Mengapa Anak Pintar Belum Tentu Sukses?

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
89
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mengapa Anak Pintar Belum Tentu Sukses?

Penulis: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen Weru Sukoharjo 

Hampir semua orang tua merasa bangga ketika anaknya meraih nilai rapot yang tinggi, menjadi atau dikenal cerdas. Sebaliknya, tidak sedikit orang tua yang khawatir ketika anaknya biasa-biasa saja dan kurang berprestasi. Dan kenyataannya, seiring waktu nasib berbicara lain, anak cerdas belum tentu sukses. Dan anak yang dulunya biasa-biasa saja justru berhasil dalam hidupnya.

Perlu kita pahami bahwa antara pintar dan sukses itu dua hal yang bisa selaras dan bisa pula berbeda. Pintar, identik dengan kemampuan secara akademik. Sedangkan, sukses, adalah keberhasilan meraih cita-cita atau mencapai hal-hal yang menjadi ciri kesuksesan.

Menurut Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, rahimahullah, adalah ”(Pintar) sebagai tujuan ilmu, bukan sekadar mengetahui, melainkan mengamalkan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ilmu yang tidak melahirkan amal dan akhlak yang baik tidak akan memberikan manfaat (kesuksesan) yang sempurna bagi pemiliknya.”

Dalam teori Multiple Intelligences, Howard Gardner menjelaskan bahwa ”kecerdasan (kepintaran) manusia tidak hanya berupa kecerdasan logika atau akademik, tetapi juga mencakup kecerdasan sosial, emosional, bahasa, kinestetik, bahkan spiritual.” 

Oleh karenanya, “pintar” secara akademik, nilai rapot yang tinggi, keberhasilan masuk di sekolah atau perguruan tinggi unggulan, belum cukup untuk menggambarkan seluruh potensi seseorang dan tidak juga bisa menjadi sukses di masa depan. Namun, pintar secara akademik, juga penting, sebagai potongan-potongan puzle yang akan membentuk “sukses” di masa depan.

Dalam Islam, sukses tidak hanya diukur dengan jabatan, kekayaan, atau popularitas, tetapi juga keberhasilan menjalani hidup yang sesuai dengan ridha Allah Ta’ala seperti taat beribadah dan berakhlak mulia, serta memberi banyak manfaat bagi sesama.

Dalam pemikiran kontemporer, seorang pemikir modern Stephen Covey, menemukan hasil penelitian, bahwa ”kesuksesan banyak dipengaruhi oleh karakter, kebiasaan, dan kemampuan mengelola diri.” Demikian pula, Angela Duckworth melalui teori Grit menyimpulkan bahwa ”ketekunan dan daya tahan dalam jangka panjang sering kali lebih menentukan keberhasilan dibanding kecerdasan semata.” 

Berikut beberapa sebab atau faktor yang menyebabkan, kepintaran sering kali tidak selaras dengan keberhasilan di masa depan:

Pertama, kurang sabar menjalani proses.

Banyak anak yang cerdas, mudah memahami pelajaran dan sering mendapatkan penghargaan sejak kecil. Tetapi ketika dewasa dan dihadapkan pada tantangan yang membutuhkan proses panjang dan kesabaran, sebagian mereka mudah bosan atau jenuh, sehingga beralih ke bidang lain, dan di tempat barunya dia melakukan hal yang sama, merasa jenuh, sikap demikian terus berulang. Akhirnya, ia gagal meraih keberhasilan. Padahal hampir semua keberhasilan, lahir dari proses yang panjang dan penuh tantangan, sebagaimana wasiat Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Wahai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah berbuat yang makruf dan cegahlah dari perbuatan mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang memerlukan keteguhan hati." (QS. Luqman: 17)

Ayat ini mengajarkan bahwa setelah perintah beribadah dan bermuamalah, Allah Ta’ala memerintahkan sabar. Dan kesabaran dalan menjalani proses itu disebutkan sebagai “min ‘azmil  umur”, suatu karakter yang sangat penting dalam menjemput kesuksesan. Hal ini diperkuat dengan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Artinya, keberuntungan dan kesuksesan memerlukan proses yang tidak instan, ia butuh kesabaran tinggi, keteguhan yang kuat, dan ketaatan yang tulus kepada Allah Ta’ala.

Kedua, kurang bersungguh-sungguh karena merasa memiliki kemampuan.

Sebagian anak pintar, merasa dirinya lebih unggul, sikap ini terkadang membuat lupa diri. Akibatnya mereka kurang gigih, kurang disiplin, kurang berlatih, menunda pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang menganggap remeh setiap masalah. Semenetara, teman-teman yang tidak terlalu menonjol, justru belajar lebih tekun, lebih rajin, dan lebih konsisten, karena menyadari kekurangannya. 

Maka, ketekunan sering kali mengalahkan kemampuan, oleh karenanya, ketekunan adalah sesuatu yang sangat dicintai Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan kesungguhan adalah membentuk pribadi yang tangguh:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah." (HR. Muslim)

Pemikior Barat, Angela Duckworth, bahkan mengakui prinsip-prinsip keberhasilan menurut Alqur’an tersebut, bahwa ketekunan (grit) merupakan salah satu faktor penting yang membedakan orang yang berhasil dan yang gagal.” Dalam kehidupan sehari-hari, juga kita temukan banyak orang berhasil bukan karena mereka dulunya pintar, melainkan karena mereka tekun dan tidak mudah menyerah.

Ketiga, kurang mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu.

Cerdas secara intelektual tidak selalu berjalan selaras dengan kematangan emosi. Banyak penelitian ilmiah menyebutkan bahwa ”emotional intelligence atau kemampuan mengelola emosi, adalah faktor penting bagi hidup seseorang. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

"Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan sekadar kecerdasan atau kemampuan fisik, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri dan mengendalikan emosi.

Keempat, kurang kuat keyakinannya kepada takdir AllahTa’ala

Ada anak yang pintar, tetapi mudah mengeluh ketika dihadapkan pada masalah, bahkan putus asa ketika mengalami kegagalan. Ia menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Padahal seorang mukmin itu hendaklah meyakini bahwa kegagalan dan kesuksesan itu adalah takdir ketentuan Allah Ta’ala, tentu setelah ikhtiyar yang dimaksimalkan. Tugas manusia adalah berusaha dengan sebaik mungkin dan meyakini Allah yang menentukan hasil akhir. Jika keberhasilan diraih, hal itu sebagai karunia yang harus disyukuri. Dan jika kegagalan yang didapat, maka satu-satunya sikap terbaik adalah bersabar atas keputusan Allah Ta’ala.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam memuji sikap seorang mukmin ketika mendapat keberhasilan atau menemui kegagalan, 

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar sehingga itu pun menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Namun demikian, iman kepada takdir bukan lantas menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan berleha-leha. Justru keyakinan kepada Allah, membuat seseorang semakin semangat berusaha, tidak mudah putus asa, meski takdir tidak sesuai dengan  yang diinginkan. Demikian pula tidak sombong ketika keberhasilan diraihnya. 

Karena itu, tugas orang tua tidak cukup hanya mendorong anak menjadi pintar dan menuntut agar berprestasi secara akademik. Yang lebih penting adalah membentuk karakter mereka, menanamkan prinsip-prinsip hidup dan sikap-sikap mulia yang diajarkan oleh agama, seperti, iman kepada takdir, bersikap sabar dari ujian, bersyukur atas nikmat, disiplin menjalani proses, tanggung jawab, kemampuan mengendalikan emosi, dan yakin bahwa apapun keputusan pasti baik untuk dirinya. 

Insya Allah, anak yang memiliki kecerdasan, dan disempurnakan dengan sikap-sikap mulia tersebut, niscaya peluang lebih besar untuk meraih keberhasilan di kemudian hari. Oleh karena itu, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak anak menjadi pintar secara akademik, tetapi bagaimana pendidikan itu melahirkan generasi yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sebab, pintar hanyalah modal awal, sedangkan sukses adalah buah dari ilmu, pendidikan karakter, kerja keras, kesabaran, dan tentu pertolongan Allah Ta’ala.

Nashrun minallahi wa fathun qarib wa basysyiril mukminin


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mukjizat di Balik Hukum Alam: Memahami Kuasa Ilahi di Tengah Tantangan Hidup Oleh: Donny Syofyan, D....

Suara Muhammadiyah

13 August 2025

Wawasan

Menggabungkan Fintech dan Prinsip Syariah dalam Keuangan Modern Oleh: Muhammad Zakiy Dalam era mod....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023

Wawasan

Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si. (Guru Biologi di SMA Negeri 2 Kudus dan Sekretaris MEK PDA Kudus....

Suara Muhammadiyah

5 March 2026

Wawasan

 Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (1)  Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Sap....

Suara Muhammadiyah

7 September 2023

Wawasan

Salat Jum'at di Masjid Huaisheng Oleh: Khafid Sirotudin Di tengah kompleks makam sahabat Nabi saw....

Suara Muhammadiyah

1 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah