Menenun Harapan dari Dapur Sederhana: Kisah Ketangguhan Ibu-Ibu Wali Yatim Gedongkiwo
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Mengaduk adonan kue mungkin tampak seperti aktivitas dapur biasa. Namun, bagi sembilan orang ibu wali anak yatim di wilayah Ranting Gedongkiwo, setiap takaran tepung, gula, dan cokelat hari itu adalah simbol dari semangat baru untuk mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri.
Pada Ahad (6/9/2026), suasana hangat dan harum aroma kue memenuhi Salsabila Bakery and Cake. Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Gedongkiwo bekerja sama dengan Lazismu Mantrijeron menggelar Pelatihan Memasak (membuat kue) khusus bagi para ibu wali anak yatim. Dalam pelatihan ini, para peserta dibekali resep dan praktik langsung membuat dua jenis kue favorit yang bernilai jual tinggi, yaitu kue lumpur dan brownies coklat.
Tak hanya membekali dengan ilmu dan keterampilan, sinergi antara Lazismu Mantrijeron dan PRA Gedongkiwo juga memberikan kejutan manis bagi para peserta. Di akhir sesi, masing-masing ibu diberikan bantuan berupa cetakan kue lumpur. Agar keterampilan yang didapatkan bisa langsung dipraktikkan dan dikembangkan di rumah.
Sejak pagi, antusiasme terpancar jelas dari raut wajah para peserta. Didampingi oleh para pengurus dan instruktur yang berpengalaman, para ibu mempelajari setiap tahapan. Mulai dari penimbangan bahan, teknik pengadukan adonan brownies yang pas, hingga trik mencetak kue lumpur agar matang sempurna dan lembut.
Kegiatan positif ini mendapat apresiasi hangat dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Mantrijeron. Bu Nanik, mewakili PCA Mantrijeron, menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya atas inisiatif yang digagas oleh pengurus PRA Gedongkiwo.
“Kegiatan ini bagus sekali. Terima kasih kepada Bu Ningsih yang telah merintis dan menginisiasi program pemberdayaan yang sangat bermanfaat ini,” tutur Bu Nanik penuh apresiasi.
Hal senada disampaikan oleh Rizkya, perwakilan dari Lazismu Mantrijeron. Ia mengungkapkan rasa bahagia melihat tumbuhnya semangat belajar di kalangan ibu-ibu wali yatim Gedongkiwo.
“Lazismu bahagia bahwa ternyata di Gedongkiwo ada komunitas membuat kue untuk ibu-ibu wali yatim. Semoga ini menjadi awal lahirnya ibu-ibu yang mahir membuat kue, mandiri secara ekonomi, dan membawa keberkahan lebih luas,” ungkap Rizkya.
Bagi PRA Gedongkiwo yang diwakili oleh Bu Ningsih, serta PCA Mantrijeron yang dihadiri oleh Siti Hastutiningsih, S.Pd., pengabdian di organisasi ‘Aisyiyah selalu berlandaskan pada ketulusan. Seluruh proses perancangan hingga pelaksanaan kegiatan ini didasari niat murni untuk beribadah dan mengharapkan ridho Allah SWT.
Harapan besar pun disematkan pada pelatihan ini. Dengan bekal modal cetakan kue dan keterampilan yang didapat, para ibu diharapkan lebih percaya diri untuk memulai usaha mandiri. Demi menambah penghasilan keluarga, sekaligus menyajikan camilan lezat dan bergizi bagi buah hati tercinta di rumah.
Setiap loyang brownies dan cetakan kue lumpur yang matang hari itu menjadi bukti nyata bahwa dengan dukungan yang tepat, para ibu tangguh ini siap melangkah lebih jauh. Dari sebuah ruang bakery kecil di Mantrijeron, benih-benih kemandirian itu kini telah ditanam. Siap tumbuh mekar membawa keberkahan bagi anak-anak mereka dan masyarakat sekitar. (Nur’aini PL)

