Kisah-Kisah Pemimpin Dzalim
Oleh: Immawan Wahyudi, Pengajar pada Fakultas Hukum UAD, mantan Ketua Umum DPP (S) IMM 1985-1986
Disamping ayat-ayat Al-Qur’an banyak yang merupakan landasan etik dan yuridis kepemimpinan ummat manusia, dalam Al-Qur’an juga banyak merekam model-model kepemimpinan dzalim yang menjadi norma larangan. Semuanya merupakan rekaman historis para pemimpin yang selanjutnya menjadi doktrin kepemimpinan. Salah satu dari ayat yang terkait dengan kepemimpinan adalah apa yang difirmankan Allah dalam ayat 165 – 167 surat al-Baqarah. Tiga ayat tersebut memberikan isyarat yang sangat tegas tentang larangan mendukung pemimpin yang dzalim --yang pada akhirnya juga akan mendzalimi para pendukungnya.
Sekurang-kurangnya terdapat lima tokoh pemimpin dzalim dalam al-Qur’an yang polanya berulang hingga kini: berkuasa, berperilaku sombong, senang menindas dan berakhir dengan kehancuran. Fir‘aun Adalah simbol penguasa politik tiranik yang mengklaim diri sebagai penguasa mutlak. Fir’aun berkata “Wahai para pembesar kamumku. Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku...” (QS Al-Qasas:38).
Bentuk kedzaliman politik kekuasaan Fir’aun antara lain adalah memecah-belah rakyatnya sendiri. “Sesungguhnya Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok dengan tujuan untuk melemahkan” (QS Al-Qasas:4). Fir’aun juga memerintahkan menyembelih anak laki-laki dari Bani Israil” (QS Al-Qasas: 4). ”Demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan”. (QS Al-An‘am: 129). Dampak dari kepemimpinan dzalim adalah sebagai sumber kehancuran moral secara kolektif yang bermuara pada turunnya adzab dari Allah Swt. (QS Al-An’am: 133). Akhir tragis dari Fir’aun adalah ditenggelamkan di laut bersama bala tentaranya (QS Al-Qasas:40) dan “dikejar laknat di dunia dan dijauhkan dari rahmat di akhirat” (QS Al-Qashas: 42).
Tokoh-tokoh pemimpin lain yang disebutkan secara eksplisit ataupun implisit dalam al-Qur’an adalah Qarun dan Haman yang berkoalisi dengan Fir’aun lalu raja Namrud dan Raja Babilonia yang berkuasa pada masa Nabi Ibrahim As yang namanya tidak disebut secara eksplisit, namun kisahnya tertuang dalam QS Al-Baqarah: 258 yakni raja yang mengaku dapat menghidupkan dan mematikan seseorang. ’Ala kulli hal perilaku dzalim itu tergambarkan berupa perilaku amat sangat memuakkan yang tentu dampaknya menyengsarakan rakyat.
Kedzaliman dalam Konteks Negara
Data dan fakta sejarah umat manusia di dunia telah dengan jelas digambarkan oleh Al-Qur’an al-Kariim. Data dan fakta sejarah juga merekam perilaku pemimpin yang ekstrem kedzalimannya. Sebutlah nama-nama: 1. Raja Herodes Antipas (Yudea Kuno) yang melakukan eksekusi mati demi janji pesta pora. 2. Selanjutnya Jenderal Titus dan Kaisar Domitianus (penguasa dalam Kekaisaran Romawi). 3. Lalu ada Presiden Robert Mugabe (dari Zimbabwe) yang menggelar pesta mewah dari hasil rampasan di tengah keadaan kelaparan nasional, dan 4. Jean-Bédel Bokassa (dari Kekaisaran Afrika Tengah) yang melakukan pemborosan kas negara dan berujung pembantaian anak.
Secara agak detail, Raja Herodes Antipas (yang berkuasa pada masa Yudea Kuno) kedzalimannya adalah menggunakan nyawa manusia sebagai hadiah atau alat pemuas kepuasan pada pesta ulang tahun. Dalam ranah hukum Herodes melakukan eksekusi secara sewenang-wenang, tidak ada proses hukum yang sah dalam bahasa sekarang sering disebut dengan unlawful killing. Berdasarkan catatan teks kuno dan sejarah Yudea abad ke-1 Masehi, Herodes Antipas mengadakan pesta ulang tahun yang mewah bersama para pejabat dan tetua Galilea . Dalam acara tersebut, putri tirinya, Salome, menari dan sangat menyenanginya. Herodes yang mabuk, berjanji akan memberikan apa saja yang diminta sang putri. Atas hasutan ibunya, Salome meminta kepala Yohanes Pembaptis. Demi menjaga gengsi di depan para tamu pesta, Herodes memerintahkan algojo memenggal Yohanes di dalam penjara dan membawa kepalanya di atas talam langsung ke ruang pesta.
Demikian pula Jenderal Titus dan Kaisar Domitianus (Kekaisaran Romawi) yang melakukan Pembantaian massal terhadap budak dalam status mereka sebagai tawanan. Dalam kaitan pembunuhan ribuan manusia tak berdaya demi tontonan dan hiburan ulang tahun. Tentu ini merupakan pelanggaran terhadap hukum dan kemanusiaan. Dalam konstitusi kuno berlaku hukum perlindungan hukum bagi tawanan yang sudah menyerah. Pendeta Yahudi kuno, Flavius Josephus, mencatat dalam kitab The Jewish War. Setelah berhasil menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 M, Jenderal Titus membawa puluhan ribu tawanan perang Yahudi ke kota Kaisarea Maritima. Saat merayakan hari ulang tahun saudaranya, Domitianus, (yang kemudian menjadi Kaisar Romawi), Titus menggelar pertunjukan besar di amfiteater. Tercatat lebih dari 2.500 orang tawanan Yahudi yang dieksekusi mati dalam satu hari dengan cara mereka dipaksa bertarung melawan binatang buas atau dibakar hidup-hidup sebagai bentuk selebrasi.
Selanjutnya tokoh Jean-Bédel Bokassa (dari Kekaisaran Afrika Tengah) yang menghambur-hamburkan kas negara secara brutal dan melakukan pembantaian anak. Maksudnya Jean Bedel mengorbankan hidup anak-anak demi kemewahan sebagai penguasa absolut. Pada masa kepemimpinannya korupsi tidak lagi bisa disebut korupsi biasa karena lebih tepat digunakan istilah penjarahan total kas negara. Demikian juga Jean-Bedel melakukan pembunuhan massal secara melawan hukum.
Dari berbagai peristiwa diatas, baik yang dikisahkan oleh al-Qur’an maupun sejarah umat manusia yang tercatat dalam dinamika kehidupan bernegara secara sosio-politik, secara hukum dan secara moral memberikan benang merah sejarah adanya perayaan ulang tahun pemimpin yang mengorbankan segala macam kebaikan, mengabaikan hukum dan menyalahkan orang benar, sebaliknya membenarkan orang yang salah. Dalam kaitan ini terdapat tiga faktor utama yang bisa dirunut untuk menganalisis perilaku pemimpin dzalim yakni:
Pertama, adanya perilaku megalomaniak dalam ranah ketatanegaraan. Pada satu sisi sang pemimpin menganggap dirinya berada di atas hukum (Rex is Lex - Raja adalah Hukum itu sendiri). Pada sisi lain batasan moral tidak berlaku bagi pemimpin.
Kedua, suasana demikian ini, baik yang termaktub dalam al-Qur’an maupun yang tercatat dalam sejarah dinamika kehidupan umat manusia membawa pada dekadensi kemanusiaan dimana nasib manusia dalam konteks kekuasaan dinilai lebih rendah dibandingkan kepuasan ego dan gengsi seremonial kekuasaan.
Ketiga, secara kebetulan --atau memang demikianlah Allah Swt memberikan pengajaran pada umat manusia-- suasana kedzaliman para pemimpin itu juga terkait dengan apa yang dikenal sebagai korupsi sistemik. Sedemikian rupa koruptif-sistemiknya sehingga pesta ulang tahun --dalam ukuran pemimpin dzalim yang akut-- tidaklah cukup dirayakan di hotel termewah di dunia karena sang pemimpinan ingin menunjukkan dirinya sebagai manusia super mewah secara sempurna --dalam kebobrokan moralitasnya.*

