MEDAN, Suara Muhammadiyah – Produk lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki catatan distingsi dengan perguruan tinggi yang lain.
Menukil pandangan Abdur Rozaq Fachruddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968-1990, yakni unggul moral-spiritual, unggul intelektual, dan unggul sosial.
Demikian dikemukakan Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman saat Pelantikan Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (25/7).
“Pidato Pak AR tahun 70-an ini, itu sudah selaras dengan apa yang diinginkan Kemdiktisaintek yang sekarang bunyinya “Kampus Berdampak”,” katanya.
Konteks berdampak di situ maujudnya berupa, lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah harus bisa memberikan peran dan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya yakin dengan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai basis pengembangan kampus, kita bisa menghadirkan kampus yang unggul-seunggul-unggulnya,” ujarnya.
Untuk mencapai pada titik itu, butuh pergumulan demikian rupa. Satu bantalan vital yang amat menjadi atensi khusus, perguruan tinggi Muhammadiyah harus melakukan internasionalisasi gerakan Muhammadiyah.
Hal ini berimplikasi pada keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan. Yang kemudian diperkuat di Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah.
“Itu dilakukan dengan internasionalisasi ide dan gagasan, terutama menghadirkan Islam berkemajuan yang ramah, santun, tetapi santun. Itulah ide-ide yang harus kita kembangkan,” tekan Agus.
Lebih-lebih menyangkut ihwal riset, Agus mendorong perlu memasukan nilai-nilai Islam berkemajuan ke dalam muatan substansi riset yang dilakukan. Sisi berikutnya, internasionalisasi dilakukan melalui aksi dan peran.
“Tokoh-tokoh kita mulai banyak terlibat di level global,” tuturnya, dengan menambahkan satu lagi: internasionalisasi gerakan. “Di situlah Muhammadiyah hadir di berbagai negara untuk bisa membawa lebih masif (gerakan dakwahnya, red),” jelas Agus. (Cris)

