Dan jika kamu tidak menyibukkan jiwamu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkan jiwamu dengan kebatilan”.
Demikian juga yang termuat dalam QS. Al-‘Ashr (103) ayat 1-3:
وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”
Betapa pentingnya waktu itu sehingga Allah pun bersumpah dengannya. Oleh sebab itu, tidakkah kita memperhatikannya? Momen-momen pergantian waktu itu hendaknya kita jadikan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi (muhasabah), introspeksi, dan bertafakur diri.
Semoga ini menjadi bahan renungan kita. Momentum pergantaian malam dan siang, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun, jangan kita lalaikan tanpa muhasabah dan bertafakur diri. Berupayalah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Mantapkan iman dan istikamah dalam beramal saleh.
‘Aidh Al-Qarni dalam buku La Tahzan mengutip perkataan salah seorang ulama salaf: “Wahai anak Adam, hidupmu itu tiga hari saja: Hari kemarin yang telah berlalu, hari esok yang belum datang, dan hari ini di mana Anda harus bertakwa kepada Allah”.
Oleh sebab itu, tak ada gunanya kita membangga-banggakan masa lalu atau menangisi keadaan-keadaan masa lalu, dan tak ada gunanya juga kita memperpanjang angan-angan dan khayalan atau memperbanyak kecemasan di masa-masa yang akan datang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِكْرِالحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إنَّهُ هُوَالغَفُوْرُالرَحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، أَمَّا بَعْدُ؛
قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ, رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ،
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

