BANTUL, Suara Muhammadiyah - Kemadjoean Resto di Pantai Laguna, Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul memasuki milad pertama. Tentu momentum ini niscaya membersitkan secercah inspirasi baru dalam mengepakan sayap bisnis kuliner ke depannya.
"Bisnis restoran ini bukan menjadi bagian dan tradisi di Muhammadiyah. Bisnis ini masih langka. Maka, Suara Muhammadiyah mencoba untuk menginisiasi wajah baru bagaimana kita bisa menghadirkan bisnis yang berbeda, salah satunya Kemadjoean Resto ini," kata Deni Asy'ari.
Pokok pangkalnya terletak pada orientasi pengembangan konsep dakwah ekonomi. Lebih-lebih di cabang kuliner, "Menjadi tren baru di Persyarikatan Muhammadiyah untuk mengembangkan bisnis restoran di mana-mana," beber Deni. Di sinilah titik utamanya pelebaran denyut nadi bisnis kuliner tersebut.
"Setelah Kemadjoean Resto di Bantul, Pacitan, dalam waktu dekat, Suara Muhammadiyah juga akan membuka restoran yang kelas premium," ungkapnya, dengan manifestasi restoran Minang. "Di Yogyakarta, mudah-mudahan bisa kita resmikan tahun ini," ujarnya.

Hal tersebut merupakan pantulan diversifikasi bisnis Persyarikatan Muhammadiyah. "Inilah tujuan dari Kemadjoean Resto," demikian Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media Suara Muhammadiyah tersebut menyingkap saat Resepsi Milad Pertama Kemadjoean Resto, Sabtu (31/1).
Di samping itu, Kemadjoean Resto di Laguna sebagai aktualisasi dari kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan stakeholder setempat. Di sinilah relevansi kolaborasi yang amat dibutuhkan di era sekarang.
"Ini bukan soal kemampuan personal, tetapi kemampuan kolaborasi. Kami bersyukur ada kepercayaan yang diberikan kepada kami. Sehingga kehadiran Muhammadiyah untuk mengembangkan ekonominya tidak hanya dirasakan Muhammadiyah, tapi juga masyarakat sekitar," tegasnya.

Di situlah akar tunjang Kemadjoean Resto hadir. Pada saat yang sama, Deni mendorong agar hadir titik-titik baru Kemadjoean Resto di daerah-daerah lainnya.
Di lain sisi, momentum milad Kemadjoean Resto Laguna ini, menjadi kontemplasi terkait ekosistem bisnis kontemporer. Diakuinya, bisnis saat ini sarat kompleksitas dan tantangan yang menggurita.
"Tidak ada bisnis yang mudah. Tidak ada bisnis yang sukses. Tetapi, inilah ujian bagi seorang pebisnis," singkapnya.

Diakui Deni, banyak para pebisnis tumbang di tahun pertama saat menjalankan bisnis (tidak sesuai ekspektasi). Padahal, menurut Deni, kegagalan itu hanya matarantai dan rangkaian anak tangga menuju jalan kesuksesan.
"Banyak orang tidak kuat dan tidak sabar di dalam proses menaiki jenjang anak tangga itu. Padahal, keberhasilan itu sesungguhnya akumulasi dari kegagalan. Tidak ada orang yang membuka usaha, bisnis, ujug-ujug langsung ada. Harus melewati anak tangga. Dan itulah yang kita alami dalam merintis bisnis," tegasnya lagi.

Implikasi dari milad pertama Kemadjoean Resto Laguna. Dalam konteks menjalankan bisnis kuliner, musykil berlaku hukum bim salabim. Mesti bertungkus lumus mengerahkan seluruh pasokan tenaga, sampai kemudian menemukan jalannya menuju keberhasilan.
"1 tahun belum bisa mencerminkan ini berhasil. Tapi paling tidak, 1 tahun ini menguji mental, emosi, karakter kita, apakah kita siap untuk masuk dalam arena bisnis yang penuh tantangan dan pertaruhan?", tandasnya. (Cris)

