Merdeka dari Penjajahan, Merdeka dari Syaitan dan Hawa Nafsu

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

101
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Merdeka dari Penjajahan, Merdeka dari Syaitan dan Hawa Nafsu

Oleh: Kuswaji Dwi Priyono, Ketua MPM PDM Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah

Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah perjalanan bangsa: Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kemerdekaan bukan sekadar perubahan status dari bangsa yang dijajah menjadi bangsa yang merdeka. Kemerdekaan adalah cita-cita luhur agar manusia dan bangsa mampu menentukan jalan hidupnya sendiri, berdiri dengan martabat, serta membangun kehidupan yang adil, makmur, dan beradab. Namun, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, barangkali kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah kita telah merdeka sepenuhnya?.

Secara politik dan kenegaraan, kita memang telah terbebas dari penjajahan asing. Tidak ada lagi tentara kolonial yang secara resmi menguasai tanah air. Tidak ada lagi pemerintahan Hindia Belanda yang menentukan seluruh arah kehidupan bangsa. Bendera Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri dan Indonesia berdiri sebagai negara yang berdaulat. Akan tetapi, kemerdekaan secara lahiriah belum tentu selalu diikuti kemerdekaan secara batiniah. Kita masih menyaksikan korupsi yang terus berulang. Mereka yang memiliki amanah kekuasaan justru kadang tergoda memperkaya diri. Jabatan yang seharusnya menjadi sarana pengabdian berubah menjadi kesempatan mendapatkan keuntungan pribadi. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat dapat diselewengkan demi kepentingan segelintir orang.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa penjajahan tidak selalu datang dari luar diri manusia. Ada penjajahan yang jauh lebih dekat, bahkan berada di dalam diri manusia sendiri: belenggu syaitan dan hawa nafsu. Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat mendalam mengenai hal ini. Dalam QS Al-A'raf ayat 16, Iblis menyatakan bahwa karena manusia telah tersesat, ia akan menghadang manusia dari jalan Allah. Ayat ini menggambarkan bagaimana syaitan berusaha menghalangi manusia dari jalan kebenaran. Syaitan tidak selalu datang dengan sesuatu yang tampak buruk. Ia justru dapat membungkus keburukan dengan kenikmatan, keuntungan, kekuasaan, gengsi, dan pembenaran diri.

Korupsi, misalnya, hampir tidak pernah dimulai dengan pengakuan, “Saya akan menjadi seorang koruptor.” Ia sering kali dimulai dari kompromi kecil terhadap kejujuran: menerima sesuatu yang bukan haknya, memanfaatkan fasilitas jabatan untuk kepentingan pribadi, membiarkan konflik kepentingan, kemudian membenarkan tindakan dengan alasan “semua orang juga melakukan”. Dari sinilah belenggu itu bekerja. Syaitan tidak perlu memaksa manusia. Cukup dengan membisikkan pembenaran, membangkitkan keserakahan, dan membuat manusia lupa bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

QS Al-A'raf ayat 27 juga mengingatkan bahwa syaitan dapat menyesatkan manusia sebagaimana dahulu menyebabkan Adam dan Hawa keluar dari keadaan yang baik. Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh godaan syaitan. Pesannya sangat relevan dengan kehidupan modern: musuh terbesar manusia tidak selalu tampak sebagai musuh. Penjajahan kolonial dapat dikenali. Ada tentara, senjata, bendera kekuasaan, dan struktur pemerintahan yang jelas. Karena itu, rakyat dapat bersatu untuk melawannya. Tetapi bagaimana melawan keserakahan yang bersembunyi di dalam hati? Bagaimana melawan hawa nafsu yang selalu membisikkan bahwa kekayaan lebih penting daripada kejujuran, jabatan lebih penting daripada amanah, dan kepentingan pribadi lebih penting daripada kepentingan rakyat?.

Inilah perjuangan kemerdekaan yang sesungguhnya belum selesai. Bangsa yang berhasil mengusir penjajah dari tanah air, tetapi gagal mengusir keserakahan dari dalam dirinya, sesungguhnya masih menghadapi bentuk penjajahan yang lain. Hawa nafsu dapat menjadikan manusia sebagai tawanan kekuasaan. Kekayaan dapat menjadikan seseorang tidak pernah merasa cukup. Popularitas dapat membuat manusia rela mengorbankan prinsip. Jabatan dapat membuat seseorang lupa bahwa kekuasaan pada hakikatnya adalah amanah.

Karena itu, persoalan korupsi tidak cukup hanya diselesaikan dengan memperkuat hukum dan memperberat hukuman. Hukum tetap sangat penting, tetapi bangsa ini juga membutuhkan revolusi moral. Pendidikan antikorupsi perlu berjalan bersama pendidikan kejujuran, ketakwaan, tanggung jawab, rasa malu, dan kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukan manusia, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Menariknya, QS Ali Imran ayat 155 memberikan pelajaran yang sangat penting. Allah menjelaskan bahwa sebagian orang yang berpaling dalam suatu peristiwa terjadi karena mereka telah digelincirkan oleh syaitan disebabkan sebagian perbuatan mereka. Namun, Allah juga menyatakan ampunan-Nya kepada mereka.

Ayat ini memperlihatkan dua sisi kehidupan manusia. Pertama, manusia dapat tergelincir karena pengaruh syaitan dan kelemahan dirinya. Kedua, manusia tidak boleh kehilangan kesempatan untuk kembali kepada jalan yang benar. Dalam konteks kehidupan berbangsa, pesan ini sangat penting. Kita tidak boleh memandang persoalan korupsi hanya sebagai kesalahan individu yang tertangkap. Korupsi harus dilihat sebagai gejala adanya kerusakan moral dalam sistem kehidupan. Ketika kejujuran dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja, sementara kekayaan dan kekuasaan dipuja-puja, maka sesungguhnya kita sedang membangun ruang yang subur bagi syaitan dan hawa nafsu.

Maka, memperingati kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, lomba tujuhbelasan, atau kemeriahan berbagai acara. Semua itu penting sebagai ekspresi rasa syukur dan kebangsaan. Tetapi lebih jauh, Agustus mestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar merdeka dari keserakahan?…Sudahkah kita merdeka dari kebohongan?
Sudahkah kita merdeka dari penyalahgunaan kekuasaan?…Sudahkah kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?. Sebab, betapapun kuatnya penjajahan dari luar, bangsa yang bersatu, jujur, disiplin, dan memiliki keteguhan moral akan mampu menghadapinya. Sebaliknya, penjajah yang paling kuat pun tidak perlu menguasai sebuah bangsa secara langsung apabila bangsa tersebut telah kehilangan integritas, saling berebut kepentingan, dan membiarkan korupsi merajalela.

Dengan kata lain, bangsa yang merdeka dari dalam dirinya akan jauh lebih kuat menghadapi ancaman dari luar. Kemerdekaan hakiki dengan demikian bukan sekadar bebas dari kekuasaan bangsa lain. Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. Ia tidak diperbudak oleh uang, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan kesenangan sesaat. Ia tunduk kepada Allah, tetapi justru karena ketundukannya kepada Allah itulah ia terbebas dari berbagai bentuk perbudakan duniawi.

Dalam perspektif Islam, manusia memang diciptakan untuk menjadi hamba Allah. Tetapi menjadi hamba Allah bukanlah kehinaan. Sebaliknya, itulah jalan menuju kemerdekaan sejati. Ketika seseorang hanya takut kepada Allah, ia tidak mudah tunduk kepada kepentingan pribadi, tekanan kekuasaan, atau godaan materi. Maka, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini, kiranya kita perlu memperluas makna kemerdekaan. Para pahlawan telah berjuang membebaskan negeri ini dari penjajahan fisik. Tugas generasi sekarang adalah melanjutkan perjuangan dengan membebaskan bangsa dari penjajahan korupsi, keserakahan, kebohongan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan amanah.

Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan para pahlawan berhenti hanya sebagai cerita sejarah. Mereka telah berjuang agar kita tidak menjadi bangsa yang dijajah oleh manusia. Sekarang, tugas kita adalah memastikan bahwa bangsa ini tidak menjadi bangsa yang dijajah oleh keserakahan manusia itu sendiri. Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti mampu memilih yang benar ketika memiliki kesempatan melakukan yang salah. Merdeka berarti mampu mengatakan tidak terhadap suap ketika orang lain menganggapnya biasa. Merdeka berarti berani menjaga amanah ketika kesempatan memperkaya diri terbuka lebar. Merdeka berarti memiliki kekuasaan tetapi tidak diperbudak oleh kekuasaan itu sendiri.

Karena itu, Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang merdeka secara lahir dan batin: merdeka dari penjajahan asing sekaligus merdeka dari belenggu syaitan dan hawa nafsu. Jika kemerdekaan itu berhasil kita bangun, maka korupsi tidak hanya akan dilawan dengan aparat penegak hukum, tetapi juga dengan hati nurani. Kekuasaan tidak hanya dikontrol oleh lembaga negara, tetapi juga oleh rasa takut kepada Allah. Amanah tidak hanya dijaga karena ada aturan, tetapi karena ada kesadaran bahwa setiap perbuatan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Inilah barangkali makna kemerdekaan yang perlu kita renungkan kembali di setiap bulan Agustus. Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga Merah Putih tidak hanya berkibar di langit negeri ini, tetapi juga berkibar di dalam hati setiap anak bangsa sebagai simbol keberanian, kejujuran, persatuan, dan amanah. Sebab pada akhirnya, tidak ada gunanya kita terbebas dari penjajahan bangsa lain jika kita masih menjadi tawanan syaitan dan hawa nafsu. Sebaliknya, selama kita mampu membebaskan diri dari belenggu syaitan, keserakahan, dan hawa nafsu, insyaallah seberat apa pun belenggu yang datang dari luar akan mampu kita hadapi bersama. Kemerdekaan Indonesia harus terus diperjuangkan: dari penjajahan tanah air menuju kemerdekaan jiwa, dari kebebasan politik menuju kedaulatan moral, dan dari sekadar merdeka sebagai bangsa menuju merdeka sebagai manusia yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pensiun: Bukan Akhir, Tapi Awal yang Lain Oleh: Ahsan Jamet Hamidi/Ketua Ranting Muhammadiyah Legos....

Suara Muhammadiyah

12 April 2025

Wawasan

Halal Bihalal Rektor UMRI: Menyulam Silaturahmi, Meneguhkan Ikhlas, dan Membangun Sinergi Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

8 April 2025

Wawasan

Pengembangan Bisnis Muhammadiyah Oleh: Saidun Derani Berbisnis itu adalah kegiatan di mana seseora....

Suara Muhammadiyah

28 May 2024

Wawasan

Pemakmuran Masjid dan Musala dengan Moderasi dalam BerislamOleh: Mohammad Fakhrudin Boleh jadi fakt....

Suara Muhammadiyah

16 October 2025

Wawasan

Cara Memandang Kematian dan Akhirat Oleh: Rusydi Umar, Dosen S2 Informatika Universitas Ahmad Dahla....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah