Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (2)
Penulis: Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Sulawesi Barat
Alhamdulillah, sebelum azan Subuh berkumandang mata saya telah terbuka. Beberapa saat saya terdiam, lalu tersenyum kecil. Baru saya tersadar, malam ini saya tidak sedang berada di rumah, tidak pula di hotel ataupun di masjid. Saya sedang berada di tengah bentangan Laut Jawa, di atas KM Dharma Kencana VII, bersama putra tercinta, Ahmad Dahlan.
Suara mesin kapal yang sejak semalam mengiringi tidur kini terdengar seperti irama yang menenangkan. Angin laut yang masuk melalui celah-celah dek menghadirkan kesejukan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hari kedua perjalanan pun dimulai.
Saya segera menuju kamar mandi. Alhamdulillah, salah satu hal yang patut disyukuri adalah kebersihan fasilitas kapal ini. Air mengalir lancar dan kamar mandi terawat. Bagi seorang musafir, nikmat seperti ini terasa sangat besar. Sebab perjalanan panjang akan jauh lebih nyaman ketika kebutuhan dasar dapat terpenuhi dengan baik.
Usai bersuci, saya menggandeng tangan Ahmad Dahlan menuju mushala kapal. Ternyata jamaah sudah sangat banyak. Mushala yang tidak terlalu luas membuat shalat berjamaah harus dilaksanakan secara bergelombang. Syukur Alhamdulillah, kami masih mendapat tempat pada gelombang pertama, meski berada di saf paling belakang.
Begitu salam diucapkan, kami tidak berlama-lama. Jamaah berikutnya telah mengantre di luar. Selepas Subuh, kami menaiki dek paling atas di dek 8. Di sanalah Allah memperlihatkan salah satu lukisan terindah ciptaan-Nya.
Di ufuk timur, perlahan-lahan cahaya mulai muncul dari balik cakrawala. Mula-mula hanya semburat jingga yang tipis. Lalu berubah menjadi cahaya keemasan yang memantul di permukaan laut. Sedikit demi sedikit, matahari bangkit, seolah membuka tirai kehidupan yang baru.
Cukup ramai penumpang berdiri memandang ke arah yang sama. Ada yang mengabadikan momen dengan kamera, ada yang menikmati secangkir kopi hangat, ada pula yang hanya diam memandang lautan.
Saya memilih membuka mushaf Al-Qur'an. Di samping saya, Ahmad Dahlan mulai menyetorkan hafalannya. Di tengah lautan yang begitu luas, suara lantunan ayat-ayat Allah terasa jauh lebih meresap ke dalam hati.
Saat itulah saya kembali menyadari, bahwa membaca ayat qauliyah melalui Al-Qur'an akan terasa semakin sempurna ketika disandingkan dengan membaca ayat kauniyah yang terbentang di hadapan mata.
Di tengah laut, tidak ada gunung, tidak ada gedung tinggi, tidak ada keramaian kota. Yang ada hanyalah langit dan samudera tanpa batas.
Saat itulah manusia benar-benar merasa kecil. Betapa mudah Allah menenangkan lautan.,Betapa mudah Allah mengangkat ombak.,Dan betapa mudah pula Allah mengambil kembali kehidupan setiap hamba-Nya.
Jika kapal sebesar ini saja tampak begitu kecil di tengah samudera, lalu sebesar apakah sebenarnya diri kita di hadapan Sang Pencipta alam semesta?
Di tempat seperti inilah dzikir terasa lebih khusyuk. Doa menjadi lebih tulus. Dan hati lebih mudah menangis.
Tak lama kemudian terdengar pengumuman bahwa sarapan telah disiapkan. Salah satu keistimewaan perjalanan dengan kapal laut adalah setiap penumpang mendapatkan jatah makan. Menunya sederhana, namun cukup menggugah selera. Untuk orang dewasa tersedia daging berbumbu dan ada pedasnya, sedangkan anak-anak mendapat menu yang lebih ramah dengan lidah mereka, yakni daging dengan balutan kecap manis.
Saya memperhatikan Ahmad Dahlan yang makan dengan lahap.
"Enak sekali bapak," katanya sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum.
Barangkali benar, udara laut membuat rasa lapar datang lebih cepat, sehingga makanan sederhana pun terasa sangat nikmat.
Setelah matahari mulai meninggi, saya kembali ke kamar mandi untuk mandi. Kini antrean sudah jauh berkurang. Air yang segar membuat tubuh kembali bugar.
Selesai mandi, kami kembali menuju mushala. Di sanalah sebagian besar waktu kami habiskan.
Tilawah... Murajaah... Menambah hafalan... Membaca buku... Dan sesekali membuka laptop untuk menyiapkan beberapa materi kajian.
Saya memang sengaja menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga perpindahan kualitas diri. Naik kapal memiliki satu kelebihan yang mungkin tidak dimiliki pesawat, yakni Waktu.
Di kapal, kita memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal. Saya bertemu seorang guru yang juga sedang menuju pulau Jawa. Kami berbincang panjang mengenai dunia pendidikan, tantangan menjadi guru, hingga Program Makan Bergizi Gratis yang sedang ramai diperbincangkan.
Di sudut lain, saya berbincang dengan seorang ibu yang seluruh anaknya mondok di pesantren.
"Saya lebih tenang, Pak," katanya. "Di pondok, anak-anak lebih terjaga dari pengaruh handphone."
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala saya. Menjelang Zuhur, suara azan berkumandang melalui pengeras suara kapal.
Suasana kapal seketika berubah hening. Saya dipercaya menjadi imam shalat berjamaah. Shalat Zuhur kami laksanakan dengan jamak qashar sebagai bentuk rukhsah bagi musafir.
Sesudah shalat, antrean makan siang kembali mengular panjang. Namun anehnya, antrean itu tidak terasa melelahkan. Karena di dalam antrean itulah lahir banyak cerita. Ada yang bercanda, Ada yang berbagi pengalaman,.Ada yang saling bertukar nomor telepon...
Persaudaraan terasa tumbuh tanpa mengenal suku, profesi, maupun daerah asal. Di sela-sela waktu, saya berbincang dengan salah seorang awak kapal yang sedang mengangkut tumpukan sampah.
"Pak, setiap hari sebanyak ini sampahnya?"
Beliau tersenyum.
"Kalau musim liburan seperti ini bisa dua kali lipat, Pak. Penumpangnya hampir dua ribu orang."
Saya pun semakin menghargai kerja keras para petugas kebersihan kapal. Kita sering menikmati kebersihan, tetapi jarang memikirkan siapa yang bekerja keras menjaganya.
Menjelang sore, saya kembali ke mushala. Ahmad Dahlan melanjutkan hafalannya, dan saya juga melanjutkan aktifitas saya.
Beberapa ibu yang ikut mengaji tampak tersenyum melihat kelancara Ahmad Dahlan dalam membaca Al-Qur'an. Sebagai seorang bapak, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat anak mencintai kitab sucinya.
Sore harinya kami menikmati matahari tenggelam.
Jika pagi kami disuguhi sunrise yang menawan, maka petang menghadirkan sunset yang tak kalah mempesona. Di sela cahaya jingga itu, beberapa ikan melompat keluar dari permukaan laut.
Semua penumpang spontan mengeluarkan telepon genggam untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Hari itu benar-benar terasa lengkap.
Subuh kami disambut matahari terbit.
Petang kami dilepas matahari tenggelam.
Dan sepanjang hari kami ditemani ayat-ayat Allah.
Malam kembali datang.
Setelah Magrib saya kembali diminta menjadi imam.
Usai shalat, Ahmad Dahlan menikmati makan malam dengan lahap. Saya sendiri memilih menyimpan jatah makan untuk sahur esok hari karena berencana menjalankan puasa Asyura, meskipun sebagai musafir sebenarnya saya mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa, namun tetap saya usahakan bisa menunaikan salsahtu sunnah yang sangat mulia ini.
Larut malam saya kembali berjalan mengelilingi dek kapal.
Laut telah berubah menjadi hamparan hitam tanpa batas.
Langit penuh bintang.
Angin bertiup pelan.
Dalam kesunyian itu, kenangan masa lalu datang silih berganti.
Tentang perjuangan sebagai mahasiswa dahulu...
Tentang perjalanan hidup...
Tentang cita-cita yang masih ingin diwujudkan...
Tentang harapan agar setiap langkah menuju ilmu selalu bernilai ibadah.
Di tengah dinginnya malam, saya akhirnya menikmati sepiring nasi dengan ikan goreng hangat di kantin kapal.
Sederhana.
Namun terasa begitu nikmat.
Malam itu saya menutup hari dengan satu doa yang terus saya ulang dalam hati:
"Ya Allah... jika perjalanan ini Engkau ridhoi, maka jadikan setiap kilometer yang kutempuh bernilai ibadah, setiap ilmu yang kudapat menjadi cahaya, dan setiap langkah yang kuayunkan kelak menjadi manfaat bagi umat, agama, dan bangsa."
Esok subuh, insya Allah bila sesuai jadwal, kapal akan bersandar di Surabaya.
Perjalanan masih panjang.
Tetapi saya semakin yakin...
Bahwa perjalanan menuju ilmu tidak pernah sia-sia apabila setiap langkah selalu diniatkan karena Allah.
(Bersambung)

