Mengulik Sejarah Ketupat dan Tradisi Mudik di Indonesia

Suara Muhammadiyah

31 March 2025

2733
Faiz Rafdhi

Faiz Rafdhi

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tradisi Idul Fitri di Indonesia sekurangnya ditandai dua hal yakni ketupat dan mudik. Ketupat atau kupat (bahasa Jawa), akronim dari “ngaku lepat” yang artinya “mengakui kesalahan”. Merupakan simbol ummat muslim yang mengakui kesalahan dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan saat momentum lebaran.

"Kupat juga berarti “laku papat” atau empat laku yang tercermn dari empat sisi ketupat, yaitu “Lebaran” (lebar) artinya pintu ampunan dibuka lebar untuk orang lain. “Luberan” (luber) artinya melimpah dan memberi sedekah pada orang yang membutuhkan," kata Faiz Rafdhi dalam Khutbah Idul Fitri 1446 H, Senin (31/3) di Halaman Parkir Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Selain itu, ada juga kata “Leburan” (lebur). Maknanya melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. "Lalu ada kata “Laburan” (labor), yang artinya “mengecat putih atau menyucikan diri atau putih kembali seperti bayi," tambahnya.

Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menambahkan, tradisi di Indonesia khususnya masyarakat Jawa, dikenal juga lebaran ketupat. Yang dilaksanakan pada 8 Syawal atau setelah 6 hari puasa Syawal. Menurutnya, orang yang berpuasa seperti ini disebut “kaffah” atau “kaffatan” artinya sempurnya. "Itu sebabnya setelah puasa Syawal, ada hari raya ketupat atau kupatan (Jawa) yang artinya hari raya sempurna," sebutnya.

Selain ketupat, Faiz menyebut yang menjadi tradisi di Indonesia adalah mudik. Secara etimologi, “mudik” berasal dari bahasa Jawa yakni kependekan dari “mulih dilik” (yang berarti kembali ke kampung halaman untuk sementara waktu. 

"Tradisi mudik yang biasa dilakukan, hakikatnya kembali ke asalnya, kampung halamannya, baik untuk mengunjungi sanak saudara maupun mengenang masa anak-anak atau remajanya, suka maupun duka. Semua dilakuikan untuk mergambil pelajaran masa lalu dengan gembira dan penuh suka cita," ujarnya.

Sementara dalam bahasa Melayu, istilah “udik” merujuk pada daerah hulu atau bagian atas sungai. Dahulu masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sering bepergian ke hilir menggunakan perahu atau biduk untuk bertemu keluarga yang tinggal jauh atau keperluan tertentu. Mudik, berarti kembali ke “udik” atau “hulu”. Kedua makna ini memiliki kesamaan arti, yaitu kembali ke “asal”.

"Pagi ini, setelah kita melaksanakan shalat Id, kita “mudik”. Kita mudik “spiritual” bukan mudik fisik," ungkapnya.(Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammdiyah - Memiliki visi untuk menjadi ASEAN Leading University, program i....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Berita

PALANGKA RAYA, Suara Muhammadiyah - RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya pada hari Sabtu, 15 Rabi....

Suara Muhammadiyah

2 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY telah usai menyelengga....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Berita

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menggelar Tarhib dan Munggahan Ramadan 1447 H deng....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Senam sehat Milad ke-105 Mu’allimin yang diikuti 3.000 orang pese....

Suara Muhammadiyah

4 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah