Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (4)

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

104
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (4)

Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Sulawesi Barat

Ada tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Meski kaki telah lama melangkah pergi, hati selalu tahu jalan untuk kembali. Bus EKA yang kami tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan gerbang Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saya berdiri beberapa saat, tidak langsung berjalan. Tidak langsung memesan kendaraan. Saya hanya memandang beberapa saat.

Gedung-gedung di UMS memang sudah banyak berubah. Beberapa bangunan baru berdiri megah. Jalan-jalan kampus semakin tertata. Pepohonan tumbuh semakin rindang. Wajah UMS kini jauh berbeda dibandingkan dua puluh tahun yang lalu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki sebagai seorang mahasiswa dari Sulawesi.

Namun ada satu hal yang tidak berubah, yakni  perasaan saya. Saya masih merasakan getaran getarajn yang sulit dirangkai menjadi kata-kata. Getaran seorang anak kampung yang dulu datang membawa koper sederhana, uang yang pas-pasan, tetapi membawa mimpi yang begitu besar. Hari itu, Allah mempertemukan kembali saya dengan tempat yang telah mengubah arah hidup saya.

Kami memesan Grab menuju Pesantren Mahasiswa (Pesma) KH. Mas Mansur UMS, tempat seluruh peserta Training of Trainers Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah akan menginap. Sepanjang perjalanan, Ahmad Dahlan terus melihat keluar jendela. "Bapak... UMS bagus ya..."

Saya tersenyum. "Iya, Nak. Dulu bapak belajar dikampus ini, semua Gedung yang tinggi itu milik UMS tempat bapak dulu kuliah" Ia kembali melihat jalanan. Mungkin baginya ini hanyalah kota baru.

Tetapi bagi saya... Setiap tikungan memiliki cerita. Setiap lampu merah menyimpan kenangan. Bahkan setiap pohon yang kami lewati seolah mengingatkan saya pada masa-masa ketika berjalan kaki menuju kampus demi menghemat ongkos.

Perjalanan ini ternyata bukan sekadar perjalanan menuju sebuah pelatihan. Ia adalah perjalanan pulang menuju kenangan. Sesampainya di Pesma, beberapa panitia sudah berdiri menyambut peserta. Senyum mereka begitu hangat. Belum sempat saya mengangkat koper, salah seorang panitia langsung menghampiri. "Pak Furqan? Mari Pak... kami bantu."

Saya sempat menolak dengan halus. Namun mereka tetap mengambil koper saya. Saya tersenyum sendiri. Dulu... Ketika masih menjadi mahasiswa di Solo, saya sering menjadi panitia seperti mereka.

Menyambut tamu, mengangkat barang, menunjukkan kamar, menyiapkan konsumsi. Hari ini Allah membalikkan keadaan. Kini saya yang disambut. Saya semakin yakin bahwa kebaikan yang pernah kita lakukan, sekecil apa pun, suatu hari akan kembali kepada kita dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Kamar sederhana itu menjadi tempat istirahat kami. Begitu masuk, Ahmad Dahlan langsung merebahkan badan.Saya pun segera mandi, air dingin yang membasahi tubuh seakan menghapus seluruh lelah perjalanan panjang dari Mamuju, Makassar, Surabaya, hingga Solo. Usai mandi, kami menuju masjid Pesma untuk menunaikan shalat Zuhur. Langkah kaki menuju masjid terasa ringan.

Saya kembali mengenali suasana kampus yang dulu begitu akrab. Suara adzan, deretan mahasiswa dan

wajah-wajah penuh semangat. Semuanya membawa saya kembali pada masa ketika saya juga pernah menjadi bagian dari mereka. Karena Ahmad Dahlan tidak berpuasa, selepas shalat saya mengajaknya keluar mencari makan. Belum ada informasi konsumsi dari panitia, kami berjalan menyusuri jalan kecil di sekitar kampus. Pilihan kami jatuh pada nasi ayam geprek.

Menu sederhana. Tetapi bagi Ahmad Dahlan, itulah makan siang yang paling ditunggu.

Saya memperhatikannya makan dengan lahap. Di dalam hati saya berdoa,

"Ya Allah... semoga suatu hari nanti anak ini juga Engkau pertemukan dengan tempat-tempat yang akan membentuk masa depannya sebagaimana Engkau mempertemukan bapaknya dengan Solo."

Siang itu udara Solo terasa cukup panas, kami kembali ke kamar., Ahmad Dahlan tertidur lebih dulu.

Sedangkan saya membuka laptop. Beberapa materi ToT mulai saya baca-baca  ulang.

Saya ingin datang sebagai peserta yang siap belajar. Karena semakin lama mengajar, saya justru semakin sadar bahwa menjadi pembelajar jauh lebih penting daripada sekadar menjadi pembicara.

Ilmu tidak pernah berhenti mengajari orang yang rendah hati. Belum lama saya membaca materi, telepon genggam saya berdering. Nama yang muncul membuat saya langsung tersenyum. Ustadz Muk Andhim. Beliau adalah santri saya dulu ketika menjadi pembina di Pondok Shabran, dan sekarang dia sudah menjadi pembina.

Dengan suara hangat beliau berkata, "ustadz Furqan... sore ini siap ya. Antum kami minta mengisi sarasehan di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran." Saya menjawab singkat, "Insya Allah, Ustadz."

Sebenarnya ajakan ini sudah beliau sampaikan beberapa hari sebelum saya berangkat dari Mamuju. Namun ketika telepon itu benar-benar datang, hati saya tetap berdebar. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan karena akan menjadi pembicara. Tetapi karena Allah kembali mempertemukan saya dengan pondok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Dulu saya datang ke sana sebagai seorang santri. Kemudian Allah memberi amanah menjadi pembina.

Hari ini saya kembali sebagai narasumber.Betapa indah cara Allah menulis takdir.Tempat yang dahulu mendidik kita, suatu hari justru mengundang kita untuk berbagi. Saya menutup laptop. Merapikan pakaian. Lalu memandang Ahmad Dahlan yang masih tertidur pulas. Di dalam hati saya berbisik,

"Ya Allah... semoga anak ini juga kelak memiliki tempat-tempat yang akan selalu ia rindukan. Tempat yang membentuk ilmu, akhlak, dan cita-citanya sebagaimana Engkau membentukku di kota ini."

Sore mulai merambat, saya pun bersiap melangkah. Di luar, sebuah pertemuan yang sudah bertahun-tahun dinanti ternyata sedang menunggu saya...Pelukan yang Tak Pernah Menua "Ada pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi mampu menghangatkan hati selama bertahun-tahun."

Sore itu matahari Solo mulai condong ke barat. Udara masih terasa hangat ketika saya keluar dari kamar Pesma. Saya sengaja berdiri di tepi jalan agar mobil penjemput lebih mudah menemukan saya. Hari itu saya akan kembali menginjak sebuah tempat yang sangat saya cintai.Pondok Hajjah Nuriyah Shabran.

Tempat yang bukan sekadar pondok. Tetapi rumah yang pernah menempa cara berpikir, cara berjuang, bahkan cara saya memandang kehidupan. Saya berdiri sambil menikmati lalu lalang kendaraan di depan Masjid KH. Mas Mansur UMS.

Belum lama saya berdiri, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari arah belakang. "Ustadz Furqan...!"

Saya menoleh. Beberapa langkah dari tempat saya berdiri, seorang lelaki bertubuh tegap sedang berjalan cepat menghampiri. Semakin dekat.,Semakin jelas wajahnya. Dan dalam hitungan detik kami sama-sama tersenyum lebar."Mas Halim...!" Tanpa banyak kata kami langsung berjabat tangan. Lalu berpelukan. Pelukan yang sederhana. Tetapi menyimpan begitu banyak cerita.

Beliau adalah Abdul Halim.Sahabat lam, komandan Kokam yang saya kenal sejak masih menjadi mahasiswa di Solo. Kini beliau menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kami saling memandang beberapa saat. Rasanya baru kemarin kami sama-sama menjadi pemuda Muhamamdiyah  yang penuh mimpi.

Kini... Allah mempertemukan kami kembali dengan cerita hidup yang sudah sangat berbeda. Begitulah persahabatan. Ia tidak diukur dari seberapa sering bertemu, akan tetapi dari seberapa hangat hati ketika dipertemukan kembali.

Kami duduk di bawah rindangnya pepohonan. Obrolan langsung mengalir tanpa perlu pembuka. Tentang keluarga, cerita tentang anak-anak, tentang pekerjaan dan Tentang dakwah. Tentang teman-teman lama. Nama demi nama kembali disebut. Ada yang kini menjadi dosen, Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi muballigh, dan ada pula yang telah lebih dahulu dipanggil Allah. Sesekali kami tertawa, sesekali juga terdiam. 

Ternyata... Usia boleh bertambah. Jabatan boleh berubah, tetapi persahabatan yang dibangun karena Allah tidak pernah mengenal kata tua. Saya teringat ayahanda beliau, almarhunm Pak Dr Slamet Warsidi, Beliau bukan orang asing dalam perjalanan hidup saya. Justru beliau pernah menjadi dosen yang sangat saya hormati. Bahkan suatu masa saya pernah dipercaya menjadi asistennya beliau.

Saya tersenyum sendiri. Betapa indah jalan yang Allah susun. Seorang mahasiswa yang dulu duduk di bangku kuliah... Kini kembali bertemu anak dosennya sebagai sesama pejuang. Tak ada yang kebetulan dalam hidup. Allah hanya sedang memperlihatkan betapa indahnya takdir ketika kita mau bersabar menjalaninya.

Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan kami. Di badan mobilnya tertulis jelas,  Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. Saya menarik napas panjang, ada rasa yang sulit dijelaskan. Mobil ini bukan sekadar kendaraan. Tetapi seperti mesin waktu yang membawa saya kembali dua puluh tahun ke belakang.

Saya melangkah masuk, Perjalanan menuju pondok dimulai. Di sepanjang jalan, hati saya terus berkata, "Ya Allah... Engkau benar-benar Maha Membolak-balikkan keadaan." Dulu... Saya datang ke pondok ini membawa koper seorang santri. Hari ini...Saya kembali dengan membawa amanah untuk berbagi kepada para santri. Maka benarlah firman Allah, Bahwa Dia meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Bukan untuk dimuliakan manusia. Tetapi agar semakin besar tanggung jawabnya untuk melayani umat.

Ketika sudah sampai di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran mulai terlihat dari kejauhan. Saya seperti sedang pulang. Pulang Ke rumah yang pernah mengajarkan saya arti kesederhanaan. Pulang ketempat yang pernah menempa air mata, doa, dan cita-cita. Dan saya sadar ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Karena sesungguhnya...Tempat itu telah menjadi bagian dari diri kita.

Begitu saya turun dari mobil, beberapa ustadz  dan mahasantri sudah berjalan menyambut. Di antara mereka saya melihat sosok yang begitu saya kagumi. Ustaz Muk Andhim, santri saya dulu yang lugu, sekarang sudah menjadi pembina pondok, dan kelihatan lebih berwibawa.

Beliau tersenyum lebar. "Alhamdulillah... akhirnya sampai juga ustadz."

Kami berjabat tangan erat. Pelukan hangat itu seolah menghapus jarak waktu yang telah memisahkan kami selama bertahun-tahun. Tak lama kemudian hadir pula Mudir Pondok, Kiai Haji Jazuli Al-Demaky.

Beliau menyambut saya dengan keramahan yang sejak dulu memang menjadi ciri khas keluarga besar Shabran. Saya selalu percaya bahwa Ilmu yang diberkahi biasanya lahir dari orang-orang yang rendah hati.

Dan saya melihat itu di wajah para guru saya. Sambil menunggu azan Magrib, kami duduk berbincang di ruang tamu pondok. Obrolannya sederhana, tentang kabar Mamuju. Tentang perkembangan dakwah Muhammadiyah. Tentang para alumni Shabran yang kini tersebar di seluruh Indonesia. Sesekali kami tertawa mengenang masa-masa ketika saya masih menjadi santri dan pembina pondok dulu.

Ada begitu banyak kisah lucu. Ada santri yang terlambat bangun.

Ada yang sembunyi-sembunyi memasak mi tengah malam. Ada yang tertidur saat muhadharah. Dan ada pula yang kini justru menjadi ustaz yang membimbing banyak orang.

Begitulah pendidikan. Ia bekerja dalam diam. Hasilnya sering kali baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Tidak terasa azan Magrib berkumandang. Kami segera berbuka. Kurma. Buah-buahan. Teh hangat.

Menu yang sederhana. Namun nikmatnya terasa luar biasa. Mungkin karena kami menikmatinya bersama orang-orang yang dipersatukan oleh perjuangan.Saya selalu merasakan... Makanan yang paling lezat bukanlah makanan yang mahal. Tetapi makanan yang dimakan dalam suasana penuh keberkahan.

Seusai shalat Magrib berjamaah, salah seorang panitia menghampiri saya.

"Pak Ustadz... para santri sudah berkumpul di Masjid Syarif."

Saya mengangguk, saya berjalan menuju masjid. Semakin dekat Semakin terdengar suara para mahasantri dan mahasatriwati.

Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada logat Sumatra, ada logat Kalimantan., ada Sulawesi dan tentu ada logat Jawa. Mereka semua dipersatukan oleh satu cita-cita yakni kelak akan menjadi kader Muhammadiyah 

Pemandangan itu membuat hati saya bergetar, saya seperti melihat diri saya dua puluh tahun yang lalu. Duduk bersila, membawa buku. Haus akan ilmu, penuh mimpi dan menyimpan penuh harapan.

Ketika nama saya dipanggil, saya melangkah menuju mimbar. Sebelum saya memulai, Saya memandang wajah-wajah muda di hadapan saya. Ratusan pasang mata menatap penuh perhatian Di antara mereka, mungkin sedang duduk calon rektor. Calon menteri., calon ulama, Calon guru besar, calon ketua PWM atau calon ketua PCM. Calon pemimpin umat.

Siapa yang tahu? Bukankah sejarah selalu dimulai dari ruang-ruang sederhana seperti ini?

Saya menarik napas panjang. Lalu membuka kajian dengan senyum.

"Adik-adikku...

Melihat kalian malam ini, saya seperti sedang melihat diri saya sendiri dua puluh tahun yang lalu..."

Masjid tiba-tiba menjadi sangat hening. saya tidak langsung masuk ke materi. Saya memilih bercerita. tentang kehidupan sebagai santri. Tentang perjuangan hidup. Tentang bagaimana Allah membentuk seseorang bukan melalui jalan yang mudah, tetapi melalui jalan yang penuh ujian. saya melihat beberapa santri mulai mengangguk. Ada yang tersenyum, ada juga yang mencatat. Dan saya tahu... Ketika hati sudah terbuka, ilmu akan lebih mudah masuk.

Barulah kemudian saya mengajak mereka membuka Surah Al-Muzzammil.

Saya membaca perlahan,

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

"Wahai orang yang berselimut... bangunlah untuk salat malam, kecuali sedikit."

Saya Lalu bertanya kepada mereka, "Tahukah kalian mengapa Allah tidak langsung memerintahkan Nabi membangun peradaban?" Saya melanjutkan, "Karena sebelum membangun umat... Allah terlebih dahulu membangun jiwa Nabi."

Saya melihat beberapa kepala mulai mengangguk pelan. Lalu saya berkata dengan suara yang sedikit lebih dalam, Perubahan besar tidak lahir dari tangan yang kuat akan tetapi dari hati yang dekat dengan Allah. Peradaban tidak dibangun pertama kali oleh teknologi... tetapi oleh manusia yang mampu mengendalikan dirinya. Dan pengendalian diri itu dimulai dari sujud panjang di sepertiga malam."

Masjid kembali hening. Saya merasakan bukan hanya telinga yang mendengar. Tetapi hati mereka sedang bekerja. Saya lalu menutup materi dengan kalimat yang sampai hari ini masih saya yakini sepenuh hati. "Kader Muhammadiyah masa depan bukan hanya mereka yang menguasai kecerdasan buatan, big data, atau teknologi digital. Kader sejati adalah mereka yang ketika semua orang masih terlelap, ia sudah lebih dahulu berdiri menghadap Allah.

Sebab dunia membutuhkan orang-orang pintar. Tetapi peradaban hanya akan diselamatkan oleh orang-orang yang juga hatinya hidup." Saya melihat sebagian santri menundukkan kepala. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang diam sambil menggenggam buku catatannya lebih erat, dan ada juga yang mengabadikan suasana dengan handphone.

Saat itu saya tidak tahu apakah mereka akan mengingat semua materi saya. Tetapi saya berharap. Setidaknya ada satu kalimat yang mereka bawa pulang. Satu kalimat yang kelak akan menemani mereka ketika menghadapi ujian hidup. Karena saya percaya... Kadang Allah mengubah hidup seseorang hanya melalui satu nasihat yang masuk ke dalam hati pada waktu yang tepat.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

PAK RUSTAMADJI: Visio dan Lompatan-lompatan UNIMUDA Masjid Salman Al-Farisi Unimuda-Sorong, Jumat 1....

Suara Muhammadiyah

25 November 2023

Humaniora

Silaturrahmi 1447: Perjumpaan Fisik dan Peningkatan Kualitas Oleh: Mahli Zainuddin Tago Jogja, 26 ....

Suara Muhammadiyah

29 March 2026

Humaniora

Proyek 1 Triliun Oleh: Joko Intarto  Permata Bank Syariah (PBS) sebagai wakif sistem informas....

Suara Muhammadiyah

20 November 2023

Humaniora

Oleh: Dr Sarli Amri, Wakil Ketua PDM Kota Tangerang Spanduk itu membentang gagah, menjadi saksi bis....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Humaniora

Ramadan, Takwa, dan Amanah sebagai Khalifah di Bumi Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhamam....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah