Menghidupkan Ekonomi Akar Rumput

Publish

23 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
109
Foto: Freepik

Foto: Freepik

Oleh: Najib Maulana Alfikri (Kader Muhammadiyah)

Di era di mana validasi sosial sering kali menjadi raja, keputusan finansial individu tidak lagi didorong oleh kebutuhan absolut, melainkan oleh ketakutan tertinggal tren yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Aliran uang terus mengalir deras ke kantong-kantong pemodal besar yang mampu menciptakan ilusi gaya hidup, sementara roda ekonomi di tingkat akar rumput berjalan tersendat, bahkan perlahan mati.

Penyelesaian masalah ketimpangan ekonomi di Indonesia sejatinya tidak selalu harus menunggu intervensi kebijakan makro dari pemerintah. Solusi itu bisa jadi sangat sederhana yaitu dengan mengalihkan arah konsumsi. Memilih untuk membelanjakan uang di tempat pedagang kecil yang sepi, bukan demi mengejar gengsi, tapi sebagai bentuk solidaritas sosial.

Pertumbuhan Ekonomi dan Realitas di Balik Nya
Secara makro, angka pertumbuhan ekonomi sering kali menjadi indikator kebanggaan. Namun, angka-angka tersebut kerap kali menyembunyikan realitas distribusi kekayaan yang tidak merata. Ketika masyarakat berbondong-bondong menghabiskan daya belinya di pusat perbelanjaan megah atau waralaba multinasional demi sebuah gaya hidup, terjadi pemusatan akumulasi modal pada segelintir kelompok saja.

Pertumbuhan industri makanan dan minuman kekinian memang menyumbang pajak dan menyerap tenaga kerja, namun putaran uangnya cenderung mengalir ke atas dan kerap kali bermuara ke luar wilayah lokal atau bahkan ke luar negeri dalam bentuk royalti waralaba.

Sebaliknya, sektor informal seperti pedagang kaki lima, warung kelontong, dan industri rumahan adalah tulang punggung ekonomi yang sebenarnya. Mereka menyerap jutaan tenaga kerja mandiri yang tidak tertampung oleh sektor formal. Ketika sektor ini diabaikan oleh konsumen yang lebih memilih tempat-tempat aesthetic dan instagramable, ekonomi lokal akan kehilangan daya tahannya. Uang berhenti berputar di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Mengapa Gengsi Mengalahkan Esensi?
Untuk memahami mengapa pedagang kecil kerap tersisih, publik perlu menelaah psikologi konsumen era digital. Ada sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa Gengsi Mengalahkan Esensi dalam pola konsumsi hari ini?

Jawabannya terletak pada komodifikasi pengalaman. Masyarakat tidak lagi sekadar membeli kopi, makanan, atau barang; mereka membeli identitas dan tiket masuk ke dalam sebuah kelas sosial tertentu. Media sosial bertindak sebagai katalisator yang mengubah keinginan menjadi kebutuhan sementara. Ketika seorang influencer mengunggah sebuah tempat makan bernuansa unik, algoritma akan menciptakan gelombang tren yang memicu hormon dopamin pada pengguna lainnya.

Dalam situasi ini, fungsi utilitas sebuah barang yang mengenyangkan perut atau melepas dahaga menjadi nomor dua. Nomor satunya adalah fungsi eksistensial. Membeli di tempat yang sepi dan tidak memiliki nilai jual di media sosial dianggap tidak memberikan keuntungan status bagi sang konsumen. Budaya konsumerisme ini akhirnya menjebak masyarakat kelas menengah dalam siklus pengeluaran yang tidak produktif, di mana mereka rela merogoh kocek lebih dalam—bahkan berutang—demi mempertahankan gaya hidup di dunia maya.

Menghadapi dominasi tren konsumtif ini, diperlukan pergeseran paradigma. Langkah ini dimulai dengan merekonstruksi makna daya beli. Daya beli tidak semata-mata diartikan sebagai kemampuan individu untuk memperoleh barang dan jasa, tapi dipahami sebagai alat pemungutan suara ekonomi. Kita harus menyadari bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan merupakan suara yang menentukan bisnis mana yang berhak hidup dan berkembang.

Di sinilah letak pentingnya merubah niat untuk bersedekah menjadi lebih strategis. Selama ini, konsep sedekah sering dikerdilkan pada aktivitas memberikan uang tunai kepada pengemis atau kotak amal. Meski hal tersebut baik, ada bentuk sedekah lain yang jauh lebih memberdayakan, yaitu dengan membeli barang dagangan dari penjual kecil yang terlihat sepi pembeli.

Terdapat perbedaan psikologis yang sangat besar antara memberikan uang secara cuma-cuma dan membeli sebuah produk. Ketika seseorang memutuskan untuk membeli dagangan seorang lansia di pinggir jalan dengan niat membantu, transaksi tersebut tidak hanya mentransfer nilai ekonomi, tetapi juga mentransfer martabat. Pedagang akan merasa kerja kerasnya dihargai, bukan dikasihani.

Mengalihkan orientasi dari belanja untuk gengsi menjadi belanja untuk memberdayakan memiliki implikasi yang mendalam. Bayangkan jika 10 persen saja dari masyarakat kelas menengah perkotaan mengalihkan anggaran kopi gaul mereka sekali seminggu untuk membeli jajanan dari pedagang keliling atau warung tenda.

Dampak dari keputusan sederhana ini adalah:

  • Pemenuhan Kebutuhan Dasar: Uang Rp20.000 bagi kafe besar mungkin hanya menambah nol koma sekian persen dari target omzet harian mereka. Namun, nominal yang sama bagi seorang pedagang kecil bisa berarti kepastian bahwa keluarganya bisa makan nasi dengan lauk yang layak hari itu.
  • Mencegah Jebakan Pinjaman Online: Sepinya dagangan sering kali menjadi alasan utama masyarakat bawah terjerat rentenir atau pinjaman online ilegal demi memenuhi kebutuhan darurat keluarga.
  • Menghidupkan Rantai Pasok Lokal: Pedagang kecil biasanya berbelanja bahan baku di pasar tradisional setempat. Ketika mereka mendapatkan untung, uang tersebut akan langsung dibelanjakan kembali ke petani sayur lokal, peternak ayam lokal, dan pedagang bumbu di pasar tradisional. Efek pengganda ini menjaga uang tetap beredar di lapisan bawah ekonomi.

Fenomena memborong dagangan penjual sepi akhir-akhir ini memang sempat muncul dalam wujud konten kreator di platform berbagi video. Meski terkadang menuai kritik karena dianggap mengeksploitasi kemiskinan demi views, esensi tindakannya—jika dilakukan secara tulus oleh masyarakat luas tanpa kamera—akan menyimpan potensi perbaikan ekonomi yang masif.

Inilah wujud nyata dari Kekuatan Transaksi Berbalut Empati. Transaksi ini akan mendobrak logika ekonomi klasik yang menyatakan bahwa manusia selalu mencari keuntungan materi maksimal dengan biaya seminimal mungkin. Sebaliknya, ini membuktikan bahwa masyarakat bisa bertindak sebagai homo sociologicus, makhluk sosial yang keputusan ekonominya digerakkan oleh kepedulian terhadap sesama.

Langkah Praktis Mengubah Kebiasaan Konsumtif Menjadi Produktif secara Sosial
Tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud melarang publik untuk sesekali menikmati fasilitas di tempat-tempat modern atau mencoba hal baru yang sedang tren. Yang diperlukan hanyalah keseimbangan dan kesadaran dalam membelanjakan uang.

Berikut adalah beberapa langkah pragmatis yang dapat diadopsi oleh masyarakat:

  1. Alokasi Anggaran Empati: Sisihkan persentase kecil dari pengeluaran bulanan (misalnya 5-10%) khusus untuk berbelanja di pedagang kecil, warung tetangga, atau UMKM lokal yang minim eksposur, terlepas dari apakah barang tersebut masuk kriteria kebutuhan mendesak atau tidak.
  2. Berhenti Mengagungkan Viralitas: Mulailah melatih diri untuk tidak mudah terpicu oleh tren. Tanyakan pada diri sendiri sebelum ikut mengantre di tempat baru: “Apakah saya benar-benar menginginkan produk ini, atau saya hanya butuh pengakuan di media sosial?”
  3. Normalisasi Tidak Menawar Terlalu Keras: Saat berhadapan dengan pedagang kecil yang keuntungannya hanya dalam hitungan ratusan atau ribuan rupiah, hindari kebiasaan menawar harga secara berlebihan. Jadikan selisih harga tersebut sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhan mereka bertahan hidup, sekaligus di niatkan untuk bersedekah.
  4. Menjadi Agen Pemasaran Gratis: Jika menemukan pedagang kecil yang makanannya enak atau barangnya berkualitas namun sepi pembeli, gunakanlah kekuatan media sosial pribadi untuk merekomendasikan tempat tersebut tanpa niat mencari engagement untuk diri sendiri.

Akar dari ketahanan ekonomi suatu bangsa sejatinya tidak hanya diukur dari cadangan devisa atau megahnya gedung-gedung pencakar langit, akan tetapi diukur dari seberapa tangguh masyarakatnya saling menopang di garis paling bawah. Ketimpangan ekonomi akan terus melebar jika masyarakat secara kolektif masih membiarkan keputusan finansial mereka disetir oleh gengsi, gaya hidup, dan ketakutan akan tertinggal tren.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Wakaf Literasi: Sebuah Gerakan Filantropi Oleh: Khafid Sirotudin, LP UMKM Jateng Filantropi berasa....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Wawasan

Menjaga Nilai Profetik dalam Pendidikan Muhammadiyah Oleh: Noval Sahnitri, S.Pd., Pengajar Pesantre....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Wawasan

Anak Saleh (7) Oleh: Mohammad Fakhrudin Perlu ditegaskan kembali bahwa anak saleh bukan sesuatu y....

Suara Muhammadiyah

5 September 2024

Wawasan

Tantangan Muhammadiyah Ke depan Oleh: Akhmad Faozan, Ketua PCM Mayong Jepara Muhammadiyah telah me....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Wawasan

Oleh: Nurcholid Umam Kurniawan, Dokter Anak, Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Bantul, dan Dosen F....

Suara Muhammadiyah

4 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah