LP2M Dorong Inovasi, Mudir Pesantren Muhammadiyah se-Sulsel Ikuti Rakor

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

143
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan menggelar Rapat Koordinasi Mudir Pesantren Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Aula Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat, 12 Muharram 1448 H bertepatan dengan 27 Juni 2026 M.

Kegiatan ini diikuti para mudir dan mudirah pesantren Muhammadiyah dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Rakor tersebut menjadi forum konsolidasi untuk memperkuat arah pengembangan pesantren, mengevaluasi penerimaan santri baru, memperbarui data kelembagaan, serta menyamakan langkah pelaksanaan program strategis LP2M.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua LP2M PWM Sulawesi Selatan, K.H. Lukman Abd. Shamad, Lc., M.Pd.; Koordinator LP2M PWM Sulawesi Selatan, Dr. K.H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I.; Sekretaris LP2M PWM Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Ali Bakri, S.Sos., M.Pd.; serta jajaran pengurus LP2M PWM Sulsel.

Ketua LP2M PWM Sulsel, K.H. Lukman Abd. Shamad, dalam sambutannya menegaskan bahwa rakor tidak boleh berhenti sebagai forum pertemuan semata. Ia berharap hasil rapat benar-benar melahirkan keputusan yang dapat dijalankan di pesantren masing-masing.

“Rakor ini kita harapkan menghasilkan beberapa poin penting yang dibicarakan, diputuskan, lalu dilaksanakan. Jangan sampai setelah kembali ke pesantren, tidak ada tindak lanjut dari apa yang telah dibahas bersama,” ujarnya.

Menurut K.H. Lukman, ada dua agenda besar yang menjadi perhatian dalam rakor tersebut, yakni agenda dari tingkat pusat dan agenda lokal wilayah Sulawesi Selatan. Agenda pusat meliputi penggunaan kitab Dirasah Islamiyah, penyusunan sejarah pesantren Muhammadiyah, serta persiapan Kemah Santri Nasional.

Ia menjelaskan, kitab Dirasah Islamiyah merupakan bahan ajar yang disiapkan untuk menjadi rujukan pembelajaran keislaman di pesantren Muhammadiyah. Kitab tersebut memuat tujuh mata pelajaran dan diharapkan mulai digunakan secara bertahap oleh seluruh pesantren Muhammadiyah.

“Tidak ada lagi alasan untuk tidak mulai menggunakannya. Kalau baru satu mata pelajaran yang bisa diterapkan, itu sudah menjadi langkah awal. Yang penting sudah ada pelaksanaan dan nanti terus ditingkatkan,” katanya.

Selain penggunaan kitab, LP2M juga mendorong setiap pesantren segera menyusun sejarah lembaganya sebagai bagian dari dokumentasi, penguatan identitas, dan kebutuhan basis data pesantren Muhammadiyah secara nasional.

K.H. Lukman juga menyampaikan bahwa Kemah Santri Nasional direncanakan berlangsung pada akhir September 2026 di Malang. Karena itu, pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan diminta mulai menyiapkan calon peserta sejak awal agar tidak bergerak secara mendadak menjelang pelaksanaan kegiatan.

Untuk agenda lokal, LP2M PWM Sulsel memberi perhatian pada penguatan pengabdian alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) dan Pendidikan Ulama Perempuan Muhammadiyah (PUPM) di pesantren-pesantren Muhammadiyah.

K.H. Lukman berharap kehadiran alumni PUTM dan PUPM tidak sekadar menjadi tambahan tenaga pembina, tetapi benar-benar mampu menggerakkan pesantren, memperkuat pembelajaran, serta menghadirkan semangat baru dalam pembinaan santri.

“Kita ingin alumni PUTM dan PUPM yang ditempatkan di pesantren betul-betul dapat menyemangati dan memajukan pesantren. Karena itu, masukan dari mudir sangat penting,” jelasnya.

Agenda penting lainnya adalah pelaksanaan program matrikulasi bagi santri baru atau Marhalah I’dadiyah. Program ini difokuskan pada tiga aspek utama, yakni tahsin Al-Qur’an, penguatan bahasa, dan ibadah praktis.

“Kita berharap semua pesantren bisa melakukan program ini. Fokusnya pada tahsin, bahasa, dan ibadah praktis. Ini penting sebagai fondasi awal bagi santri baru,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator LP2M PWM Sulsel, Dr. K.H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., menekankan pentingnya pembaruan data pesantren Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa data yang akurat menjadi dasar dalam pembinaan, pengambilan kebijakan, serta peluang memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Menurutnya, pesantren tidak cukup hanya tercatat secara administratif. Pesantren harus memiliki aktivitas nyata, jumlah santri yang jelas, legalitas kepemilikan yang kuat, manajemen yang tertib, serta lingkungan yang bersih dan rapi.

“Orang yang ingin membantu pesantren biasanya melihat bagaimana pengelolaannya, bagaimana manajemennya, bagaimana kebersihannya, dan bagaimana kekompakan di dalamnya. Karena itu, pesantren harus terus berbenah,” tegasnya.

K.H. Mawardi juga mendorong para mudir agar berani berinisiatif dan berinovasi. Menurutnya, pesantren tidak boleh dikelola dengan cara biasa-biasa saja, terutama jika ingin berkembang dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

“Pesantren jangan biasa-biasa saja. Kalau ingin maju, harus berani berinovasi. Jangan takut dikritik, karena kalau tidak mau dikritik, tidak akan ada perubahan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi pesantren. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar melalui pengelolaan kebutuhan harian santri, koperasi, lahan produktif, dan unit usaha yang dikelola secara profesional oleh lembaga.

“Pesantren itu punya peluang ekonomi yang luar biasa, karena ada perputaran kebutuhan santri setiap hari. Tetapi itu harus dikelola dengan baik dan benar oleh pesantren, bukan untuk kepentingan individu,” ujarnya.

Sekretaris LP2M PWM Sulsel, Dr. Muhammad Ali Bakri, S.Sos., M.Pd., dalam pengantarnya menyampaikan bahwa rakor ini juga menjadi ruang bagi para mudir untuk melaporkan perkembangan pesantren masing-masing, terutama terkait penerimaan santri baru tahun ajaran mendatang.

Ia menilai, jumlah santri baru merupakan salah satu indikator kepercayaan masyarakat terhadap pesantren. Karena itu, setiap pesantren perlu melihat penerimaan santri baru sebagai bahan evaluasi mutu pembinaan, fasilitas, layanan, dan manajemen.

“Santri baru menjadi salah satu ukuran mutu dan kualitas pesantren. Kalau pesantrennya berkualitas, fasilitasnya baik, dan pembinaannya berjalan, maka insyaallah masyarakat juga semakin percaya,” ungkapnya.

Muhammad Ali Bakri juga menyampaikan apresiasi kepada para mudir dan mudirah yang hadir dari berbagai daerah, antara lain Enrekang, Tolada, Palopo, Masamba, Bone, Sidrap, Pinrang, Bantaeng, Wajo, dan daerah lainnya.

Menurutnya, kehadiran para pimpinan pesantren menunjukkan keseriusan bersama dalam memperkuat pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Forum rakor juga menjadi tempat saling berbagi pengalaman, menyampaikan kendala, serta merumuskan solusi bersama.

Melalui rakor ini, LP2M PWM Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan pembinaan pesantren Muhammadiyah. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga menjadi pusat kaderisasi, pembentukan akhlak, kemandirian, dan inovasi umat.

Secara keseluruhan, rapat koordinasi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah pesantren Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan dalam menghadapi tahun ajaran baru, memperkuat basis data kelembagaan, meningkatkan mutu pembelajaran, serta membangun pesantren yang lebih tertib, bersih, mandiri, dan berkemajuan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Diklat Khusus Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah (Diks....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah -Menyambut mahasiswa baru, Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menggelar....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Berita

JEPARA, Suara Muhammadiyah - Sebagai upaya meningkatkan akses pendidikan masyarakat, Pemerintah Daer....

Suara Muhammadiyah

3 May 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam suasana penuh semangat dan haru, Pondok Hajjah Nuriyah S....

Suara Muhammadiyah

26 April 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - “Bagaimana gambar membentuk cara kita melihat diri sendiri dan o....

Suara Muhammadiyah

23 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah