YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menurut Haedar Nashir, mengembangkan sektor ekonomi dan bisnis tidak sama seperti mengembangkan rumus matematika yang untuk mencariannya harus berpatokan pada aksioma, definisi, serta teorema yang sudah ada. Bisnis dan ekonomi berbeda. Di Hotel UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) ia mengibaratkan aktivitas bisnis dan ekonomi sama seperti orang yang belajar berenang. Semakin ia tenggelam dalam teori-teori yang rumit, di titik itu pula aktivitas bisnis dan ekonomi yang digarap akan sulit menemukan ruang ekspansinya.
“Berbisnis itu tinggal dipraktekkan saja, jangan banyak teori,” ujarnya saat memberikan amanat dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Berkaca kepada sosok Abdurahman Bin Auf. Salah seorang sahabat Nabi yang memiliki naluri bisnis yang sangat tajam. Sesampainya di Madinah ketika melakukan hijrah bersama Rasulullah saw, ia minta tolong kepada penduduk Madinah untuk ditunjukkan dimana lokasi pasar. Setibanya di pasar, tanpa banyak berpikir, ia langsung terjun menjadi pelaku ekonomi di sana. Hingga akhirnya ia menjadi seorang saudagar Muslim kaya raya di Madinah. Dengan aset kekayaan mencapai 72 triliun jika dikonversi ke mata uang rupiah.
“Ini adalah salah satu contoh dari berekonomi dan berbisnis,” tuturnya.
Tidak hanya itu. Dalam mengelola bisnis pariwisata, Haedar berpesan kepada lembaga yang baru berusia satu tahun tersebut untuk tidak terlalu banyak pendapat. Namun yang perlu terus diperbanyak adalah pendapatan. Mulai dari menyusun langkah-langkah strategis, membangun sarana dan pra sarana, dan menyiapkan tenaga profesinal sebagai ikhtiar mewujudkan ekosistem pariwisata terpada dan berkemajuan.
Berbicara soal ekosistem bisnis, khususnya di sektor pariwisata. Muhammadiyah sejatinya telah memiliki ekosistem tersendiri, mulai dari jaringan ranting, cabang, amal usaha pendidikan, AUM kesehatan, perguruan tinggi, AUM Sosial, dan masih banyak lagi lainnya. Ketersedian ekosistem inilah yang perlu terus dikembangkan dan dimaksimalkan potensinya melalui jalur kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak. Haedar mengusulkan tentang bagaimana caranya menyatukan masjid Gedhe, langgar dan makam Kiai Dahlan, kampung Kauman, serta museum Muhammadiyah menjadi satu paket ekosistem pariwisata yang menarik dan diminata wisatawan.
Untuk sampai pada tahap itu, Guru Besar Sosiologi UMY tersebut memberikan saran dan masukan, perlu adanya sistem ticketing yang profesinal. Sehingga dalam penyediaan tiket wisata, Muhammadiyah tidak lagi bergantung kepada pihak luar.
Pergi ke tempat-tempat wisata, baginya bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga menjadi wahana untuk refleksi, berkontemplasi, menjadi ruang belajar memaknai kehidupan, bahwa hidup memiliki arti yang luas, baru, segar dan lebih inti.
Merespon hal-hal itu, Haedar mendorong LPEK PP Muhammadiyah dapat mendesain pariwisata Muhammadiyah yang mampu menghadairkan perjalanan wisata yang bermakna, memuat nilai-nilai edukatif yang mencerahkan bagi setiap wisatawan.
“Kuncinya adalah profesional,” ujarnya.
Berbicara ekonomi kreatif yang masih menjadi satu bidang garapan LPEK, Haedar mengatakan perlu adanya proses kreatif agar tidak kembali meniru bisnis-bisnis yang sudah ada. Walaupun meniru, Haedar menegaskan adanya inovasi agar produk atau jasa yang hadirkan oleh Muhammadiyah memiliki kekhasannya tersendiri. “Jangan terlalu overlap (tumpang tindih) dengan kegiatan-kegiatan ekonomi yang lain karena itu sudah dilakukan oleh Majelis Ekonomi dan Bisnis. LPEK ini mau garap apa?” jelasnya.
Di akhir paparannya, ia berharap, Silatnas LPEK PP Muhammadiyah dapat menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan tentang ekonomi dan bisnis yang kemudian diramu menjadi formula bisnis yang kreatif, memiliki kebaruan, serta mengandung nilai-nilai Islam berkemajuan. (diko)

