BANTUL, Suara Muhammadiyah — Tim Pemberdayaan Wilayah (PKMW) yang dipimpin oleh Prof. Ir. Anton Yudhana, Ph.D menjalin kolaborasi dengan PT. Indoraya, perusahaan manufaktur dan jasa maklon kosmetik di Karangjati, Bantul, guna memperkuat hilirisasi produk berbasis aloevera sekaligus memperluas keberlanjutan program bagi petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) aloevera. Pertemuan penjajakan kolaborasi ini berlangsung Rabu (19/8/2026).
Saat ini, Program PKMW yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) masuk pada tahun ke 2 dengan mengusung judul "Inovasi Produk Herbal Sehat Berbasis Lidah Buaya: Edukasi dan Automasi Proses Olah Panen untuk Pemberdayaan Petani melalui Pendekatan Transformative Learning. Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dengan durasi pelaksanaan selama tiga tahun sejak 2026.
Pertemuan dipimpin Ketua Tim PKMW, Prof. Anton Yudhana, Ph.D., bersama Dr. apt. Arif Budi Setianto, M.Si. dari Fakultas Farmasi dan Dr. Wiwiek Afifah, M.Pd., Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta Nur'Aini Purnamaningsih, S.Si., M.Sc. dari Prodi Teknologi Bank Darah (D3) Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya), serta tim dari Oemah Inovasi. Dari pihak Indoraya, hadir Bapak Teddy Harmono S.IP., selaku Direktur, apt. Nazih Basuki Setyo Nugroho, M. Farm sebagai Penanggungjawab Teknis, dan staf pendamping.
Prof. Anton Yudhana menegaskan bahwa kolaborasi dengan Indoraya menjadi bukti nyata keseriusan tim PKMW dalam mengembangkan dan mengelola tanaman aloe vera yang tidak hanya memiliki manfaat bagi kesehatan, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah secara ekonomi. Menurutnya, hasil penelitian dan program pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan dan terhubung dengan dunia industri. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang memastikan hasil riset dan inovasi kampus tidak berhenti sebagai “link yang terputus”, melainkan dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta dunia usaha.
"Hasil penelitian agar menghindari satu link yang terputus antara kebutuhan industri dan hasil penelitian, agar tidak berakhir dalam publikasi ilmiah dan laporan di atas meja. PKMW akan membuktikan kolaborasi yang produktif karena semua mitra kami sudah sangat antusias. Karya-karya dari kampus tidak berhenti pada laporan dan berita. Dengan budidaya aloevera yang diperkaya teknologi tepat guna, termasuk IoT, hasil budidaya kami akan bisa diterima oleh industri," ujar Prof. Anton Yudhana.
Senada dengan hal itu, Bapak Teddy Harmono S.IP. menekankan pentingnya hilirisasi yang disertai peningkatan skala produksi (upscaling) untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan hasil-hasil penelitian kampus.
"Hilirisasi dengan upscaling untuk dapat filling the gap antara kebutuhan industri dan hasil-hasil penelitian. Kosmetik tematik menjadi solusi yang paling kuat agar apa yang dibutuhkan oleh masyarakat itu tersedia, sehingga nanti akan diserap kembali oleh masyarakat," ujarnya.
Program PKMW ini berjalan dalam dua fase utama. Tahun pertama difokuskan pada budidaya aloevera, sementara tahun kedua, yang tengah berjalan saat ini memasuki tahap produksi. Produksi diarahkan pada dua jalur sekaligus: skala rumahan yang telah memiliki izin Industri Rumah Tangga (IRT) resmi, seperti nata de aloevera, stik aloevera, dan berbagai minuman berbahan aloevera; serta skala global, khususnya untuk produk kecantikan (skincare dan body care) melalui kemitraan dengan Indoraya.
Tim PKMW juga terus mendorong masyarakat dan mitra memanfaatkan lahan-lahan yang belum produktif untuk ditanami aloevera, sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomi tambahan. Dukungan ini sejalan dengan keterbukaan PT. Indoraya untuk menjajaki kerja sama pengadaan bahan baku aloevera dari petani dan KWT, dengan syarat ekstrak bahan baku memenuhi standar mutu sesuai persyaratan pasar global serta harga yang kompetitif. Kebutuhan bahan baku pada tahap awal diperkirakan sekitar 250 kg per bulan, meski angka ini masih bersifat estimasi awal dan berpotensi disesuaikan seiring perkembangan kerja sama.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak akan mendalami standardisasi bahan baku, uji mutu produk, dan skema kerja sama pengadaan sebagai bagian dari upaya membawa kolaborasi ini ke tahap yang lebih konkret.

