Menghidupkan Umat, Mengalirkan Ilmu

Publish

24 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
49
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Menghidupkan Umat, Mengalirkan Ilmu

(Sinergi AUM, Cabang, dan Ranting dengan PTM dalam Penguatan Dakwah dan Kaderisasi)

M. Saifudin, Pengasuh PPM Muhammadiyah Sangen Weru Sukoharjo, aktivis cabang dan ranting Muhammadiyah; Pernah mengampu Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di LSI-UMS (2002–2004)

Sinergi antara AUM, cabang dan ranting, dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) adalah keniscayaan yang muncul dari realitas gerakan persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri. Bukan hanya sekadar jalinan kerjasama kelembagaan yang formil, tetapi kebutuhan untuk menyambungkan potensi umat dengan kekuatan ilmu.

Di tingkat cabang dan ranting, masyarakat memiliki kecenderungan yang kuat untuk berkumpul, berinteraksi, dan gotong royong. Pengajian rutin, kegiatan sosial, tanggap bencana, kepedulian antar warga, peduli bencana dan berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sisi inilah yang menjadi modal sosial terbesar untuk mewujudkan masyarakat yang berkemajuan. Namun demikian, pertemuan dan kegiatan-kegiatan itu masih perlu suport yang besar dan dukungan yang maksimal, agar benar-benar bisa menjadi kegiatan yang lebih berkembang, produktif dan solutif dalam menjawab persoalan umat.Di sinilah pentingnya menghadirkan konsep-konsep pembinaan yang lebih terarah, sehingga aktivitas yang sudah ada tidak berhenti pada rutinitas, tetapi meningkat menjadi proses pemberdayaan yang lebih maksimal. 

Demikian pula, PTM sebagai poros dakwah berkemajuan sekaligus pusat pengembangan keilmuan, memiliki kepentingan strategis terhadap AUM, cabang, dan ranting. Kepentingan itu bukan semata penguatan institusi, tetapi bagaimana ilmu dan kepakaran yang dimiliki tidak berhenti sebagai wacana yang “melangit”, melainkan hadir sebagai kekuatan yang membumi dan memberi dampak nyata. Dalam sebuah khazanah hikmah pernah diingatkan “ilmu tanpa pengamalan, ibarat pohon tak berbuah”. Keilmuan yang tidak diimplementasikan akan kehilangan daya ubahnya. 

Sebaliknya, potensi umat yang tidak disentuh ilmu akan berjalan tanpa arah yang kuat. Maka dari sini peran akademisi, khususnya di lingkungan PTM, menemukan hakekat peran dan fungsinya, sebagai bagian dari komunitas yang mengajak kepada kebenaran, sekaligus menghadirkan solusi bagi kehidupan umat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan…” (QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tidak cukup dimiliki, tetapi harus digerakkan dalam bentuk dakwah yang terarah, terorganisir, dan memberi manfaat nyata di tengah masyarakat.

Dakwah memerlukan struktur, peran, dan strategi. Cabang dan ranting telah menyediakan basis jamaahnya, sementara AUM menjadi ruang implementasi amal. Keduanya membutuhkan penguatan agar mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam mengelola amal usaha di tingkat ranting dan cabang, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki semangat, empati, dan kemampuan bekerja sama yang tinggi. Ketika diajak membangun, mereka hadir, ketika ada kebutuhan, mereka bergerak. Namun demikian, keterbatasan dalam aspek ilmu, manajemen, dan perencanaan sering menjadi kendala dalam keberlanjutan program.

Semangat yang belum diimbangi dengan arah yang jelas berpotensi melemah seiring waktu. Karena itu, kehadiran ilmu menjadi sangat penting, bukan untuk menggantikan semangat, tetapi untuk mengarahkannya. Ketika potensi sosial masyarakat dipertemukan dengan penguatan keilmuan, maka amal usaha tidak hanya berjalan, tetapi berkembang dan mengalami berkemajuan. Dari proses seperti inilah lahir lembaga-lembaga yang hidup, termasuk pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks ini, PTM memiliki peran penting sebagai sumber penguatan keilmuan. Dosen tidak hanya berfungsi sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga dapat hadir sebagai narasumber dan pendamping bagi masyarakat serta amal usaha. Hal ini karena dosen memiliki posisi yang tinggi dan mulia di tengah masyarakat, sehingga kehadirannya sering menjadi rujukan dan memberi pengaruh. Pada akhirnya, para dosen akan kembali ke tengah masyarakat, baik karena diminta maupun atas kesadaran sendiri, untuk berbagi ilmu dan memberi arah.

Dalam bidang pendidikan, dosen dapat membantu penyusunan kurikulum, pengembangan metode pembelajaran, dan peningkatan kualitas tenaga pendidik. Dalam bidang pertanian, dapat memberikan edukasi mengenai teknik budidaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dalam bidang kesehatan, dapat melakukan penyuluhan preventif dan promotif. Dalam bidang sosial budaya, dapat membantu memahami dinamika masyarakat serta merancang pendekatan dakwah yang lebih kontekstual.

Peran-peran seperti ini terkesan sederhana, tetapi manfaatnya terasa sangat besar. Dari sinilah kerja sama antara PTM dengan cabang, ranting, dan AUM bisa berjalan lebih survive dalam pendidikan, dakwah, sosial, keagamaan dan banyak hal.

Dengan peran seperti itu, seorang akademisi diarahkan menjadi manusia yang benar-benar memberi manfaat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)

Hadits ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang dimiliki seseorang harus bermuara pada kemanfaatan nyata. Dalam konteks Muhammadiyah, kemanfaatan tersebut terwujud ketika ilmu hadir di tengah umat, memperkuat dakwah, dan mendukung kaderisasi.

Dengan demikian, sinergi antara AUM, cabang-ranting, dan PTM bukan hanya memperkuat hubungan antar unsur dalam persyarikatan, tetapi juga memastikan bahwa dakwah berjalan secara berkelanjutan, kaderisasi berlangsung secara sistematis, dan pengabdian kepada masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya. Sehingga ayat-ayat Alqur’an dan hadits-hadits nabi shallallahu alaihi wasallam tidak terhenti di mimbar dan kelas. Maka dari sinilah Muhammadiyah dapat terus bergerak sebagai gerakan yang mencerahkan dan memberdayakan umat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Haedar Nashir, dalam gagasan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah diarahkan untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan, memajukan, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan umat.

Baitul Arqam UMS: Meneguhkan Ideologi dan Manhaj Tarjih Dosen Muhammadiyah di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen

Aris Rakhmadi – Instruktur BA-UMS

Sebanyak 46 dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan selama tiga hari pada 24–26 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar institusional untuk memperkuat fondasi ideologi serta membangun cara berpikir keislaman yang kokoh di kalangan dosen Muhammadiyah.

Bertempat di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, kegiatan ini menghadirkan suasana yang relatif jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Lokasi pondok yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Sukoharjo dengan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan ruang yang kondusif bagi proses pembinaan yang lebih fokus, reflektif, dan mendalam.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta tidak hanya mengikuti rangkaian agenda formal, tetapi juga terlibat dalam dinamika pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan aspek intelektual, spiritual, dan ideologis dalam satu kesatuan proses pembinaan yang utuh.

Baitul Arqam ini bukan sekadar pelatihan dalam pengertian teknis, melainkan sebuah proses pembentukan cara berpikir keislaman yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah. Melalui kegiatan ini, para dosen diharapkan mampu memperkuat pemahaman ideologi sekaligus mengembangkan manhaj berpikir yang kritis, sistematis, dan bertanggung jawab dalam memahami ajaran Islam.

Kegiatan Baitul Arqam ini secara resmi dibuka oleh Bapak K.H. Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum. yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMS. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa penguatan ideologi Muhammadiyah harus bertumpu pada komitmen untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam. Pemahaman agama, menurut beliau, tidak boleh berhenti pada tradisi atau kebiasaan yang diwariskan, tetapi harus didukung oleh dalil yang jelas serta pendekatan yang ilmiah dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya meninggalkan sikap taqlid yang tidak kritis serta mendorong lahirnya cara berpikir keislaman yang rasional dan terbuka dalam bingkai manhaj Muhammadiyah. Dalam suasana yang penuh semangat, beliau juga menyisipkan kisah inspiratif tentang interaksi antara KH Mas Mansyur dan KH Ahmad Dahlan sebagai teladan dalam mencari kebenaran dengan kejujuran intelektual. Pesan tersebut menegaskan bahwa pemahaman agama harus berbasis dalil, bukan sekadar kebiasaan, sehingga mampu melahirkan sikap beragama yang otentik dan berkemajuan.

Selanjutnya, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., selaku Wakil Rektor III UMS memperkuat pemahaman peserta tentang ideologi Muhammadiyah sebagai sistem nilai yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga operasional dalam kehidupan akademik dan sosial.

Memasuki inti kegiatan, materi tentang Manhaj Tarjih Muhammadiyah disampaikan oleh Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H. dari Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah sekaligus dosen UMS. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa pemahaman agama harus dibangun melalui metode yang jelas, berbasis Al-Qur’an dan Sunnah, serta didukung oleh ijtihad yang rasional dan bertanggung jawab. Peserta diajak untuk memahami bahwa beragama dalam perspektif Muhammadiyah menuntut kemampuan analisis, bukan sekadar menerima secara tekstual tanpa kajian yang mendalam.

Manhaj Tarjih menjadi kerangka berpikir untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara bertanggung jawab. Prinsip ini kemudian dipertegas melalui materi praktik ibadah yang disampaikan oleh Haidar Mubarak, Lc., M.H. dari Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Sukoharjo, yang menguraikan tata cara bersuci, shalat, hingga shalat jenazah sesuai dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Materi ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif, sehingga peserta dapat langsung menginternalisasikannya dalam praktik ibadah sehari-hari.

Pada tahap implementatif yang lebih luas, peserta juga mendapatkan penguatan terkait peran strategis dosen Muhammadiyah dalam dakwah dan pendidikan. Djumari, S.Ag., M.Si., sebagai Ketua PDM Sukoharjo, menyampaikan konsep Islam Berkemajuan, sementara Hammam Sanadi, M.Pd., Ph.D., dari PWM Jawa Tengah, mengulas posisi Muhammadiyah dalam konteks keislaman dan keindonesiaan. Materi ini diperkaya oleh Prof. Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D. dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. selaku Ketua LPPIK UMS, serta Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. selaku Rektor UMS, yang menekankan pentingnya integritas, akhlak, dan sinergi kelembagaan dalam mengaktualisasikan peran dosen sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.

“Baitul Arqam bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal dari perubahan cara berpikir—dari sekadar tahu menjadi benar-benar paham, dan dari paham menjadi amal.”


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU) me....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Berita

Haedar Nashir: Tahun Baru, Bergerak Maju Untuk apa dari tahun ke tahun umat Islam merayakan tahun b....

Suara Muhammadiyah

7 July 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta kembali men....

Suara Muhammadiyah

31 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) sebagai salah satu wadah dalam m....

Suara Muhammadiyah

16 October 2023

Berita

KALIMANTAN TENGAH, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil zakat, infak dan sedekah Muhammadiyah (LazisMu)....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah