Milad IMM ke-62 dan Ramadhan
Penulis: Izzul Khaq, Kader IMM Jawa Tengah
Enam puluh dua tahun sudah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri. Angka ini bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan timbangan sejarah bagi perjalanan panjang gerakan kader Muhammadiyah di ranah mahasiswa. Dalam rentang lebih dari enam dekade itu, IMM telah melahirkan banyak intelektual, aktivis sosial, dan pemimpin publik yang memberi warna pada kehidupan bangsa.
Namun setiap milad bukan hanya ruang perayaan. Ia juga ruang refleksi yang jujur, sejauh mana gerakan ini tetap setia pada khittahnya sebagai organisasi kader yang memadukan religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.
Tulisan Kanda Akmal Ahsan di Suara Muhammadiyah baru-baru ini menghadirkan kegelisahan yang patut direnungkan bersama. Ia mengingatkan bahwa IMM berisiko terjebak dalam “formalitas ideologis” dan syahwat “gerakan posisi.” Struktur organisasi semakin diagungkan, sementara misi sosialnya perlahan memudar.
Tepat pada Milad ke-62 ini, takdir sejarah mempertemukan IMM dengan bulan Ramadhan. Pertemuan ini bukan sekadar kebetulan administratif dalam kalender organisasi. Ramadhan hadir sebagai semacam interupsi spiritual, sebuah jeda yang mengajak kita meninjau ulang arah perjalanan gerakan.
Barangkali tanpa disadari, laku organisasi kita telah menjadi terlalu elitis, terlalu birokratis, dan semakin jauh dari mereka yang berada di pinggiran (kaum mustad’afin).
Membongkar Berhala Struktur
Kegelisahan tentang “formalitas ideologis” bukanlah tuduhan tanpa dasar. Dalam banyak ruang organisasi, kita sering menyaksikan bagaimana energi kader terserap pada perebutan posisi, legitimasi struktural, dan kalkulasi politik jangka panjang. Struktur yang seharusnya menjadi alat perjuangan perlahan berubah menjadi tujuan itu sendiri.
Akibatnya, organisasi lebih sibuk mengurus ritus administratif daripada menghidupkan misi sosialnya. Diskusi-diskusi ideologis sering berakhir sebagai pengulangan slogan, bukan sebagai energi yang mendorong gerakan nyata.
Kita fasih mengucapkan semboyan “Cendekiawan Berpribadi.” Namun sering kali gagap ketika harus turun langsung ke lapangan, mendampingi petani yang lahannya terancam, nelayan yang tercekik utang modal, atau masyarakat yang kehilangan ruang hidup akibat kerusakan ekologis.
Jika almarhum Said Tuhuleley masih bersama kita, mungkin beliau akan mengingatkan dengan kalimat sederhana namun menohok:
"Apa gunanya jas merahmu yang mentereng itu kalau tidak pernah terkena keringat rakyat?”
Kalimat imajinatif itu mengandung pesan mendalam. Hakikat IMM tidak terletak pada kemegahan forum atau kecanggihan retorika kadernya, melainkan pada ketajaman sensitivitas kemanusiaan yang dimilikinya.
Ideologi yang hanya dihafal tetapi tidak dipraktikkan akan membeku menjadi slogan. Dalam kondisi seperti itu, ideologi justru berubah menjadi “berhala baru” yang menutupi wajah asli perjuangan. Momentum Ramadhan seharusnya menjadi kesempatan untuk membongkar berhala struktur tersebut.
Ramadhan dan Teologi Lapar
Ramadhan tidak hanya mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga menghadirkan teologi lapar. Setiap hari kita merasakan lapar dan dahaga hingga matahari terbenam. Namun lapar itu bersifat sementara, ia berakhir dengan segelas air dan sepiring takjil.
Di luar sana, jutaan orang mengalami lapar yang berbeda, lapar yang permanen, lapar yang lahir dari ketimpangan ekonomi, dari sistem yang tidak adil, dari kebijakan yang sering kali tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Ramadhan seharusnya membuka kesadaran sosial kita bahwa ibadah tidak berhenti pada dimensi spiritual, tetapi harus berlanjut pada dimensi sosial. Di sinilah IMM perlu membaca kembali jati dirinya.
Jika Muhammadiyah dikenal dengan konsep dakwah bil hal—dakwah melalui tindakan nyata. Maka IMM sebagai organisasi kader seharusnya menjadikan prinsip ini sebagai napas gerakannya.
IMM tidak cukup menjadi pressure group yang hanya bersuara keras di ruang demonstrasi atau diskusi akademik. Ia harus menjadi motor pemberdayaan yang bekerja bersama masyarakat di tingkat akar rumput.
Tanpa kerja sosial yang nyata, organisasi hanya akan berubah menjadi Event Organizernkegiatan seremonial. Ramadhan mengingatkan kita untuk kembali kepada khittah kemanusiaan tersebut.
Religiusitas tanpa keberpihakan sosial hanya akan melahirkan kesalehan individual. Padahal ruh gerakan Muhammadiyah selalu menekankan kesalehan sosial sebagai ekspresi iman yang sejati.
Menjemput Hakikat di Luar Ruang Sidang
Pertanyaan terbesar bagi IMM hari ini adalah: bagaimana mencegah ideologi agar tidak membeku?
Jawabannya mungkin sederhana, tetapi sering kali kita lupakan, "kembali ke lapangan". Ideologi akan tetap hidup jika terus berinteraksi dengan realitas sosial. Ia akan berkembang ketika diuji oleh pengalaman nyata, bukan sekadar diperdebatkan dalam ruang sidang.
Karena itu, kader IMM perlu memperluas cara membaca realitas. Membaca buku memang penting—bahkan seperti pesan Prof. Haedar Nashir, kita dianjurkan membaca buku-buku yang mungkin “menyesatkan” agar kita tahu di mana letak kesesatannya.
Namun membaca buku saja tidak cukup. Kita juga harus belajar membaca penderitaan rakyat. Buku memberi kita perspektif. Realitas sosial memberi kita empati. Keduanya harus bertemu dalam tindakan. IMM membutuhkan kader yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan sosial, tetapi juga berani terlibat langsung di dalamnya.
Kita membutuhkan kader yang bersedia menjadi insinyur sosial di desa-desa, membantu masyarakat membangun ekonomi kolektif. Kita membutuhkan kader yang mau menjadi guru bagi anak-anak jalanan, membuka akses pendidikan bagi mereka yang terpinggirkan.
Kita juga membutuhkan kader yang berani berdiri di garis depan melawan kerusakan ekologis yang mengancam kehidupan masyarakat. Di sanalah ideologi menemukan bentuk nyatanya.
Ramadhan sebagai Madrasah Gerakan
Milad IMM ke-62 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik. Ia harus menjadi madrasah gerakan yang mengajarkan kesederhanaan, kepekaan sosial, dan keberanian moral.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri dari keserakahan. Dalam konteks organisasi, ini berarti menahan diri dari syahwat posisi dan ambisi kekuasaan yang berlebihan.
Sebaliknya, Ramadhan mengajak kita untuk memperkuat etos pengabdian. IMM harus kembali memposisikan dirinya sebagai gerakan kader yang berpihak pada kemanusiaan. Struktur organisasi tetap penting, tetapi ia hanya alat—bukan tujuan. Tujuan sejatinya adalah menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Jika hakikat IMM adalah religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, maka ketiga nilai tersebut harus bermuara pada satu titik kemanusiaan yakni pembelaan terhadap kaum yang lemah.
Ikrar yang Harus Dijaga
Di usia ke-62 ini, IMM berdiri di persimpangan sejarah. Ia bisa terus terjebak dalam formalitas struktural, atau memilih kembali kepada khittah perjuangannya.
Ramadhan memberi kita kesempatan untuk memilih jalan kedua. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk mencairkan kebekuan ideologi, membongkar berhala struktur, dan menghidupkan kembali semangat pengabdian sosial.
Selamat Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Mari kita teguhkan satu ikrar sederhana, selama masih ada rakyat yang tertindas oleh ketidakadilan, selama masih ada petani yang kehilangan tanahnya, selama masih ada masyarakat yang tersingkir dari ruang hidupnya. Maka selama itu pula kader IMM tidak boleh tidur nyenyak di atas empuknya kursi jabatan.
Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.
