Kontribusi Sutrimo untuk Muhammadiyah
Oleh: Shubhi Mahmashony Harimurti, Dosen Universitas Islam Indonesia
Sudah banyak ulasan mengenai peran Sutrimo dalam pembangunan Masjid Al-Fattah di Kepatihan, Tulungagung. Hal ini disebabkan kontribusi lelaki yang merupakan pengusaha kacang tersebut yang memang patut diapresiasi. Berdiri megahnya Masjid Al-Fattah, Tulungagung merupakan bukti nyata. Namun, perlu diingat bahwa Sutrimo bukan satu-satunya orang yang berjasa dalam penyelesaian pembangunan masjid di Jalan Letjen Suprapto Nomor 33, Tulungagung. Para pendahulu, tokoh masyarakat setempat, warga Muhammadiyah Tulungagung, dan jemaah masjid juga memiliki andil dalam kemegahan masjid tanpa tiang tersebut.
Terlepas dari kontroversi nan bombastis dalam sejumlah pemberitaan pembangunan Masjid Al-Fattah dengan Sutrimo sebagai donatur utamanya, publik perlu memahami bahwa sebelum tempat ibadah yang berfilosofi sujud tersebut selesai dibangun ulang, Sutrimo sudah memberikan andil dalam perjuangan dakwah Muhammadiyah. Lahir dan besar di Ngunut, Tulungagung, sekitar 15 km ke arah timur dari pusat kota, lelaki berambut perak tersebut tidak terlahir sebagai orang kaya. Dia hanya lulusan Sekolah Rakyat. Sebagian besar saudaranya merantau ke luar Jawa untuk menyukseskan program pemerintah yang bertajuk transmigrasi. Hanya Sutrimo yang tidak diajak pindah ke luar pulau. Namun, itu justru menjadi awal mula kesuksesan lelaki berusia 75 tahun tersebut. Demikian penuturan Sutrimo kepada penulis pada Idulfitri 1447 H atau 2026 M.
Berjualan tas keliling dan menjadi anak buah juragan beretnis Tionghoa merupakan keseharian Sutrimo pada masa mudanya. Ketekunannya dalam bekerja membuatnya mendapatkan hasil dari jerih payahnya satu per satu. Kini, perusahaan kacang, Stasiun Pengisian Bahan Umum, hingga perkebunan alpukat telah dimiliki oleh Sutrimo. Dirinya seolah menahbiskan diri bahwa urusan dunianya kini telah paripurna. Dia ingin sepenuhnya mengabdikan diri kepada Islam, khususnya melalui Muhammadiyah.
Di kampung halamannya, Sutrimo berperan dalam kemakmuran Masjid Al-Ishlah di Ngunut. Pusat dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngunut ini juga sering dibantu oleh Sutrimo. Saat penulis menjalankan tugas sebagai imam dan khotib Idulfitri 2019 M, Sutrimo terlihat memberikan donasi kepada para jemaah. Suatu keteladanan yang patut dicontoh oleh siapa pun.
Masih di Ngunut, lelaki yang sering disapa Abah Trimo ini juga tercatat sebagai donatur Madrasah Ibtidaiyah ‘Aisyiyah, Ngunut. Perkaderan anak di jenjang pendidikan dasar seolah tidak luput dari perhatian Sutrimo meskipun dia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Sekolah menengah tidak pernah ditempuhnya, apalagi meraih gelar akademik. Seakan dia berpesan agar tidak sampai ada generasi muda yang pendidikannya terbengkalai seperti dirinya pada masa lalu.
Kembali ke Masjid Al-Fattah, melengkapi tulisan yang sudah banyak beredar, kini Sutrimo baru saja membeli bekas kompleks pabrik rokok yang berada sekitar 200 meter di sebelah timur tempat ibadah milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung tersebut. Rencananya, kompleks tersebut akan digunakan sebagai tempat bermukim para takmir yang sengaja direkrut secara profesional dan bersedia bekerja penuh waktu untuk Masjid Al-Fattah. Tidak tanggung-tanggung, batas usia takmir adalah 25 tahun. Jadi, untuk memfasilitasi mereka yang sudah mewakafkan hidup mereka untuk Muhammadiyah melalui Masjid Al-Fattah, Sutrimo menyediakan tempat penginapan.
Terbaru, Sutrimo seolah tidak ingin hanya Muhammadiyah Tulungagung yang maju. Dia mengisyaratkan bahwa perkaderan ulama Tarjih Muhammadiyah juga semakin menunjukkan taringnya. Seiring dengan kurang memadainya kompleks Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Kaliurang, Yogyakarta, dan di beberapa titik di Kota Pelajar, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah bermaksud membangun gedung PUTM baru di Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah.
Sutrimo pun menyatakan sanggup membantu penyelesaian Kawah Candradimuka Ulama Tarjih tersebut. Nominal yang menyentuh angka miliaran rupiah dia gelontorkan guna memenuhi target agar gedung tersebut selesai sebelum helatan Muktamar ke-49 di Medan, Sumatra Utara pada tahun 2027 mendatang. Hal yang unik adalah cara Sutrimo menyerahkan donasinya. Bukan dengan transfer, apalagi dengan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS), tetapi dengan membawa langsung uang tunai dalam kardus melewati 224 km dari Tulungagung ke Yogyakarta. Sekali lagi, perlu diingat bahwa kontribusi Sutrimo di atas bukan satu-satunya; masih banyak donatur lain yang tidak boleh dilupakan.

