NGAWI, Suara Muhammadiyah – Pada tahun 1965, Lee Kuan Yew, Mantan Perdana Menteri Singapura, dibuat gundah gulana dengan kondisi negaranya. Di mana sungainya keruh, orang-orang berpakaian kumuh, bahkan sukar menemukan anak-anak yang tersenyum.
Lee Kuan Yew berupaya menyelesaikan problema krusial tersebut. “Membangun cara pandang (mindset), cara berpikir, cara merasa dari rakyatnya,” kata Muhammad Saad Ibrahim. Untuk melakukannya, Lee Kuan Yew mencontoh negara Swiss.
“Ia pelajari sungainya relatif jernih, pohon-pohonnya rindang-rindang, orang-orangnya berpakaian bagus-bagus, bahkan anak-anak juga penuh dengan senyum,” terang Saad.
Memasuki milenium ketiga (2000), masyarakat Singapura merayakan keberhasilan perjuangan panjang Lee Kuan Yew untuk mentransformasikan kondisi lingkungan setempat.
“Lee Kuan Yew menerbitkan kartu pos dengan gambar sungai yang jernih, pohon yang rindang, orang-orang berpakaian bersih, dan anak-anak penuh senyum,” sebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, Sabtu (7/3) dalam Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi di Islamic Center Muhammadiyah Ngawi Mororejo, Grudo, Ngawi, Jawa Timur.
Apa yang dilakukan Lee Kuan Yew, berimplikasi dengan pendeskripsian Tuhan dalam Al-Qur’an yang maujudnya sebagai surga. “Sunga-sungainya tentu jernih. Bahkan hebatnya ada sungai yang kemudian airnya diminum dan terasa seperti susu. Ada yang madu, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Menggambarkan kondisi surga yang lainnya, yakni berupa pakaian penghuni surga juga amat indah. Demikian halnya dengan anak-anak kecil yang penuh dengan senyuman.
“Maknanya secara teologis, karena ia (Lee Kuan Yew) tidak mengambil dari Qur’an, tapi secara tidak langsung ia berusaha mewujudkan surga itu di bumi sesuai kadar kemampuan manusia,” ujarnya.
Demikian dengan Nabi Adam, sebelum diturunkan dari surga ke bumi, beliau ditempatkan di surga. “Supaya mindsetnya diasuh oleh lingkungan yang serba lebih keindahannya, kesejukannya, ketenteramannya,” kata Saad.
Ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam sudah punya pengalaman dan mindset yang kuat saat menjalani kehidupan di bumi. “Bekal pengalamannya tidak bisa kita rasakan karena tidak diwariskan. Tapi, mindsetnya tentang surga itu diwariskan secara psikis genetik (kita mewarisi),” jelasnya.
Karena itu maka, manusia punya sensitivitas terhadap kondisi lingkungan. “Tidak enak kalau sebuah kawasan penuh sampah, kalau tidak indah,” ungkapnya. Bahkan, untuk kawasan yang gersang sekalipun, dirasakan sangat tidak memberikan ketenteraman untuk lingkungan sekitar.
“Tapi kawasan yang ekologinya terjaga dengan baik, memberikan perasaan tentang surga,” imbuhnya. Di sinilah Saad mendorong umat Islam harus mewujudkan surga di bumi.
“Tentu sebagai khalifah bumi kita diberikan sebagian kekuasaan Allah untuk mengelola bumi. Jangan melakukan kerusakan di muka bumi,” pungkasnya.
Bersamaan dengan itu, Saad juga mengaksentuasikan perlunya mentransformasikan paradigma terhadap lingkungan berbasis pada nilai-nilai keimanan, sehingga upaya menjaga alam bernilai pahala di akhirat. (Cris)
