Membumikan Nalar, Merawat Moral: Refleksi 62 Tahun IMM

Publish

12 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
36
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Membumikan Nalar, Merawat Moral: Refleksi 62 Tahun IMM

Oleh: Alvin Putra Qurniawan, Bendahara Umum PC IMM Ponorogo

Layar gawai kita hari ini lebih bising daripada ruang-ruang diskusi. Kader lebih sering terjebak dalam keriuhan tagar daripada kedalaman nalar. Di usia ke-62 ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) seolah berdiri di persimpangan: menjadi organisasi yang sekadar "ada" secara administratif, atau tetap "bernyawa" sebagai gerakan intelektual. Fenomena menunjukkan, banyak kader yang terjebak pada formalitas atributif, sementara substansi gerakan seringkali tergerus oleh arus pragmatisme zaman.

Menguatkan tradisi intelektual hari ini berarti menuntut keberanian untuk tidak sekadar menerima wacana sebagai kebenaran final. Jacques Derrida dalam Of Grammatology (1967) menegaskan bahwa "there is nothing outside the text". Hal ini mengisyaratkan bahwa realitas sosial kita hari ini di konstruksi oleh narasi, simbol, dan bahasa yang seringkali membawa kepentingan tersembunyi.

Kader IMM tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Mengikuti pandangan Derrida dalam Writing and Difference (1967), dekonstruksi adalah praktik untuk membuka kemungkinan makna baru dengan menggugat struktur pemikiran yang mapan. Tradisi intelektual IMM harus diarahkan untuk membongkar asumsi-asumsi "mapan" di masyarakat—baik itu kebijakan publik yang tidak adil maupun narasi kebencian—sehingga kita tidak tunduk pada narasi dominan, melainkan terus memperluas horizon pemikiran secara kritis dan mendalam.

Ujian Moralitas dalam Pusaran Politik

Namun, nalar yang tajam tanpa kompas moral hanya akan melahirkan teknokrat yang oportunis. Fenomena hari ini memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara "aktivisme" dan "akomodasi politik". Kita sering melihat kader atau alumni organisasi terjebak dalam pragmatisme kekuasaan, di mana moralitas politik dikorbankan demi posisi atau kepentingan sesaat. Kasus-kasus politik transaksional yang melibatkan kaum terdidik menjadi tamparan keras bagi rahim organisasi.

Menjaga moralitas politik bukan berarti anti-politik, melainkan menjaga jarak kritis agar tidak larut dalam syahwat kekuasaan. Kader IMM harus mampu menjadi "penjaga gerbang" etika. Jika nalar intelektual mengajarkan kita cara membaca kekuasaan, maka moralitaslah yang menentukan kapan kita harus berkata "tidak" pada ketidakadilan, meskipun itu tidak populer secara politis.

Sebagai solusi, penguatan kaderisasi ideologis harus menjadi muara dari pertemuan antara dekonstruksi intelektual dan keteguhan moral. Ideologi bukan sekadar hafalan muqaddimah, melainkan alat bedah realitas. Jika poin pertama memberi kita pisau bedah (teori) dan poin kedua memberi kita nurani (etika), maka poin ketiga ini adalah tindakan nyata (praksis).

IMM harus berani merumuskan posisi politiknya bukan sebagai politik praktis-transaksional, melainkan politik gagasan. Menggunakan kacamata ideologi, kader tidak boleh gagap saat berhadapan dengan kekuasaan. Politik bagi kader IMM adalah alat untuk mendistribusikan keadilan, bukan tujuan untuk meraih kedudukan. Kaderisasi ideologis yang kuat akan melahirkan kader yang tidak mudah goyah oleh polarisasi opini karena mereka memiliki kemandirian berpikir. 

Inilah solusi konkret bagi IMM di usia 62 tahun: sebuah gerakan yang tidak alergi pada politik, namun tetap memiliki kemandirian berpikir sehingga tidak mudah larut dalam polarisasi opini. Kaderisasi ideologis yang kuat akan melahirkan pemimpin yang selesai dengan dirinya sendiri. Mereka adalah kader yang kembali ke masjid untuk spiritualitas, kembali ke perpustakaan untuk intelektualitas, dan turun ke jalan serta masyarakat untuk kemanusiaan

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

METRO, Suara Muhammadiyah - Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ....

Suara Muhammadiyah

6 March 2026

Berita

BULUKUMBA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UM Bulukumba) menggelar Rap....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Prestasi membanggakan diraih oleh Alexsandro Alvino, pelajar k....

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) berhasil meraih dan ....

Suara Muhammadiyah

14 November 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pelatihan fasilitator masjid dan mushala Muhammadiyah tangguh....

Suara Muhammadiyah

24 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah