Menjaga Rumah Tetap Menjadi Tempat Pulang di Era AI

Suara Muhammadiyah

14 January 2026

773
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menjaga Rumah Tetap Menjadi Tempat Pulang di Era AI

Penulis: Lina Handayani, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Ibu dari lima orang anak.

Allah SWT. berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini menegaskan bahwa ketenteraman jiwa merupakan tujuan utama kehidupan keluarga dan fondasi bagi tumbuhnya generasi yang sehat secara mental dan spiritual.

Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), upaya menjaga ketenteraman tersebut menghadapi tantangan baru. Teknologi kini hadir hingga ke ruang paling privat: rumah. AI memudahkan pekerjaan, pembelajaran, dan pengelolaan aktivitas harian. Namun, tanpa pengelolaan yang berlandaskan nilai, kemajuan ini berpotensi melemahkan relasi keluarga dan menggerus kesehatan mental anggotanya.

Rumah hari ini kerap dipenuhi aktivitas digital. Ayah bekerja dengan perangkat daring, ibu mengelola rumah tangga dibantu aplikasi, anak belajar melalui platform berbasis AI. Semua tampak sibuk dan produktif. Akan tetapi, kebersamaan sering kehilangan makna. Duduk bersama tanpa percakapan, makan bersama tanpa cerita, serta kelelahan emosional yang tidak terucap menjadi gejala yang semakin sering dijumpai.

Kesehatan mental dalam keluarga bukan persoalan individual semata, melainkan persoalan kolektif. Anak dan remaja menghadapi tekanan akademik, tuntutan berprestasi, serta perbandingan sosial di dunia maya. Orang tua pun bergulat dengan stres pekerjaan, beban ekonomi, dan peran ganda. Jika tidak disadari, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi ruang sunyi.

Dalam perspektif Islam, keluarga diposisikan sebagai sakan, tempat bernaung dan menenangkan jiwa. Konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan sekadar ideal normatif, melainkan pedoman praktis membangun ketahanan keluarga. Karena itu, kesehatan mental bukan isu tambahan, tetapi bagian inti dari amanah berkeluarga.

Ketahanan keluarga di era AI tidak berarti menolak teknologi, melainkan mengelolanya secara sadar dan beretika. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang adaptif, mampu memanfaatkan kemajuan tanpa kehilangan kehangatan relasi. Teknologi ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi manusiawi.

Peran ayah dan ibu menjadi kunci utama. Ayah tidak hanya bertanggung jawab pada aspek ekonomi, tetapi juga hadir secara emosional sebagai pendengar, pembimbing, dan teladan dalam mengelola stres serta penggunaan teknologi. Ibu, selain mengelola ritme rumah tangga, berperan menjaga iklim emosional keluarga, membangun komunikasi hangat, dan menumbuhkan rasa aman bagi anak. Ketahanan keluarga tumbuh dari kemitraan yang saling menguatkan, bukan dari pembagian peran yang kaku.

Ada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga Muslim untuk menjaga kesehatan mental di era AI. Pertama, menyediakan waktu berkualitas tanpa gawai, meski singkat namun konsisten. Kedua, membangun komunikasi empatik, yakni mendengar tanpa menghakimi dan memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk mengekspresikan perasaan. Ketiga, menanamkan ritme spiritual melalui shalat berjamaah, doa bersama, dan kebiasaan saling mendoakan. Keempat, peka terhadap tanda kelelahan mental dan berani mencari bantuan ketika diperlukan.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, memiliki peran strategis dalam menguatkan keluarga agar tidak tertinggal secara teknologi, tetapi tetap kokoh secara nilai. Keluarga yang sehat jiwa akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Pada akhirnya, secanggih apa pun AI, ia tidak mampu menggantikan kehadiran manusiawi: empati, kasih sayang, dan doa orang tua. Rumah akan tetap menjadi tempat pulang jika di dalamnya ada penerimaan, kehangatan, dan ketulusan. Dari keluarga yang kuat, lahirlah masyarakat yang berkemajuan dan berkeadaban.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bulan Syawal, Transformasi Manusia Seutuhnya Oleh: Asman Budiman, Wakil Ketua PD Pemuda Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

8 April 2025

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Wawasan

Channelling-Sindikasi Embrio Konsorsium Jejaring BTM Oleh: Arip Hidayat, General Manager BTM Artha ....

Suara Muhammadiyah

24 February 2026

Wawasan

MPI: Garda Terdepan Wujudkan Visi “Digital Organization” Muhammadiyah  Oleh: Labud....

Suara Muhammadiyah

27 November 2023

Wawasan

Karakteristik Ayat-ayat Puasa (5) Beribadah itu Ringan dan Mudah Oleh : M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag....

Suara Muhammadiyah

30 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah