Kiprah Imam Shamsi Ali Wujud Nyata Internasionalisasi Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
26

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) resmi memberikan penghargaan UMY Awards 2026 kepada tokoh ulama global, Imam Muhammad Shamsi Ali, pada Sabtu (23/5/2026) di Ruang Sidang Gedung AR. Fachruddin B, Kampus Terpadu UMY. Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, MKes., menegaskan bahwa pencapaian Imam Shamsi Ali merupakan bukti nyata dari keberhasilan gerakan internasionalisasi Muhammadiyah.

Agus menyampaikan bahwa peran Imam Shamsi Ali sangat sejalan dengan mandat Muktamar Muhammadiyah di Solo, yaitu "Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta". Ia menjelaskan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah mencakup tiga pilar utama: internasionalisasi ide dan gagasan (Islam Wasathiyah), internasionalisasi peran kader melalui diaspora, serta internasionalisasi gerakan melalui pendirian Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di luar negeri.

"Ada yang hebat lagi, ternyata yang dilakukan oleh Ustaz Shamsi Ali, kader persyarikatan ini, telah melakukan tiga hal itu sekaligus," ujar Agus.

Ia juga memberikan catatan khusus mengenai strategi dakwah Imam Shamsi Ali di Amerika Serikat. Jika biasanya teori perubahan dimulai dari pinggiran, dr Agus memuji keberanian Imam Shamsi Ali yang langsung terjun ke pusaran peradaban dunia yang memiliki pengaruh besar. Melalui dakwah yang santun, Imam Shamsi Ali dinilai berhasil menunjukkan keindahan Islam sebagai rahmatan lil alamin di kancah internasional.

Selain memberikan apresiasi kepada sang penerima penghargaan, dr. Agus juga memuji konsistensi UMY dalam mencetak kader-kader yang relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, penghargaan ini sangat selaras dengan tagline UMY, yaitu "Muda Mendunia". Ia berharap akan muncul lebih banyak alumni UMY yang mampu melanjutkan kiprah diaspora internasional seperti yang telah ditunjukkan oleh Imam Shamsi Ali.

Sementara itu,  Imam Shamsi Ali dalam orasinya mengungkapkan bahwa tragedi 11 September 2001 (9/11) dinilai menjadi momen paradoksal bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat. Di tengah gelombang kebencian terhadap Muslim yang meningkat hingga 1.600 persen, angka konversi ke Islam justru melonjak lebih dari 400 persen dalam periode yang sama.

Sebagai tokoh Muslim Amerika Serikat yang telah menetap dan berdakwah di New York selama puluhan tahun, Shamsi Ali menyebut tragedi 9/11 sebagai titik balik yang mengubah banyak hal, termasuk cara masyarakat Amerika memandang Islam.

“9/11 adalah momentum paradoksal. Di satu sisi, komunitas Muslim menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Di sisi lain, justru itulah titik ketika Islam tumbuh paling pesat dalam sejarah Amerika,” ujar Shamsi Ali.

Shamsi Ali menjelaskan bahwa pasca-9/11, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan PATRIOT Act, melakukan profiling terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, serta menjalankan pengawasan terhadap masjid-masjid oleh Kepolisian New York selama lebih dari satu dekade.

Data Federal Bureau of Investigation (FBI), lanjutnya, mencatat kejahatan berbasis kebencian terhadap Muslim meningkat hingga 1.600 persen pada periode tersebut.

Namun, di tengah tekanan itu, tingkat konversi ke Islam justru meningkat tajam. Al-Qur’an disebut menjadi salah satu buku paling banyak dicari di Amerika Serikat. Banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal Islam mulai mencari informasi lebih dalam dan sebagian akhirnya memeluk agama tersebut.

“Setiap kali tekanan datang, Islam justru semakin dikenal. Kebencian itu tanpa sadar telah menjadi jalan dakwah yang paling efektif,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa Islamofobia bukan fenomena sesaat yang lahir dari satu peristiwa. Menurutnya, ketakutan terhadap Islam di Barat memiliki akar sejarah panjang, mulai dari Perang Salib, kolonialisme, hingga konflik-konflik kontemporer yang terus membentuk narasi Islam sebagai ancaman.

Shamsi Ali menilai yang berubah hanyalah momentum dan konteksnya, bukan struktur persoalannya.

“Setiap kali ada konflik yang melibatkan dunia Islam, Muslim di Amerika selalu ditempatkan pada posisi yang sama, yakni memilih antara iman, kemanusiaan, dan loyalitas kepada negara. Ini tidak adil dan perlu diatasi dengan cara yang cerdas,” pungkasnya.

UMY Awards 2026 dianugerahkan langsung oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., didampingi Ketua Tim Seleksi Dr. Suswanta dan Sekretaris Tim Seleksi Prof. Dr. Suciati, M.Si. Acara tersebut turut dihadiri jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Diantaranya Ketua PP Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrahman, Dr Agung Danarto, dan Dr Busyro Muqoddas. Selain itu hadir pula tokoh Muhammadiyah lainnya seperti Habib Chirzin, Immawan Wahyudi, dan Prof Edy Suandi Hamid (ID)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Cabang Ranting dan Masjid Award VI LPCRPM di Banjarmasin (13-16 No....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Narasi empatik diyakini menjadi kunci keberhasilan gerakan sosial dan ....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Direktur Utama Suara Muhammadiyah/PT Syarikat Cahaya Media (SCM) Deni....

Suara Muhammadiyah

22 July 2023

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Sepuluh mahasiswa UMMAD menjadi surveyor perkembangan terbaru (update) ....

Suara Muhammadiyah

7 October 2024

Berita

WONOSOBO, Suara Muhammadiyah - Udara sejuk pegunungan Dieng tak menyurutkan semangat rombongan Angka....

Suara Muhammadiyah

4 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah