Mengalirkan Berkah, Menuju Keabadian

Publish

10 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
47
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mengalirkan Berkah, Menuju Keabadian: Menemukan Kembali Hakikat Harta di Bulan Suci

Ditulis oleh : Roehan Ustman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim, Anggota Muhammadiyah Gunungkidul

Sayidatuna 'Aisyah ra berkata :

"Rasulullah saw tidak pernah menyimpan sesuatu untuk hari esok " ( HR, Bukhari).

Suatu pagi seseorang datang membawa hadiah untuk Rasulullah saw, sebelum matahari tenggelam hadiah tersebut sudah berpindah tangan. Pagi ia tiba sore hari sudah dibagikan. 'Aisyah ra berkata :" Beliau tidak pernah menyimpan untuk dirinya sendiri, saya tidak pernah melihatnya kenyang tiga hari berturut-turut turut ". Jika Rasulullah saw mau tentu bisa tetapi beliau memilih tidak. Bagi Rasulullah dunia ini terlalu kecil untuk dijadikan simpanan.

Pernahkah kita merenung di depan meja makan yang penuh sesak saat berbuka? Atau saat melihat deretan angka di buku tabungan yang terus kita tumpuk dengan rasa cemas? Rasulullah SAW, melalui lisan sucinya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, memberikan sebuah tamparan lembut bagi jiwa kita: "Harta manusia itu hanya tiga: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, dan apa yang ia sedekahkan lalu kekal di sisi-Nya. Selain itu, harta akan pergi meninggalkannya untuk orang lain."

Di zaman ini, kita dikepung oleh doktrin penumpukan. Investasi sedini mungkin, kulkas sepadat mungkin, dan rekening yang tak boleh kosong. Namun, sejarah mencatat jejak yang berbeda dari rumah Rasulullah SAW. Sayidatuna ‘Aisyah RA bersaksi bahwa beliau tidak pernah menyimpan sesuatu untuk hari esok. Bukan karena tak punya, tapi karena beliau enggan harta berhenti hanya pada dirinya. Beliau ingin hartanya mengalir.

Harta yang Berhenti Adalah Ampas

Ketika air berhenti mengalir, ia menjadi keruh dan berbau. Begitu pula harta. Bagi Rasulullah, dunia terlalu kecil untuk dijadikan simpanan. Hadiah yang datang di pagi hari, sudah berpindah tangan sebelum matahari terbenam. Beliau memilih untuk tidak kenyang tiga hari berturut-turut, bukan karena kekurangan, melainkan karena memilih untuk mendahulukan orang lain.

Kontras dengan realita kita saat ini. Ramadhan yang seharusnya menjadi madrasah empati, seringkali terjebak dalam ritual "balas dendam". Waktu berbuka menjadi pintu air bendungan yang jebol—semua dilahap, semua disimpan. Sifat serakah seringkali lebih kuat daripada pengendalian diri, meski perut sudah memberi sinyal sesak yang nyata.

Paradoks Lebaran dan Validasi Sosial

Lebaran, yang secara bahasa berarti "selesai" atau "habis", kini seringkali berubah menjadi panggung validasi. Minggu terakhir Ramadhan dipenuhi rencana menu mewah dan pakaian istimewa untuk menunjukkan status di depan sanak saudara. Di tengah hiruk-pikuk belanja tersebut, kaum dhuafa seringkali hanya menjadi "batu loncatan" untuk melegitimasi status sosial kita sebagai dermawan.

Mari bicara angka. Jika merujuk pada survei GoodStats dan data populasi, terdapat potensi dana sekitar 152 Triliun Rupiah dari tambahan anggaran Ramadhan umat Muslim di Indonesia. Bayangkan, betapa indahnya jika angka fantastis tersebut tidak hanya habis menjadi sisa makanan di tempat sampah atau kain yang akan usang, melainkan dialirkan untuk membasuh air mata kaum dhuafa.

( Menurut hasil survei GoodStats tahun 2025 mayoritas muslimin menyiapkan tambahan anggaran sebesar Rp 500.000,- sampai Rp 3.000.000,-. Dan hasil survei SMRC menjelaskan 62,9% Muslim Indonesia berpuasa Ramadhan. Berdasarkan riset dari Pew Research Center Indonesia diperkirakan penduduk Muslimnya adalah 242 juta, sehingga berdasarkan persentasenya yang berpuasa maka didapati angka 152.218.000 muslim. Dan bila dikalikan dengan anggaran tambahan yang disiapkan ( bila 1 jt ) akan ditemukan hasil kira 152 triliun.)

Menuju Pemahaman yang Benar

Rasulullah SAW telah memberikan solusi atas permasalahan ekonomi umat melalui teladan kesederhanaan dan kedermawanan. Puasa adalah sarana untuk merasakan lemahnya fisik agar lahir belas kasih yang tulus, bukan sekadar teori di atas podium.

Menyimpan harta secara berlebihan adalah fatamorgana keamanan, sementara membagikannya adalah upaya membangun harmoni kemanusiaan yang hakiki. Jika hari ini kita masih merasa berat untuk melepas, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari pemahaman kita tentang agama—atau barangkali, kita sudah paham, namun hati kita masih enggan untuk melangkah.

Allah SWT telah memperingatkan kita dalam kitab-Nya: 'Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.' (QS. At-Takatsur: 1-2). Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa perlombaan kita dalam mengumpulkan validasi duniawi seringkali baru berhenti saat tanah sudah menutup liang lahat."

Di penghujung Ramadhan ini, mari bertanya pada diri sendiri: Apakah harta kita akan menjadi ampas yang usang, atau menjadi rekening abadi yang menanti di sisi Allah SWT?

Wallahu a'lam bish-shawab.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Inkuisisi Ibnu Hanbali (Bagian ke-2) Oleh: Donny Syofyan Konsekuensinya pada abad ke-9 pemberontak....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Wawasan

Indonesia di Persimpangan Geopolitik Dunia Oleh: Riki Saputra, Rektor Universitas Muhammadiyah Suma....

Suara Muhammadiyah

5 March 2026

Wawasan

Persyarikatan Muhammadiyah bukan Dahlaniyah: Syarikat Dakwah Murni Oleh: Gandi Teguh Ardiansyah, Ma....

Suara Muhammadiyah

20 February 2026

Wawasan

Oleh: Drh. H. Baskoro Tri Caroko National Poultry Technical Consultant. LPCRPM PP Muhammadiyah Bida....

Suara Muhammadiyah

13 December 2023

Wawasan

Menulis Babad Sejarah Desa Oleh: Rimini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon Pedan, Klaten "Sebuah per....

Suara Muhammadiyah

29 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah