Mengejar dan Menangkap di Bulan yang Mulia: Pernak-pernik Ramadhan yang Mencerahkan dan Menggembirakan
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan, di mana hubungan antara sang hamba kepada Sang Pencipta lebih intim, dan itu bagi yang benar-benar hidup hatinya."
Bulan Ramadhan tak terasa sudah memasuki 10 hari pertama. Akan selesai, karena 20 hari pertama itu disebut rahmat bagi yang berpuasa.
Di awal bulan tersebut banyak sekali jamaah berjubel memadati masjid-masjid, musala, surau, langgar. Dan ini sudah menjadi sebuah kultur di masyarakat di negara kita.
Dan dalam rangka menyambutnya, banyak sekali yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri. Baik materi secara ruhani, spiritual maupun jasmaninya, sehingga dalam menjalankan ibadah puasa benar-benar aman dan nyaman.
Cerita di Balik Buah Tangan dari Sang Murid dalam Mengejar Ilmu
Sebuah pengalaman ketika penulis menerima pesan dari seorang anak muda lewat WhatsApp yang mengabarkan mau silaturahim karena hampir tiga bulan belum sempat silaturahim alias sinau bareng dengan penulis.
Tepat pukul 21.30-an sang anak muda (Aris) mengabari penulis dalam perjalanan menuju ke rumah penulis (Sanggar Waringin). Selang beberapa menit tibalah sang anak muda tersebut, sambil membawa tentengan. Sang anak muda tadi mengucap salam pada penulis dan kebetulan penulis sudah menunggu di teras rumah.
Dalam hal ini terjadi percakapan sambil menikmati kopi hitam dan snack kecil, apalagi dalam cuaca hujan bikin suasana hidup sambil jog-jog guyon antara penulis dengan anak muda.
Sang Murid: Pak, ngapunten nembe saged sowan ndalu niki, Pak. Sampun tiga bulan, nggih, mboten ketemu.
Penulis: Oh ya, Mas. Gimana kabarnya? Jenengan sekeluarga sami sehat, to, Mas?
Sang Murid: Alhamdulillah sehat, Pak. Niki ngeten, Pak, sakdurunge kulo nyuwun pangapunten (mohon maaf), niki lembaran gen buku anu, Pak, mboten kados wingi, Pak, rapi.
Penulis: Oh, aku malah seneng. Berarti buku dari saya dibuka, dibaca, dipelajari, setelah dihayati dan diamalkan, Mas!
Sang Murid: Gini, Pak. Saya itu besuk mendapat tugas menjadi pengisi pengajian buka bersama di kampung saya, Pak. Lha materinya saya pilih tentang hikmah puasa. Niku, Pak.
Penulis: Ya bagus, Mas. Tolong dikuasai materi. Setelah itu mental juga harus dipersiapkan dengan baik. Anggap saja yang di depanmu itu bodoh, Mas! Itu bagian untuk menumbuhkan rasa percaya dirimu, Mas. Selain itu juga panjenengan harus memperbanyak membaca, Mas. Dan suatu hal lagi adalah carilah guru untuk membimbingmu, yaitu seorang yang luas ilmunya, akhlak budi pekerti yang terpuji. Karena apa, Mas? Karena dalam hidup kita harus luas wawasan keilmuan dan luwes dalam penyampaian pada jamaahnya, Mas.
Sang Murid: Oh nggih, Pak. Niki ngeten gandeng (sehubungan agak lama dalam diskusi ini), saya mohon pamit, Pak. Dan ini sedikit buah tangan untuk Bapak!
Penulis: Besuk lagi jangan repot-repot bawa buah tangan seperti ini, Mas.
Sang Murid: Niki wau mampir teng toserba sekalian, Pak.
Penulis: Matursuwun. Monggo kita berdoa bersama, mohon pada Allah agar kita dilindungi, dimudahkan dalam segala urusan.
Madrasah Itu Bernama Ramadhan
Bulan suci merupakan momentum untuk menata ulang dan merancang bangunan kehidupan, baik secara pribadi maupun keluarga. Momentum saat shalat Isya dilanjut tarawih berjamaah, buka bersama, maupun sahur bersama, dari situ sebagai wahana untuk memberikan kajian pencerahan, untuk keluarga baik untuk istri dan anak-anak.
Seperti halnya di kala malam pertama puasa, tarawih pertama bersama istri berjamaah di rumah, selain untuk beribadah juga untuk memberikan pencerahan pada istri. Contoh tentang shalat iftitah atau pembuka. Kalau orang masih awam, maka shalat dianggap masih asing.
Menghidupkan Cahaya Ramadhan dengan Empati dan Menggembirakan
Dalam sebuah perbincangan santai terlontar sebuah ungkapan, “Sekarang kok bulan Ramadhan di kampung kita tidak seramai, semeriah dulu ya, Dhe, bahkan mengalami kemunduran.”
Penulis pun langsung menanggapinya, “Ya begitulah, Mas. Dulu ada lomba TPA, masjid berhias lampu hias, malam takbiran kita adakan pembagian hadiah hasil lomba. Tapi kan saya juga harus tahu diri dan tahu batas, Mas, dan biarkan yang lainnya menggali bagaimana kemajuan dalam sebuah gerakan dakwah, Mas. Alias bagaimana generasi saat ini kita lihat, kita amati, setelah itu kita ambil tindakan.”
Jika kita melihat potret keadaan saat ini jauh berbeda dengan 10–20 tahun yang lalu. Seiring perkembangan zaman dengan teknologi serba canggih serta kultur generasi saat ini mempengaruhi pola interaksi sosial, baik secara sosial, budaya, ekonomi.
Kita lihat kondisi saat ini perekonomian kurang stabil serta di kala umat saat ini terhimpit ekonomi, apalagi di saat tengah menjalankan ibadah puasa. Yang namanya bekal pangan sangat penting dan pokok karena untuk kelangsungan hidup. Jika bekal pangan cukup serta ilmu maupun yang lainnya cukup, maka kita akan sangat khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa itu sendiri.
Akan tetapi, melihat kondisi saat ini di tengah keadaan ekonomi baik domestik maupun global tidak baik-baik saja. Banyak sekali masyarakat mengalami penurunan daya beli karena faktor efisiensi. Dan itu berdampak pada kondisi perekonomian bangsa ini.
Melihat kondisi tersebut, sebuah gerakan kemanusiaan yang peduli pada kondisi umat membutuhkan. Maka FPU, sebuah gerakan sosial kemanusiaan yang diinisiasi oleh seorang tokoh Muhammadiyah di kampung penulis, Abdul Basar, tak terasa 17 tahun sudah sebuah gerakan sosial kemanusiaan (08 Desember 2009).
Ketika sang inisiator mengajak dua orang (Dasri dan Hartono) untuk merintis gerakan sosial kemanusiaan, dan ini terinspirasi dari Teologi Al-Maun yang digagas KH Ahmad Dahlan.
Serta sebagai bentuk rasa empati dan kepedulian sesama, hadir untuk belajar serta meringankan beban umat di saat menjalankan ibadah puasa di tengah keterbatasan ekonomi. Sehari sebelum puasa, untuk meringankan dan agar warga masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa berjalan dengan baik dan bergembira, maka sebuah sentuhan kecil berupa santunan sembako untuk masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Dalam kesempatan tersebut gerakan itu membagikan 30 paket sembako untuk 30 penerima manfaat di dua RW empat RT. Dalam paket sembako tersebut berisi beras 5 kg, mi instan, dan minyak goreng. Sebuah harapan semoga masyarakat terbantu dengan santunan sembako tersebut di tengah kondisi saat ini.
Jika mengikuti alur narasi di atas adalah bagaimana kita mencoba menghidupkan cahaya Ramadhan ini dengan sebuah keshalihan pribadi dan keshalihan sosial dengan memadukan ilmu dan amal, dengan ihsan.

