Memoar Muhammadiyah Menyemai Tunas Gerakan Pramuka
Penulis: Wahid Ilham Isnanto, Bidang Kesehatan dan Satuan Penolong GKHW Kwarda Karanganyar
Tanggal 9 Maret dikenang secara nasional sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka. Pada hari itulah, tahun 1961, Presiden Soekarno mengundang para tokoh kepanduan ke Istana Negara. Mereka datang dari berbagai organisasi, dari berbagai latar ideologi, dari berbagai tradisi pendidikan. Mereka dipertemukan untuk satu keputusan besar: meleburkan kepanduan Indonesia menjadi satu gerakan bernama Pramuka.
Dari peristiwa itu kita sering mengenang negara, mengenang Presiden Soekarno, mengenang lahirnya organisasi nasional kepanduan. Tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya kepada sejarah, siapa saja yang sejak awal menanam benih-benihnya?
Di antara penanam benih itu, ada satu nama yang tak bisa dilewatkan, yaitu Persyarikatan Muhammadiyah. Melalui gerakan kepanduannya yang bernama Hizbul Wathan.
Tetapi untuk memahami peran itu, kita perlu mundur beberapa langkah ke belakang. Sejarah kadang seperti perjalanan menapaki mata air. Jika kita hanya melihat hilirnya, kita akan lupa dari mana air itu berasal.
Mengulik Mata Air Kepanduan
Gerakan kepanduan dunia berawal dari sebuah percobaan sederhana pada tahun 1907. Seorang perwira Inggris bernama Robert Baden-Powell mengajak sekelompok anak berkemah di Pulau Brownsea. Percobaan kecil itu ternyata melahirkan gagasan besar tentang pendidikan karakter.
Kemudian lahirlah buku Scouting for Boys (1908), yang menjelaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas. Anak-anak perlu belajar di alam terbuka, belajar mandiri, belajar memimpin, belajar melayani.
Pendidikan yang tidak hanya mengisi kepala, tetapi juga menumbuhkan watak. Gagasan itu menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20.
Di Batavia pada tahun 1912 mulai muncul latihan pandu yang kemudian menjadi cabang Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Dua tahun kemudian organisasi itu berkembang di Kolonial Hindia Belanda menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Namun sebagian besar anggota organisasi tersebut adalah kalangan Belanda.
Lalu muncullah kesadaran di kalangan tokoh pribumi: jika pendidikan kepanduan ini baik, mengapa hanya menjadi milik bangsa penjajah?
Maka pada tahun 1916 berdirilah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang diprakarsai Mangkunegara VII di Solo. Sejak saat itu kepanduan mulai tumbuh di kalangan bumiputera.
Seperti benih yang jatuh di tanah yang subur, gagasan kepanduan mulai tumbuh di berbagai organisasi masyarakat yang berbasis kebangsaan, kesukuan, maupun keagamaan. Dan di Yogyakarta, benih itu juga jatuh di halaman Muhammadiyah.
Suatu hari, sepulang dari pengajian di Solo, KH Ahmad Dahlan melihat sekelompok anak muda berseragam sedang berbaris dan berlatih di halaman Pura Mangkunegaran. Mereka berlatih dengan disiplin, bergerak dengan semangat, bermain sekaligus belajar.
Kyai Dahlan berhenti sejenak. Mengamati. Merenung. Barangkali beliau tidak sekadar melihat barisan anak-anak. Beliau melihat sebuah metode pendidikan.
Sesampainya di Yogyakarta, beliau berbincang dengan Somodirjo tentang apa yang baru saja beliau saksikan. Dijelaskanlah bahwa kegiatan itu disebut Padvinderij, sebuah gerakan pendidikan anak di luar sekolah dan di luar rumah.
Di situlah Kyai Dahlan melihat sesuatu yang menarik. Pendidikan yang menghidupkan tubuh, akal, dan karakter sekaligus untuk menghamba kepada Allah Swt.
Beliau kemudian mengajak guru-guru Muhammadiyah untuk mencontoh metode itu. Dimulailah latihan sederhana di halaman sekolah Muhammadiyah Suronatan. Awalnya hanya para guru yang berlatih. Mereka belajar berbaris, berolahraga, dan mendidik diri sendiri terlebih dahulu.
Sebab pendidikan sejati memang sering dimulai dari kesediaan pendidik untuk belajar.
Lama-kelamaan latihan itu menarik perhatian para pemuda Kauman. Mereka datang, ikut berlatih, ikut merasakan semangat kebersamaan yang baru. Latihan setiap Ahad sore itu pun berkembang menjadi gerakan yang semakin dikenal masyarakat.
Ketika pada suatu perayaan penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII di alun-alun utara Yogyakarta, barisan Hizbul Wathan tampil melakukan demonstrasi kepanduan, masyarakat mulai memperhatikan.
Bahkan muncul cerita yang lucu sekaligus menarik. Ketika orang melihat anak Belanda atau Tionghoa memakai seragam pandu NIPV, ada yang berkata: “Lho, itu ada HW Londo.” Atau: “Itu HW Cina.”
Padahal yang mereka lihat sebenarnya adalah pandu NIPV. Tetapi bagi masyarakat saat itu, gambaran tentang anak-anak berseragam yang berbaris rapi sudah terlanjur melekat pada Hizbul Wathan.
Hizbul Wathan dan Pendidikan Kebangsaan
Pada tahun 1918 Muhammadiyah secara resmi mendirikan Hizbul Wathan. Nama itu berarti “Pasukan Tanah Air.” Sejak awal, HW bukan sekadar kegiatan bermain anak-anak. Ia adalah rekayasa pendidikan yang dirancang dengan sadar oleh Muhammadiyah.
Tujuannya jelas, yaitu membentuk generasi muda Muslim yang kuat iman, tangguh karakter, serta siap mengabdi kepada bangsa. Iman tanpa keberanian akan menjadi pasif. Keberanian tanpa iman akan kehilangan arah. Hizbul Wathan mencoba mempertemukan keduanya.
Pada masa revolusi kemerdekaan, kader-kader HW tidak hanya menjadi peserta latihan kepanduan. Banyak dari mereka ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Ada yang membantu logistik, ada yang menjadi kurir perjuangan, ada pula yang ikut dalam berbagai bentuk pertahanan rakyat. Di sana kita melihat bahwa kepanduan bukan sekadar permainan baris-berbaris. Ia menjadi kawah candradimuka bagi sebagian tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan.
Memasuki masa kemerdekaan, organisasi kepanduan di Indonesia berkembang sangat banyak. Jumlahnya bahkan mencapai lebih dari seratus organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).
Namun banyaknya organisasi tidak selalu berarti kuatnya persatuan. Di dalamnya masih terdapat rasa golongan yang tinggi. Ada kepanduan berbasis agama, berbasis organisasi, berbasis ideologi.
Negara yang baru merdeka tentu membutuhkan sesuatu yang lebih menyatukan. Maka pada tahun 1961 Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu menjadi Pandu Agung, menggagas penyatuan kepanduan nasional.
Pada tanggal 9 Maret 1961 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 112 Tahun 1961 yang mewajibkan seluruh organisasi kepanduan melebur menjadi satu: Gerakan Pramuka.
Tetapi keputusan itu tidak lahir dari pemaksaan sepihak. Presiden Soekarno mengundang para pemimpin organisasi kepanduan ke Istana Negara untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan itu hadir pula perwakilan Hizbul Wathan Muhammadiyah.
Sikap Kenegarawanan Muhammadiyah
Sejarah mencatat bahwa Muhammadiyah menyambut keputusan tersebut dengan sikap yang dewasa dan kenegarawanan.
HM Mawardi, Ketua Majelis Hizbul Wathan saat itu, bersama pimpinan Muhammadiyah di bawah KH M. Yunus Anis, memahami bahwa bangsa yang baru merdeka membutuhkan persatuan.
Maka Muhammadiyah menyetujui integrasi Hizbul Wathan ke dalam Gerakan Pramuka. Secara organisatoris, Hizbul Wathan memang dilebur. Tetapi semangatnya tidak pernah hilang.
Di dalam Gerakan Pramuka, gugus-gugus Hizbul Wathan tetap hidup sebagai Gugus Depan Khusus yang membawa nilai-nilai pendidikan Islam dan karakter Muhammadiyah. Seperti benih yang ditanam di tanah baru, ia mungkin tidak lagi terlihat sebagai biji, tetapi pohonnya tetap tumbuh.
Hari ini, ketika kita memperingati Hari Tunas Gerakan Pramuka, mungkin kita perlu mengingat bahwa sebuah tunas tidak tumbuh begitu saja.
Ia berasal dari tanah yang diolah, dari benih yang ditanam, dari tangan-tangan yang bekerja dengan kesabaran.
Di antara tangan-tangan itu, ada tangan Muhammadiyah melalui Hizbul Wathan. Mereka menyemai benih pendidikan karakter, kedisiplinan, keberanian, dan cinta tanah air jauh sebelum Pramuka menjadi gerakan nasional.
Dan sejarah sering bekerja dengan cara yang sunyi, benih yang ditanam oleh satu generasi, dipanen oleh generasi berikutnya.
Selamat Hari Tunas Gerakan Pramuka.

