MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Menyigi denyut nadi kesejarahan kiprah relawan kebencanaan Muhammadiyah, titik awalnya terlihat dari bencana meltusnya Gunung Kelud tahun 1919.
Pada waktu itu, kondisi langit Jawa Timur menjalar Yogyakarta digelayuti oleh kegelapan hatta dampak erupsi dahsyat tersebut.
“Sehingga Kiai Sudja’ mengusulkan kepada Kiai Dahlan untuk mengumpulkan dana memberi bantuan kepada saudara-saudara kita yang berada di daerah kebencanaan itu,” tutur Agus Taufiqurrahman.
Tim relawan kala itu dipimpin Kiai Sudja’, sehingga dikenal dengan Laskar Kiai Sudja’. Demikian Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Agus menyampaikan saat pembukaan Holistic IMM Care: Pelatihan HERT (Health Emergency Response TEAM & Psikososial di Universitas Muhammadiyah Magelang, Jumat (22/5).
“Jadi kalau dulu pasukan itu sebutannya adalah laskar. Dan dana terkumpul, dulu dananya masih dalam bentuk mata uang Belanda, yang akhirnya memang dari proses relawan kebencanaan itu terus dana itu dipakai untuk menolong saudara-saudara kita,” terang Agus.
Oleh karena itu, relawan kebencanaan, berimplikasi dengan kiprah nyata Muhammadiyah. "Sejak sebelum Indonesia kita ini merdeka,” ucapnya.
Ditambahkan Agus, ketika Kiai Dahlan masih hidup, gerakan relawan itu digabung menjadi spirit PKU.
“Tapi PKU-nya bukan Penolong Kesengsaraan Umum, tapi People Kampung Organization. Jadi bagaimana masyarakat itu dikumpulkan terus diajak berdaya secara mandiri,” tegasnya.
Agus mengetengahkan, upaya yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan membentuk Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) bukan sekadar mengedukasi, tetapi bagaimana berupaya menciptakan ketangguhan dalam menghadapi bencana.
“Bukan sekadar memberi respons setiap ada kebencanaan, tapi menjadi negara yang tangguh terhadap bencana dan mempersiapkan warga siap menghadapi bencana,” tandas Agus. (Cris)

