MBS Pleret Siap Pelopori Pesantren Bebas Skabies

Suara Muhammadiyah

10 August 2026

145
Istimewa

Istimewa

BANTUL, Suara Muhammadiyah - MBS Pleret Bantul-Ahad, (9/8/2026) berkesempatan menjadi tuan rumah bakti sosial deteksi dini skabies yang diadakan oleh Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXI PERDOSKI 2026. Kegiatan dimulai dengan sambutan dari ketua umum PIT XXI PERDOSKI 2026, Dr. dr. Arum Krismi, M.Sc, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV. Arum menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan lebih dari enam puluh dokter spesialis DVE dari seluruh Indonesia.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran pesantren untuk mengenali skabies sedini mungkin, melakukan pencegahan serta memberikan edukasi kepada para santri. Semoga apa yang kita lakukan pagi ini tidak berhenti sebagai satu kegiatan bakti sosial saja, tetapi dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak berkelanjutan dalam pencegahan dan pengendalian skabies di lingkungan pondok pesantren. 

Ustadz Nurwanto, M.Pd selaku direktur MBS Pleret turut menyampaikan terima kasih telah dipercaya dan ditunjuk untuk memiliki lokasi kegiatan bakti sosial ini. Kemudian terima kasih juga karena MBS Pleret dilibatkan untuk menerima manfaat dari bakti sosial kali ini yang nantinya, seluruh santri akan dilibatkan untuk dicek kesehatannya. Santri dapat belajar banyak dari bapak ibu dokter yang hadir, semoga ini juga sekaligus pembelajaran dan menginspirasi santri MBS Pleret siapa tau nanti juga akan menjadi dokter-dokter di berikutnya. MBS Pleret juga sangat terbuka ketika ke depan ada program-program semacam ini ataupun kerjasama dari bidang kesehatan yang nanti melibatkan pesantren.

Ketua MPKO Bantul dr Fauzan juga mengucapkan terima kasih pada kesempatan tersebut. Selain itu kegiatan ini akan memberikan pengalaman kepada pondok pesantren supaya lebih peduli dengan Kesehatan. Karena bagaimanapun santri-santri di pesantren akan berperan besar menjadi informan di masyarakat walaupun tentunya juga nanti akan menjadi berbagai profesi yang juga seperti kita ketahui. 

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H menyampaikan bahwa skabies merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat. Terutama terjadi pada kelompok-kelompok di mana terjadi kumpulan banyak orang. Memang skabies tidak mematikan, tetapi rasa tidak nyaman dan beberapa kerutan dan tentunya ini akan membuat Yang menderita tidak bisa berkarya, bekerja atau belajar bertindak optimal karena adanya gangguan-gangguan tersebut. Dinkes DIY berharap kegiatan ini menjadi salah satu langkah dari MBS ini untuk semakin menyadari bahwa kehidupan yang sehat pasti akan menunjang dalam proses pembelajaran. Dinkes juga menyambut baik adanya kolaborasi tadi dari PERDOSKI dengan berbagai lintas sektor, pemerintah daerah, puskesmas, dan tentunya lembaga pendidikan keagamaan dalam hal membantu menanggulani salah satu masalah kesehatan masyarakat. 

Dinkes mengucapkan terimakasih kepada tim relawan. Sebagaimana disampaikan oleh Sri Sultan atau Gubernur DIY pada kesempatan membuka rangkaian PIT XXI PERDOSKI 2026 sebelumnya. Bahwa dermatologi harus berbijak pada kemanusiaan. Dinkes juga berharap bahwa kegiatan bakti sosial ini hanya menjadi salah satu langkah untuk mengetahui bahwa proses screening kesehatan itu diperlukan sejak awal. Kemudian perlu ditindak lanjuti melalui program-program yang ada di Kementerian Kesehatan dan tentunya dipercepatkan oleh jajaran Dinas Kesehatan, khususnya lagi adalah pemeriksaan kesehatan gratis, cek kesehatan gratis, ini bukan hanya sekedar slogan, tetapi juga kemudian harus diimplementasikan, harus diterjemahkan dalam arti yang lebih luas, bahwa kita lebih sadar untuk berperi laku hidup bersih dan sehat.

Selain itu dr. Gregorius berharap agar pihak pesantren mampu mengimplementasikan apa yang didapat dari kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mengingat bahwa kedehatan merupakan anugerah yang harus kita jaga dan syukuri. Dr. Gregorius mengajak kita bekerjasama bergotong royong untuk mewujudkan Indonesia yang bebas skabies, dimulai dari daerah istimewa yang berdaya saing. 

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan Kesehatan kepada para santri. Setiap santri diperiksa oleh para dokter diberi pemahaman sesuai kondisi masing masing dan mendapatkan obat apabila diperlukan untuk menangani keluhan gatal pada santri. Setelah itu para santri juga mendapatkan edukasi deteksi dini penyakit skabies yang dapat mengganggu proses pembelajaran dan ibadah di pesantren.  Materi yang diberikan kepada santri berupa data penderita skabies, deteksi dini, cara menangani serta sesi tanya jawab bersama dokter spesialis. Sejumlah santri juga ditunjuk dan dilatih menjadi kader Kesehatan yang akan menjadi pelopor diantara teman temannya pada kesempatan tersebut. Mereka akan menjadi pengamat pada deteksi skabies berkala menggunakan formulir yang disediakan oleh PERDOSKI. 

dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., Subsp.Ven, FINSDV, FAADV, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Atau yang sekarang kita kenal sebagai PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia) periode 2024–2027 menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dokter dari Sumatera, kemudian dari Pulau Jawa. Kemudian Kalimantan, Bali, hingga ke ujung timur. Jadi mudah-mudahan PERDOSKI hadir dalam kegiatan ini, bisa membantu pesantren. 

Di akhir sesi dilakukan penandatanganan Pakta Kebijakan Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Pleret Program Deteksi Dini dan Eradikasi Skabies (DESKAB-MIBS) Menuju Indonesia Bebas Skabies 2030. Pakta tersebut ditanda tangani oleh Kepala Puskesmas Pleret, Direktur MBS PLeret, dan pihak PERDOSKI.

 Isi dari pakta tersebut berupa deteksi dini dan penanganan skabies dengan langkah pertama kader kesehatan akan melaksanakan langkah Amati (A) melalui pemeriksaan berkala dengan menggunakan Formulir DeSkab setiap Awal, Tengah, dan Akhir Semester. Kedua, kader kesehatan akan melakukan upaya pemberantasan skabies dengan pelaksanaan Berantas (B), yakni dengan merujuk santri yang terdeteksi atau dicurigai skabies ke Puskesmas Pleret, serta melaporkan kepada penanggung jawab kegiatan untuk tindak lanjut pengobatan edukasi.

Ketiga, Dokter dan perangkat Puskesmas akan melakukan upaya pencegahan melalui langkah Cegah (C) berupa edukasi rutin mengenai kebersihan diri, kebersihan lingkungan, serta upaya pemutusan rantai penularan, yang dilakukan bersama guru pembimbing dan kader santri. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan DeSkab (Deteksi Dini Skabies) melalui metode A-B-C, hingga tercapai Indonesia Bebas Skabies 2030.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Menyemarakan rapat kerja nasional, para peserta rapat kerja nasional Le....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Muhammadiyah Disaster Manag....

Suara Muhammadiyah

26 October 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bandung, bersama Corps M....

Suara Muhammadiyah

3 August 2024

Berita

Gelar Manasik Haji TK ABA Se-Bandung dan Cimahi BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Aisyi....

Suara Muhammadiyah

2 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Journal of Islamic Economic and Business Research (JIEBR) Universit....

Suara Muhammadiyah

20 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah