BENER MERIAH, Suara Muhammadiyah – Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (MKS-PWA) Aceh menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi fisik dan mental lansia terdampak bencana dengan melaksanakan kegiatan pelatihan dukungan psikososial bagi lansia dan difabel di Uning Teritit, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (30/1/2026).
Kesehatan mental para lansia sering kali menjadi isu yang luput dari perhatian. Sebagai kelompok rentan, lansia dihadapkan pada berbagai tantangan psikologis, salah satunya menghadapi fenomena empty nest syndrome atau sindrom sarang kosong.
Tidak sedikit dari mereka yang terkena sindrom ini merasakan kesepian saat anak-anak mereka merantau. Mereka pun mengalami krisis identitas, muncul gangguan tidur, perubahan nafsu makan, hingga berbagai gejala fisik lainnya akibat dampak psikologis,” kata Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Bener Meriah, Halimah.
Peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan psikososial berjumlah 40 orang. “Kegiatan lansia ini ada dua, satu kelas lansia dari PPA daycare. Kegiatannya sering digabungkan, walaupun tidak semua peserta mendapatkan materi kelas lansia,” jelasnya.
Sebelumnya telah dilakukan pengamatan yang memperlihatkan banyak lansia cenderung menjadi lebih pendiam dan kehilangan semangat setelah anak-anak mereka tidak lagi tinggal serumah. Kondisi ini membuat para lansia merasa kesepian, kurang memiliki teman berbagi, dan kehilangan peran dalam keseharian mereka.
Halimah menjelaskan lagi, “Kegiatan penguatan daycare lansia sudah direncanakan sejak bulan November 2025 lalu. Namun, karena terjadinya musibah banjir dan tanah longsor, baru dapat terlaksana hari ini bersamaan dengan pelatihan psikososial, mengingat waktu yang sangat singkat.
“Kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus ‘Aisyiyah yang hadir pada pagi hari ini. Selamat datang di kota yang berhawa sejuk ini,” imbuhnya.
MKS-PWA Aceh yang diwakili oleh Eulisa Fajriana beserta Mursyidah menjelaskan, setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan para peserta dapat mengatasi rasa cemas, rasa takut yang berlebihan, resah, sulit berkomunikasi, serta kecenderungan menjauh dari lingkungan sekitar.
Eulisa Fajriana juga menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan mengatasi masalah psikologis seperti kesepian, kecemasan, dan penurunan kemampuan kognitif.
Mursyidah mewakili PWA-MKS Aceh memperkenalkan program ini serta memperkenalkan dua narasumber dengan harapan peserta dapat mengikutinya dengan baik.
Berbagai materi dan media psikoedukasi ini telah melalui uji kelayakan terlebih dahulu melalui diskusi dan konsultasi. Seluruh konten materi divalidasi oleh para ahli psikologi, termasuk pembimbing yang merupakan pakar psikologi lansia, serta lembaga profesional.
Sosialisasi program dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan secara tatap muka yang meliputi pengenalan konsep, cara menggunakan media, dan panduan fasilitasi yang terangkum dalam buku pedoman.
Pelatihan diawali dengan pemaparan materi Psychological First Aid (PFA) oleh Ibu Maria Ulfa, lalu dilanjutkan dengan praktik mendengarkan aktif dan terapi reminiscence. Materi kedua membahas dasar psikososial dengan praktik melipat kertas. Acara diakhiri dengan materi rehabilitasi sosial pada lansia dan difabel oleh Ibu Marsela Zein.
Ia mengakui kurang menariknya kegiatan dalam komunitas sering kali memang belum menyentuh kebutuhan emosional para lansia. Bahkan, hal tersebut memunculkan keengganan dari mereka untuk bergabung dalam komunitas. “Kegiatan-kegiatan terbatas, kebanyakan hanya penyuluhan kesehatan fisik, dan belum bisa menjadi media interaktif untuk mengupas perasaan yang dialami para lansia. Hal ini mungkin yang menjadikan para lansia memilih memendam perasaan.”
Di akhir kegiatan, acara ditutup dengan pembagian hadiah dan foto bersama. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan hiburan dan menjadi alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi lansia dan difabel di Desa Uning Teritit, Bener Meriah, yang terdampak bencana banjir dan longsor. (Agusnaidi B/Riz/Ha)

