Manasik Haji Santri: Menumbuhkan Spirit Ibadah, Pengorbanan, dan Kepemimpinan
Oleh. M. Saifudin, MIM Sangen
Di tengah arus pendidikan modern yang orientasinya sering lebih menitikberatkan pada capaian akademik, Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga menyentuh dimensi ruhani, sosial, dan pembentukan karakter. Salah satunya melalui pembelajaran ibadah haji. Dalam Islam, haji bukan sekadar perjalanan ritual menuju Tanah Suci, melainkan rukun Islam kelima yang menyempurnakan bangunan keislaman seorang muslim setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa. Di dalamnya terkandung pendidikan tentang tauhid, kesabaran, kedisiplinan, pengorbanan, persaudaraan, serta ketundukan total kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾
"Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam." (QS. Ali ‘Imran: 97)
Dalam Tafsir Tafsir As-Sa'di dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan ibadah haji sebagai kewajiban agung yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya yang memiliki kemampuan. Haji menjadi bukti kesempurnaan penghambaan seorang muslim, karena di dalamnya terkumpul ibadah hati, lisan, harta, dan fisik sekaligus. Adapun frasa “man istathā‘a ilaihi sabīlā” menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kemudahan dan tidak membebani di luar kemampuan manusia.
Melalui kegiatan manasik haji yang dilaksanakan bertepatan dengan mulai berdatangannya jamaah haji dari berbagai penjuru dunia menuju Tanah Suci, IPM Putri PPM Sangen periode 2025–2026 menyelenggarakan praktik manasik haji dan umrah pada Ahad, 10 Mei 2026 bertepatan dengan 23 Dzulkaidah 1447 H. Dalam kegiatan ini, para santriwati tidak hanya mempelajari tata cara ibadah haji dan umrah secara praktik, tetapi juga diajak memahami makna perjalanan hidup, melatih kesabaran, membangun jiwa kepemimpinan, serta menanamkan nilai pengorbanan dan pengabdian.
Kegiatan ini diikuti hampir 200 santri putri bersama santri pengabdian, para musyrifah dan ustadzat. Pelaksanaannya dipusatkan di sekitar Masjid Al-Hidayah Sangen, MIM Sangen-1, dan lingkungan sekitarnya yang disulap menjadi miniatur perjalanan haji. Dipimpin langsung oleh mudir pesantren bersama tim asatidz, para peserta diajak menempuh seluruh rangkaian ibadah secara sistematis dan mendekati praktik haji yang sesungguhnya.
Para peserta dibagi ke dalam 12 regu yang masing-masing terdiri atas 12–15 santri. Setiap regu didampingi dua kader IPMawati yang bertugas sebagai pembimbing ibadah sekaligus pengarah perjalanan jamaah. Manasik tidak hanya menjadi simulasi ritual, tetapi juga sebagai tempat menempa kaderisasi. Para santri belajar menjadi pembimbing jamaah, melatih kemampuan komunikasi, membangun kesabaran, serta menumbuhkan jiwa pelayanan terhadap sesama.
Manasik kali ini difokuskan pada praktik haji tamattu’. Rangkaian dimulai dari niat ihram di miqat. Talbiyah dikumandangkan sepanjang perjalanan menuju “Makkah”, menghadirkan suasana spiritual yang khusyuk dan menggetarkan. Para santri kemudian melaksanakan tawaf qudum tujuh putaran dimulai dari garis Hajar Aswad, dilanjutkan shalat di belakang Maqam Ibrahim, lalu meminum air zamzam sambil melafalkan doa:
“Allahumma inna nas’aluka ‘ilman nafi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan, wa syifaan min kulli daa’.”
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Safa dan Marwah untuk melaksanakan sa’i tujuh putaran hingga tahalul. Setelah itu, jamaah diarahkan menuju “hotel penginapan” di aula masjid sambil menunggu datangnya 8 Zulhijah.
Momentum berikutnya membawa para santri menuju “Mina” untuk melaksanakan sunnah tarwiyah dan mabit. Teras-teras MIM Sangen menjadi representasi tenda-tenda Mina yang sederhana namun sarat makna. Pada 9 Zulhijah, para santri bergerak menuju “Arafah” untuk melaksanakan wukuf, mendengarkan khutbah, serta memperbanyak doa dan munajat. Suasana hening, khusyuk, dan penuh harap terasa begitu kuat.
Menjelang sore, jamaah menuju “Muzdalifah” untuk mabit dan mengambil 49 kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah hingga nafar awal. Selanjutnya, lempar jumrah di Mina dilakukan sebagaimana rangkaian praktik ibadah haji sesungguhnya, jumrah aqabah pada 10 Zulhijah, lalu jumrah ula, wusta, dan aqabah pada hari-hari tasyrik. Juga pada tanggal 10 tersebut, dilakukan penyembelihan dam dan kurban.
Kegiatan ditutup dengan tawaf ifadlah, briefing jamaah, dan tawaf wada’ sebelum “kembali ke tanah air”. Bahkan setelah seluruh rangkaian selesai, para santri masih diarahkan menikmati suasana “pasar oleh-oleh haji” di halaman madrasah putri yang dihias bernuansa Arab. Detail-detail sederhana semacam ini justru membuat pengalaman manasik terasa lebih hidup dan membekas dalam ingatan para santri.
Lebih dari sekadar simulasi teknis, manasik ini mengajarkan bahwa ibadah haji merupakan madrasah pengorbanan dan pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat latihan disiplin, kesabaran menghadapi kelelahan, kemampuan bekerja sama, hingga keikhlasan dalam melayani sesama. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan batin menuju ketundukan total kepada Allah.
Dalam perspektif pendidikan Muhammadiyah, kegiatan semacam ini memiliki nilai penting dalam membentuk kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Sebab ibadah dalam Muhammadiyah tidak dipahami sekadar ritual yang terpisah dari kehidupan, melainkan energi moral yang membentuk kepribadian dan peradaban.
Buya Hamka dalam novelnya Di Bawah Lindungan Ka'bah, menggambarkan Ka’bah bukan sekadar bangunan suci, melainkan simbol tempat manusia menumpahkan harapan dan kepasrahan kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, manusia melepaskan segala kebanggaan duniawi dan kembali sebagai hamba yang setara di hadapan-Nya.
Spirit itulah yang tampak dalam manasik haji santri PPM Sangen. Di balik langkah-langkah kecil mereka mengelilingi “Ka’bah”, tersimpan doa-doa besar tentang masa depan, ilmu, pengabdian, dan harapan suatu hari benar-benar menjadi tamu Allah di Tanah Haram.
Mungkin hari ini mereka baru berlatih di halaman sekolah dan serambi masjid. Namun siapa yang tahu, dari langkah-langkah kecil itu kelak lahir generasi yang benar-benar berdiri di Arafah dengan hati yang matang, ilmu yang cukup, dan jiwa pengabdian yang luas.
Barangkali di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya, ketika ibadah tidak berhenti sebagai teori, tetapi dihidupkan menjadi pengalaman yang menyentuh akal, hati, dan cita-cita.

