Menjual Harapan

Suara Muhammadiyah

24 August 2026

317
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menjual Harapan

Oleh: Nur Amalia (Amalia Cahaya), Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

Cara manusia mencari jawaban atas persoalan hidup telah berubah.

Dahulu, ketika ingin mengetahui sesuatu, kita membaca buku, bertanya kepada guru, atau berdiskusi. Sekarang, cukup dengan membuka telepon genggam, hampir semua jawaban seolah tersedia di hadapan mata.

Nasihat, berita, video motivasi, informasi pekerjaan, hingga berbagai tawaran solusi hidup datang silih berganti.

Kita tidak lagi kekurangan informasi. Kita justru dibanjiri informasi.

Persoalannya, tidak semua yang terdengar indah mengandung kebenaran. Tidak semua yang viral mengandung ilmu. Dan tidak semua yang memberikan harapan benar-benar membawa seseorang menuju perubahan yang nyata.

Harapan adalah kebutuhan manusia. Namun, harapan juga mudah dijual.

Harapan Dijual

Setiap orang membutuhkan harapan.

Orang yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi berharap kehidupannya membaik. Mereka yang mencari pekerjaan berharap menemukan kesempatan. Orang yang sakit berharap memperoleh kesembuhan.

Harapan membuat manusia mampu bertahan ketika kenyataan belum sesuai dengan keinginannya. Karena itu, harapan memiliki nilai yang sangat tinggi. Di era digital, nilai tersebut dapat dikemas menjadi komoditas.

Kita menemukan afirmasi yang disebut mampu menarik rezeki, manifestasi yang dijanjikan dapat mendekatkan seseorang pada keinginannya, magnet rezeki, energi kelimpahan, hingga berbagai “rahasia sukses” yang diklaim hanya diketahui sedikit orang.

Berpikir positif dan memiliki tujuan hidup tentu baik. Yang perlu direnungkan adalah ketika harapan mulai ditawarkan sebagai jalan pintas, seolah-olah kehidupan dapat berubah tanpa ilmu, keterampilan, dan proses.

Hidup jarang sesederhana itu.

Kita boleh berharap besar. Tetapi setelah itu selalu ada pertanyaan: apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya?

Di situlah harapan perlu bertemu dengan ikhtiar.

Motivasi & Ilmu

Motivasi memiliki tempatnya sendiri dalam kehidupan. Ada saat ketika seseorang hanya membutuhkan satu kalimat untuk kembali bangkit.

Namun motivasi berbeda dengan ilmu.

Motivasi membuat seseorang ingin bergerak. Ilmu menunjukkan bagaimana cara bergerak dengan benar.

Seorang mahasiswa yang ingin menjadi penulis tidak cukup hanya percaya bahwa dirinya mampu. Ia perlu membaca, berlatih, menerima kritik, lalu menulis kembali. Begitu pula seseorang yang ingin memperbaiki kehidupan ekonominya: harapan perlu ditemani keterampilan, pengetahuan, dan kesediaan belajar.

Dalam kehidupan seorang Muslim, ikhtiar berjalan bersama doa. Kita berusaha sebaik yang kita mampu, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allaah.

Algoritma

Persoalan menjadi lebih rumit ketika harapan bertemu dengan algoritma.

Media sosial belajar dari apa yang kita lihat, sukai, dan cari. Ketika seseorang berkali-kali menonton video tentang kekayaan, konten serupa akan semakin sering muncul. Lama-lama kita merasa seolah-olah semua orang sedang membicarakan cara cepat mengubah hidup. Padahal yang kita lihat adalah dunia yang telah disaring oleh algoritma.

Kita perlu membaca lebih dalam: siapa yang berbicara, dari mana sumbernya, untuk kepentingan apa informasi dibuat, dan mengapa ia ingin mendapatkan perhatian kita.

Persoalan ini semakin rumit karena kecerdasan buatan dapat menghasilkan gambar, suara, dan video yang meyakinkan.

Pada 22 Juli 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengklarifikasi video deepfake yang mencatut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengumumkan bantuan dana Qatar Charity. Video tersebut dinyatakan hoaks.

Mengapa mudah menarik perhatian? Karena ia datang membawa sesuatu yang sedang dibutuhkan banyak orang: harapan.

Yang diuji adalah kesediaan untuk berhenti sejenak dan bertanya: benarkah informasi ini?

Media sosial juga melahirkan ukuran-ukuran baru. Jumlah pengikut dianggap sebagai tanda seseorang layak dipercaya, sementara jumlah tayangan seolah menjadi ukuran kebenaran.

Padahal popularitas dan kredibilitas tidak selalu berjalan bersama.

Seseorang dapat memiliki jutaan pengikut dan tetap keliru. Sebaliknya, orang yang jarang muncul di media sosial bisa memiliki pengetahuan yang dalam dan dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, ketika menerima informasi, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak orang yang mempercayainya?” Tanyakan pula, “Mengapa saya harus mempercayainya?”

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menjadi pagar sebelum jari kita menekan tombol bagikan.

Tabayyun

Islam telah mengajarkan kehati-hatian dalam menerima berita melalui prinsip tabayyun. Nilai ini semakin penting ketika informasi dapat berpindah kepada ratusan orang dalam hitungan detik.

Tabayyun bukan hanya perkara memeriksa benar atau salah. Ia juga mengajarkan kita menahan diri: tidak tergesa-gesa membagikan, tidak mudah terbawa emosi, dan tidak lekas percaya pada kabar yang sesuai dengan keinginan kita.

Sebab informasi yang paling mudah dipercaya kadang justru informasi yang mengatakan apa yang ingin kita dengar.

Ada satu pertanyaan lain yang penting kita ajarkan kepada anak-anak, mahasiswa, dan diri sendiri.

Ketika menerima informasi, jangan berhenti pada pertanyaan, “Benarkah?” Tanyakan juga, “Apa yang dapat saya pelajari?”

Kita membaca kisah seseorang yang berhasil. Jangan hanya melihat hasil akhirnya; pelajari prosesnya. Ketika menemukan kisah kegagalan atau berita penipuan, jangan buru-buru menertawakan atau merasa aman. Barangkali ada pelajaran yang dapat membuat kita lebih berhati-hati.

Bagi saya sebagai pendidik, di sinilah literasi digital memperoleh makna yang lebih luas. Literasi bukan hanya kemampuan membaca tulisan di layar, tetapi juga memahami konteks, menilai sumber, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. UNESCO menempatkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis sebagai bagian penting dari literasi media dan informasi.

Informasi yang direnungkan dapat menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang dipahami dengan baik dapat melahirkan hikmah.

Saya tidak ingin kita menjadi manusia yang curiga kepada semua informasi.

Kita tetap membutuhkan harapan dan motivasi. Kita membutuhkan kisah orang lain yang membuat kita percaya bahwa kehidupan masih menyimpan kemungkinan baik.

Yang perlu kita jaga adalah cara kita menempatkan harapan.

Kalau ingin hidup lebih baik, mari belajar. Kalau ingin rezeki lebih luas, mari meningkatkan kemampuan dan memperbanyak ikhtiar yang halal. Kalau ingin berhasil, mari belajar dari proses orang lain, bukan hanya terpukau oleh hasil yang tampak indah di media sosial. Dan kalau menerima informasi, mari periksa sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Setelah memperoleh pengetahuan, mari bertanya kepada diri sendiri: hikmah apa yang dapat saya bawa pulang?

Kita memang tidak dapat mengendalikan semua informasi yang datang ke layar ponsel. Namun kita masih dapat memilih apa yang layak dipercaya, dibagikan, diperiksa, atau ditinggalkan.

Di tengah derasnya informasi, barangkali kemerdekaan yang paling penting adalah kemerdekaan untuk tetap menggunakan akal sehat.

Harapan tetap kita pelihara, tetapi jangan sampai ia membuat kita berhenti berpikir. Motivasi kita terima, tetapi jangan sampai ia menggantikan ilmu.

Harapan yang baik adalah harapan yang membuat kita bangkit, belajar, berikhtiar, dan terus melangkah, sembari percaya bahwa Allaah selalu mengetahui jalan terbaik bagi hamba-Nya.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Wahai Guru, Mendidiklah dengan Cinta Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universita....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Wawasan

Anak Saleh (10) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak Saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Wawasan

Pembuktian Unsur Niat Dikaitkan dengan Unsur Mens Rea dalam Tipikor Oleh: Sobirin Malian, Dose....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025

Wawasan

Muktamar dan Keberanian Memperbarui Budaya Kaderisasi Nasyiatul Aisyiyah Oleh: Tsani Itsna Ariyanti....

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

Wawasan

Mocaf: Solusi Berbasis Kearifan Lokal untuk Swasembada Pangan Oleh: Wahyu Imam Santoso, S.TP., M.P.....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah