YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Bertempat di Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Lembaga Pengembang Ekonomi Kreatif (LPEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) yang dihadiri oleh perwakilan pengurus dan pimpinan dari seluruh Indonesia. Ajang berkumpulnya para penggerak ekonomi persyarikatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat jaringan ekonomi, pariwisata ramah muslim, serta industri kreatif berbasis nilai-nilai keislaman (24/10).
Silatnas ini diikuti oleh perwakilan dari 37 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Pulau Jawa, jajaran Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA), serta sepuluh jaringan masjid Muhammadiyah yang telah berstatus Masjid Ramah Musafir.
Mengusung tema kolaborasi, Silatnas ini bertujuan memajukan sektor pariwisata yang tidak hanya inklusif bagi semua kalangan, tetapi juga berkelanjutan dan berlandaskan prinsip-prinsip syariah.
Dalam sambutannya, Ketua LPEK, Warsangka menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas antusiasme seluruh peserta dari berbagai penjuru tanah air serta dukungan penuh dari para sponsor.
"Melalui tema kolaborasi ini, kami ingin mendorong terwujudnya pariwisata yang ramah siapa saja, ramah lingkungan, sekaligus ramah muslim," ungkapnya.
Bachtiar Dwi Kurniawan selaku tuan rumah menyambut hangat kedatangan para utusan. Dengan penuh keikhlasan, ia menegaskan kesiapan seluruh panitia dalam menyukseskan gelaran nasional ini.
Bagi kami, penyelenggaraan Silatnas ini bukanlah sebuah kerepotan, melainkan rezeki dan keberkahan. Kami siap *sami’na wa atho’na dalam mendukung sinergi dan kolaborasi ini," tutur Gus Bachtiar. Ia juga mengapresiasi LPEK sebagai salah satu lembaga termuda di Muhammadiyah yang memiliki komitmen ideologis kuat dan penuh kreativitas.
Acara ini juga mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Pemerintah Pusat.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya menggarisbawahi kiprah panjang Muhammadiyah dalam memajukan kehidupan bangsa. Kehadiran LPEK dinilai semakin memperluas jangkauan dakwah Muhammadiyah di ranah riil.
"Bagi DIY, pengembangan sektor pariwisata merupakan hal yang sangat strategis. Kemajuan industri pariwisata harus memberi dampak positif bagi seluruh sektor ekonomi masyarakat," tegas Sri Sultan.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, turut memberikan apresiasi atas langkah responsif LPEK. Menurutnya, ekonomi kreatif memiliki potensi raksasa dalam mendongkrak perekonomian lokal dan menciptakan lapangan kerja luas.
"Pengelolaan ide kreatif yang mengoptimalkan keunggulan daerah adalah kunci. Mari kita wujudkan kolaborasi nyata yang memberi dampak langsung kepada masyarakat," ajak Teuku Riefky.
Jangan Banyak Teori, Tapi Banyak Pendapatan
Puncak pengarahan disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir. Dengan gaya komunikasinya yang lugas, Haedar menekankan pentingnya aksi nyata ketimbang sekadar teori dalam mengelola ekonomi dan pariwisata.
"Pariwisata dan ekonomi kreatif itu tinggal dipraktikkan saja, jangan terlalu banyak teori. Mengembangkan ekonomi itu ibarat belajar berenang," ujar Haedar.
Haedar juga melontarkan pesan jenaka namun penuh makna, "Jangan terlalu banyak pendapat, tetapi harus banyak pendapatan." Yang mana menurutnya aksi nyata jauh lebih penting ketimbang banyak bicara namun minim aksi.
Menurut Haedar, Muhammadiyah memiliki ekosistem yang sangat potensial untuk mendukung industri pariwisata berbasis nilai. Pariwisata tidak boleh sekadar dipahami sebagai perjalanan fisik semata, melainkan juga wahana edukasi dan refleksi kehidupan.
"Wisata itu bukan hanya soal bepergian, tetapi ruang belajar di mana hidup menemukan arti lain. Pariwisata Muhammadiyah harus memiliki nilai (value) dan memberi keberkahan bagi semua," pungkasnya. (diko)

