Langkah Positif di Tahun Baru Hijriyah

Publish

15 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
141
Sumber foto magnific

Sumber foto magnific

Langkah Positif di Tahun Baru Hijriyah  

Penulis: Dr.  Amalia Irfani,  M.Si, LPPA PWA Kalbar/Dosen IAIN Pontianak

Tahun baru Hijriyah 1448 hadir sebagai momentum yang sarat makna. Dalam tradisi Islam, setiap pergantian waktu adalah tanda kebesaran Allah dan panggilan untuk melakukan muhasabah diri. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan simbol transformasi sosial dan spiritual. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa hijrah sejati adalah perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran. Dengan demikian, tahun baru Hijriyah mengingatkan kita agar tidak sekadar berpindah waktu, tetapi berpindah sikap dan perilaku.  

Dalam perspektif sosiologi Islam, hijrah juga mencerminkan proses pembentukan masyarakat yang lebih adil dan beradab. Nabi membangun Madinah sebagai kota yang menegakkan solidaritas, keadilan sosial, dan toleransi antar umat. Ini menjadi teladan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial, bukan hanya spiritual. KH. Ali Mustafa Yaqub pernah berpesan, “Tahun baru Hijriyah adalah saat terbaik untuk menghitung amal, bukan sekadar menghitung usia.” 

Petuah ini mengingatkan bahwa umur yang bertambah tidak otomatis berarti kualitas hidup meningkat. Justru, setiap tahun baru adalah kesempatan untuk memperbaiki kekurangan, memperkuat ibadah, dan memperluas manfaat bagi sesama. Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia. Maka, langkah positif di tahun baru harus mencakup kepedulian sosial, keadilan ekonomi, dan penguatan ukhuwah.  

Sementara itu Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah menekankan bahwa Islam harus hadir sebagai agama yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pesan beliau yang terkenal, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” mengandung makna mendalam bahwa perjuangan harus berorientasi pada pengabdian, bukan kepentingan pribadi. Dalam konteks tahun baru Hijriyah, pesan ini dapat dimaknai sebagai dorongan untuk menjadikan setiap langkah kita sebagai kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Tahun baru bukan sekadar perayaan, melainkan kesempatan untuk memperkuat semangat pengabdian, menebar manfaat, dan menolak sikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri.  

Refleksi Diri di Tahun Baru Islam

Dikaitkan dari perspektif sosiologi Islam, waktu memiliki fungsi sosial yakni  sarana kolektif untuk memperkuat identitas umat. Setidaknya ada tiga dimensi penting yang bisa kita maknai saat tahun baru Islam. Pertama, solidaritas sosial, di mana tahun baru menjadi ajang mempererat silaturahmi, memperkuat rasa kebersamaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap kaum dhuafa.

Kedua, transformasi moral, di mana pergantian tahun adalah kesempatan untuk meneguhkan komitmen moral, mengurangi perilaku konsumtif, dan menumbuhkan etos kerja yang jujur.  Serta, Ketiga, kesadaran sejarah, yang mengingatkan kita pada hijrah Nabi sebagai semangat perjuangan, keberanian menghadapi tantangan, dan optimisme membangun peradaban.  

Lalu untuk menjadikan tahun baru Hijriyah 1448 sebagai momentum perubahan, ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan, diantaranya : Pertama,  Muhasabah pribadi, yakni menilai kembali ibadah, akhlak, dan kontribusi sosial yang telah dilakukan. Kedua, Perencanaan hidup, dengan membuat target spiritual dan sosial, seperti meningkatkan kualitas shalat, memperbanyak sedekah, atau aktif dalam kegiatan masyarakat.  

Ketiga, Penguatan ukhuwah, dengan menjalin hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan sesama umat, serta menghindari konflik yang merusak persaudaraan. Keempat, kepedulian sosial, dengan membantu fakir miskin, mendukung pendidikan anak-anak, dan terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Kelima, etos kerja Islami, dengan menjadikan kerja sebagai ibadah, menolak korupsi, dan menumbuhkan budaya profesional yang berintegritas.  

Melalui muhasabah, perencanaan, dan langkah positif, kita bisa menjadikan tahun baru ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW: "Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin.” Maka, mari jadikan tahun baru Hijriyah sebagai momentum untuk memastikan bahwa hari esok selalu lebih baik daripada hari ini. 

Pesan Kiai Ahmad Dahlan tentang pengabdian tanpa pamrih semakin meneguhkan bahwa langkah positif di tahun baru harus berorientasi pada manfaat bagi sesama, bukan sekadar keuntungan pribadi. Dengan demikian, tahun baru Hijriyah kita dapat menebar cahaya perubahan, membangun solidaritas, dan meneguhkan komitmen spiritual serta sosial demi umat dan bangsa.  


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Resistensi Faham Salafi Pada Amal Usaha Pendidikan Muhammadiyah Oleh: Ginanjar Wiro Sasmito, Ketua ....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Wawasan

Kemaruk Oleh: Khafid Sirotudin Jika anak mengalami sakit biasanya nafsu makannya berkurang, bahkan....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Wawasan

Karakter Ayat-ayat Shiyām Ramadhān (1): Iman Menumbuhkan Kekuatan Pengendali Ust. Rifqi Rosy....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Wawasan

Kesadaran Politik sebagai Penuntun Demokrasi Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Rend....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Wawasan

Islam dan Perang: Antara Perdamaian dan Pembelaan Diri Donny Syofyan Apakah Islam menganjurkan uma....

Suara Muhammadiyah

9 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah