Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa

Suara Muhammadiyah

7 August 2025

3438
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Memaknai Cinta dalam Bingkai Takwa

Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Kader Muhammadiyah lulusan Pondok Modern Muhammadiyah Paciran, Penulis Tetap Rubrik Bina Akidah Majalah Suara Muhammadiyah

Islam mengajarkan umatnya untuk saling mencintai dengan penuh ketulusan. Islam juga mendorong umatnya untuk menumbuhkan rasa cinta yang sejati. Yaitu, cinta kepada Allah, yang kemudian memancar menjadi cinta kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Mencintai Allah dengan tulus akan melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial yang kuat. Maka, cinta kepada sesama adalah refleksi dari cinta kepada Tuhan.

Dalam Islam, cinta kepada Allah tidak hanya berhenti pada ritual pribadi. Ia harus diwujudkan dalam bentuk cinta kepada keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan tanah air. Karena itulah, shalat berjamaah lebih besar pahalanya daripada shalat sendirian bukan semata-mata karena jumlah rakaatnya, tetapi karena ada nilai kebersamaan dan persaudaraan di dalamnya. Islam sangat menjunjung tinggi nilai kolektif, kerja sama, dan kasih sayang di antara umat manusia.

Sesama Muslim adalah saudara. Persaudaraan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan harus dibuktikan dalam keseharian: dengan saling mengucap salam, saling menjaga, menghargai, dan menghindari prasangka buruk. Sebab, hati yang bersih tidak akan melahirkan kebencian, sekecil apapun.

Cinta kepada istri, suami, anak, dan keluarga pun merupakan bagian dari ibadah, bagian dari wujud takwa dan cinta kepada Allah. Tidak pantas seseorang mengaku bertakwa tetapi masih menyimpan dendam, bersikap sinis, dan bermuka masam kepada orang lain. Rasulullah ﷺ telah memberikan keteladanan yang sempurna. Dalam waktu 23 tahun, beliau berhasil membangun masyarakat Arab yang awalnya keras menjadi umat yang berakhlak mulia. Itu semua terjadi bukan karena perintah semata, tetapi karena Rasulullah sendiri lebih dulu menjalankan apa yang beliau serukan. Keteladanan adalah kunci perubahan.

Dalam konteks bangsa, cinta kepada tanah air juga bagian dari iman. Maka, dalam situasi Indonesia yang masih penuh tantangan seperti praktik korupsi dan ketidakadilan, mencintai negeri ini berarti menjaga dan tidak menyakitinya. Korupsi, kolusi, dan perusakan alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap cinta tanah air. Indonesia adalah sajadah tempat kita bersujud dan beribadah. Maka, jangan kotori sajadah ini dengan perilaku yang merusak.

Cinta yang dibingkai dengan takwa adalah cinta yang suci, yang mendorong setiap individu menjadi lebih baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan negerinya. Inilah cinta yang tidak sekadar emosi, tetapi menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Wallahu a’lamu .


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Hadlarah

Kenapa Muslim Bershalawat saat Shalat? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas ....

Suara Muhammadiyah

9 December 2023

Hadlarah

Judul : Dilema Purifikasi Muhammadiyah: Antara Progresivisme dan Konservatisme Penulis : Tafsir Pe....

Suara Muhammadiyah

22 July 2023

Hadlarah

Buku ini menyoroti isu penting yang kerap menjadi semacam dilema ketika harus memilih kriteria kader....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Hadlarah

Kepastian Waktu dalam 25 Tahun Judul               : 25 Tahun Ka....

Suara Muhammadiyah

6 May 2024

Hadlarah

Mengaji untuk Ketenangan Hati Oleh: Mohammad Fakhrudin Muslim mukmin pada bulan Ramadhan sanga....

Suara Muhammadiyah

25 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah