Mewujudkan Surga di Bumi, Mandataris Manusia sebagai Khalifah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
491
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

NGAWI, Suara Muhammadiyah – Pada tahun 1965, Lee Kuan Yew, Mantan Perdana Menteri Singapura, dibuat gundah gulana dengan kondisi negaranya. Di mana sungainya keruh, orang-orang berpakaian kumuh, bahkan sukar menemukan anak-anak yang tersenyum.

Lee Kuan Yew berupaya menyelesaikan problema krusial tersebut. “Membangun cara pandang (mindset), cara berpikir, cara merasa dari rakyatnya,” kata Muhammad Saad Ibrahim. Untuk melakukannya, Lee Kuan Yew mencontoh negara Swiss.

“Ia pelajari sungainya relatif jernih, pohon-pohonnya rindang-rindang, orang-orangnya berpakaian bagus-bagus, bahkan anak-anak juga penuh dengan senyum,” terang Saad.

Memasuki milenium ketiga (2000), masyarakat Singapura merayakan keberhasilan perjuangan panjang Lee Kuan Yew untuk mentransformasikan kondisi lingkungan setempat.

“Lee Kuan Yew menerbitkan kartu pos dengan gambar sungai yang jernih, pohon yang rindang, orang-orang berpakaian bersih, dan anak-anak penuh senyum,” sebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, Sabtu (7/3) dalam Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi di Islamic Center Muhammadiyah Ngawi Mororejo, Grudo, Ngawi, Jawa Timur.

Apa yang dilakukan Lee Kuan Yew, berimplikasi dengan pendeskripsian Tuhan dalam Al-Qur’an yang maujudnya sebagai surga. “Sunga-sungainya tentu jernih. Bahkan hebatnya ada sungai yang kemudian airnya diminum dan terasa seperti susu. Ada yang madu, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Menggambarkan kondisi surga yang lainnya, yakni berupa pakaian penghuni surga juga amat indah. Demikian halnya dengan anak-anak kecil yang penuh dengan senyuman.

“Maknanya secara teologis, karena ia (Lee Kuan Yew) tidak mengambil dari Qur’an, tapi secara tidak langsung ia berusaha mewujudkan surga itu di bumi sesuai kadar kemampuan manusia,” ujarnya.

Demikian dengan Nabi Adam, sebelum diturunkan dari surga ke bumi, beliau ditempatkan di surga. “Supaya mindsetnya diasuh oleh lingkungan yang serba lebih keindahannya, kesejukannya, ketenteramannya,” kata Saad.

Ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam sudah punya pengalaman dan mindset yang kuat saat menjalani kehidupan di bumi. “Bekal pengalamannya tidak bisa kita rasakan karena tidak diwariskan. Tapi, mindsetnya tentang surga itu diwariskan secara psikis genetik (kita mewarisi),” jelasnya.

Karena itu maka, manusia punya sensitivitas terhadap kondisi lingkungan. “Tidak enak kalau sebuah kawasan penuh sampah, kalau tidak indah,” ungkapnya. Bahkan, untuk kawasan yang gersang sekalipun, dirasakan sangat tidak memberikan ketenteraman untuk lingkungan sekitar.

“Tapi kawasan yang ekologinya terjaga dengan baik, memberikan perasaan tentang surga,” imbuhnya. Di sinilah Saad mendorong umat Islam harus mewujudkan surga di bumi.

“Tentu sebagai khalifah bumi kita diberikan sebagian kekuasaan Allah untuk mengelola bumi. Jangan melakukan kerusakan di muka bumi,” pungkasnya.

Bersamaan dengan itu, Saad juga mengaksentuasikan perlunya mentransformasikan paradigma terhadap lingkungan berbasis pada nilai-nilai keimanan, sehingga upaya menjaga alam bernilai pahala di akhirat. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) genap berusia 61 tahu....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Materi pertama pada acara Ideopreneurship/Baitul Arqom pada tanggal....

Suara Muhammadiyah

29 September 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Banyak orang salah kaprah dalam mengartikan tujuan pembelajaran, di ma....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Menggelar Upacara Harijadi Ke-65....

Suara Muhammadiyah

25 October 2023

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 155 SMK Muhammadiyah se-Jawa Tengah melakukan penandatangana....

Suara Muhammadiyah

30 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah